Rabu, 20 Oktober 2010

Refleksivitas politik

Oleh : Hendri Rahman

Mengapa terjadi sebuah kecenderungan gambaran yang negatif dan penuh polemik dalam refleksi politik SBY . Memakai analisis Anthony Giddens dengan teori refleksivitas dan modernitas dalam memandang karakter politik,terdapat beberapa alasan diantaranya :

pertama, karena kesalahan dalam perencanaan politik, Kedua, adalah kegagalan individu, Namun Giddens memberikan peran utama pada dua faktor lain yaitu dari akibat tak diharapkan dan refleksitas pengetahuan sosial. Artinya, konsekuensi dari tindakan untuk sebuah sistem tak pernah dapat diramalkan sepenuhnya dan pengetahuan baru terus-menerus memberangkatkan sistem menuju kearah baru. Mengutip perkataan Anthony Giddens Refleksitas mengacu pada dugaan bahwa individu dan masyarakat digambarkan tidak hanya dengan sendirinya tetapi berhubungan satu sama lain yang secara terus menerus menggambarkan diri mereka lewat aksi reaksi dan informasi baru.
Politik refleksivitas mempunyai arti khusus, dimana “praktik sosial politik terus menerus diuji dan di ubah berdasarkan informasi yang baru masuk yang paling praktis, dan dengan demikian mengubah ciri karakter dan penampilan politik tersebut”.

Giddens mendefinisikan dunia poilitk sebagai dunia refleksi dan ia menyatakan “refleksivitas politilk meluas hingga ke inti diri, kedirian menjadi sebuah proyek refleksif”. Artinya, diri menjadi sesuatu yang direfleksikan, diubah, dan dibentuk. Tak hanya individu bertanggung jawab untuk menciptakan dan memelihara kedirian, tetapi tanggung jawab ini pun berlanjut dan mencakup semuanya. Diri adalah produk dari eksplorasi dan produk dari perkembangan hubungan sosial yang intim. Perubahan aspek keintiman kehidupan pribadi berkaitan langsung dengan kemapanan hubungan sosial yang paling luas cakupannya.

Oleh karena itu antara diri dan masyarakat mempunyai hubungan dalam lingkungan global. Refleksi pemerintahan SBY, diharapkan mampu melahirkan pengetahuan sosial sebagai akibat aksi dan reaksi terhadap beberapa informasi yang baru, sehingga pencitraan diri yang direfleksi tersebut dapat diubah dan dibentuk kembali, yang lebih mengarah kepada keintiman hubungan sosial yang lebih dekat. Sehingga tercipta bentuk kepuasan dan kerja sama. Yang terbentuk dalam sebuah totalitas negara itu sendiri sebagaimana menurut hegel, negara adalah roh absolut dari yang namanya masyarakat. Dengan pengertian lain negara merupakan organisasi kesusilaan yang timbul sebagai sintesis antara kemerdekaan individu dengan kemerdekaan universal.

0 comments:

Poskan Komentar