Rabu, 19 Mei 2010

Analisis dan Perbandingan Media Pers pada masa lalu dan masa sekarang

oleh : Hendri Rahman

Pada tahun 1957-1965, peta ideologi pers indonesia telah didominasi oleh pers komunis dalam menciptakan opini publik dan politik serta mempengaruhi kebijaksanaan pemerintah. Sebagaimana dalam contoh kasus kampanye PKI dalam mengganyang pers (BPS) pada waktu itu, sebagai salah satu musuh politiknya. Pers komunis dengan menggunakan manipulasi logika, kepentingan dan identitas politis soekarno telah berhasil mengganyang kelompok pers BPS (Badan Pendukung Soekrnoisme), sehingga kelompok ini dibubarkan soekarno dan pers pendukungnya dilarang terbit. Misalnya tema yang sering dipakai oleh pers komunis untuk menjatuhkan BPS dan pendukungnya dengan mengatakan bahwa BPS adalah gerakan soekarnoisme untuk membunuh ajaran-ajaran soekarno dan soekarno sendiri.
Surat kabar yang termasuk dalam kelompok pers komunis antara lain Harian Rakyat, Bintang Timur, Warta Bakti, Suluh Indonesia, Gelora Indonesia, bintang minggu dan Huo Chi Pao semuanya terbit di jakarta, Warta Bandung di Bandung, Gema Massa di Semarang dan surat kabar lainnya yang tersebar di seluruh indonesia. Dominasi pers komunis dalam peta ideologi pers indonesia tahun 1962-1965 merupakan konsekuensi logis dari semakin kuat dan meningkatnya pengaruh PKI dan Soekarno.
Kelompok BPS ini yang merupakan sebuah kelompok yang menentang ideologi komunisme mempunyai kelompok pers tersendiri diantaranya seputar Harian Merdeka, Berita Indonesia, Warta Berita, Indonesia Baru, Waspada, suara Merdeka dan harian lainnya. Pers yang anti komunis juga terdiri dari kelompok pers Agama diantaranya Duta Masyarakat yang berafiliasi dengan Partai Nahdhatul Ulama, Harian Sinar Harapan yang berafiliasi dengan Partai Kristen Indonesia (PARKINDO), harian Kompas yang berafiliasi dengan Partai Katolik, serta harian Abadi yang berafiliasi dengan Partai Masyumi. Dan kesemuanya itu boleh dikatakan sebagai pers yang moderat dalam menghadapi aksi-aksi politis dan ideologis PKI.
Sudah sangat jelas sekali bahwa PKI muncul dengan ideologi komunisnya untuk disebarluaskan dan dijadikan sebagai dasar falsafat negara Indonesia menuai berbagai macam tekanan dan konflik dari kelompok-kelompok yang tidak menginginkan ideologis komunis menggantikan ideologi pancasila. Karena ideologi pancasila sudah merupakan bentuk ideologi yang sempurna dalam mempertahankan kedaulatan dan persatuan bangsa dan negara Indonesia.
Realitas pers yang telah dijelaskan sebelumnya merupakan pada masa demokrasi terpimpin orde lama, setelah rezim pada masa orde lama tumbang dan digantikan oleh rezim orde baru, pada masa ini semua pers di cabut izin terbitnya, sampai pada tahun 1998 muncul masa reformasi.
Persaingan antara pers pada masa orde lama dengan masa reformasi mempunyai nuansa tersendiri, dikarenakan pada masa orde lama persaingan perubahan peta ideologis sangat kentara sekali karena terdapat dominasi – dominasi ideologi media pers pada masa waktu itu, yang berorientasi kepada integrasi sebuah kelompok tertentu tanpa lebih menitik beratkan kepada pencarian keuntungan yang sebesar – besarnya. Berbeda pada masa reformasi sekarang ini, terdapat juga bentuk – bentuk kategori pers yang masuk dalam kelompok pertentangan dan persaingan yang lebih menitikberatkan kepada segmentasi dan persaingan pasar dalam pemenuhan yang keuntungan yang sebesar – besarnya.
Sebagai contoh untuk diperbandingkan diantaranya media massa cetak antara Republika dengan Kompas. Republika yang dimiliki oleh Erik Taher lebih bersifat dan memiliki corak dalam editorialnya ke arah nilai dan ideologis religius islami, sehingga cenderung tertutup terhadap tulisan – tulisan yang tidak sejalan dengan nilai dan ideologi yang dianut.
Berbeda lagi dengan Kompas yang dimiliki oleh Jakob Oetama. Media ini lebih bersifat pluralis, selain itu dikarenakan juga Oetama ini juga seorang kristiani, tentu nilai dan ideologinya mempengaruhi terhadap isi teks media itu sendiri.
Contoh kedua yang dijadikan perbandingan yaitu media televisi Tv One dengan Metro Tv. TV One dengan Abu Rizal Bakrienya dan Metro TV dengan Surya Palohnya, keduanya menampilkan sebuah isi pesan media yang saling mensudutkan sebagai contoh tema tentang lumpur lapindo Brantas yang di publikasikan oleh Metro TV sedangkan TV One hanya mempublikasikan dengan tema lumpur Sidoarjo.
Tentu dibalik itu semua mempunyai kepentingan masing – masing, salah satunya diantara pemilik tersebut mempunyai latar belakang konflik yang cukup serius soal wacana pemilihan ketua umum partai Golkar, yaitu surya paloh kalah dari Abu Rizal. Namun tidak hanya itu saja yang melatar belakangi terjadinya persaingan diantara kedua media tersebut.
Sebagai alat analisis dalam perbandingan media pers pada masa orde lama, orde baru dan masa reformasi dalam hal konflik ideologis dan persaingan pasar, yaitu dengan menggunakan pendekatan kritis dalam studi ekonomi politik media massa. Yang merupakan studi tentang relasi – relasi kekuasaan dalam hal menentukan dan mempengaruhi produksi, distribusi dan konsumsi atas teks media itu sendiri. Yaitu untuk mengetahui siapa yang mempengaruhi terhadap isi teks media tersebut dan apa motif dibalik itu semua.
Dalam hal ini, tingkatan individu, ideologi dan nilai – nilai yang mempengaruhi merupakan merupakan ciri lokal yang terdapat pada media itu sendiri, sebagai media massa yang mempunyai aturan rumah tangga sendiri dalam hal proses managemen media.

11 komentar:

  1. kamu minat history ya??
    most of ur article related to history abt tht thngs.. (^_^)~~

    BalasHapus
  2. 知識可以傳授,智慧卻不行。每個人必須成為他自己。......................................................................

    BalasHapus
  3. may the blessing be always with you!!.................................................................                           

    BalasHapus