Minggu, 16 Januari 2011

Optimisme Ekonomi Kreatif

Oleh : Hendri Rahman*
Kekayaan sumber daya alam yang melimpah, keragaman suku, etnis dan budaya yang tersebar di bumi pertiwi ini, sejatinya merupakan potensi luar biasa bagi Indonesia dalam kontestasi ekonomi global saat ini.

Hal ini kian menarik saat muncul pergeseran tren dari ekonomi industri menuju ekonomi kreatif. Indonesia pun sesungguhnya bisa bersaing dengan negara-negara lain. Sumber utama industri kreatif tersedia banyak di negeri kita. Tentu, sebuah industri kreatif membutuhkan keterampilan, inovasi dan bakat guna membuka akses atas kesejahteraan dan lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan pemanfaatan kreasi yang memiliki pasar pertukaran.

Ekonomi kreatif ini optimis bisa menjawab tantangan mendasar jangka pendek dan menengah. Tentu kita menyadari sejumlah tantangan nyata menghadang kita. Pertama, relative rendahnya pertumbuhan ekonomi pasca krisis yakni hanya rata-rata 4.5 persen per tahun. Kedua masih tingginya pengangguran yang berkisar antara 9-10 persen. Ketiga, tingginya tingkat kemiskinan yakni 16-17% . Terakhir, secara faktual daya saing industri di Indonesia masih sangat rendah.

Kontribusi ekonomi kreatif pada tahun 2009 menyumbang 7,6 persen Produk Domestik Bruto (PDB). Hal ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 7,28 persen. Peluang ini merupakan sinyal positif bahwa ekonomi kreatif dapat menjadi salah satu solusi stagnasi ekonomi bangsa ini. Saat inmi, perkembangan ekonomi kreatif baru berkembang pesat di beberapa kota besar saja. Gairah ekonomi kreatif ini banyak distimulasi oleh kaum muda yang menjadikan baju, film, animasi, musik, software, game dan lain-lain sebagai basis produk ekonomi kreatif. Kerapkali ruang ekspresi ekonomi kreatif ini memberi reputasi yang baik dan mengglobal dari para pelakunya.
Ada lima hal penting dalam menunjang industri kreatif. Pertama, kualitas dan kuantitas pengembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Sehingga, banyak masyarakat yang kian berdaya dari sisi pengetahuannya. Kedua, sebuah iklim politik dan sosial yang kondusif. Misalnya mewujud dalam sistem administrasi negara yang rapih, serta berbagai regulasi yang mendukung bukan menghambat. Ketiga, penghargaan pada insan-insan pelaku industri kreatif, sehingga memberi rangsangan untuk terus berkarya. Kelima, pengembangan akses teknologi komunikasi guna memperlancar proses pertukaran informasi, pengetahuan dan pengalaman. Keenam, dukungan finansial bagi pelaku industri kreatif misalnya memudahkan proses peminjaman modal dari bank.
Melalui sinergi antara kepentingan pemerintah dan masyarakat yang terus-menerus, maka bisa membantu krisis ekonomi Indonesia saat ini dan ke depan. Tanpa kerjasama yang kuat, maka ekonomi kreatif hanyalah angan-angan belaka. Oleh karenanya, pemahaman akan keanekaragaman budaya patut dilihat dan dimanfaatkan sebagai potensi untuk inovasi serta kreativitas.

Kemajuan Indonesia sangat bergantung pada para pelaku industri kreatif. Mereka hadir tanpa basa-basi dan menunjukkan bahwa mereka bisa mengurai benang kusut ekonomi bangsa ini. Tentu, optimisme ini harus dibarengi dengan tindakan nyata para pelaku, untuk menjadikan ekonomi kreatif yang biasa-biasa saja itu menjadi luar biasa.

*Penulis adalah Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam, Fidkom UIN Jakarta

0 comments:

Posting Komentar