Senin, 12 April 2010

Konstruksi Realitas Simbolik Film Nasional 2009-2010, studi kasus" Film King"

oleh : Hendri Rahman
BAB I
PENDAHULUAN

Film adalah media komunikasi yang merupakan perpaduan antara berbagai unsur teknologi dan seni. Perkembangan film sangat tergantung dari bagaimana masyarakat di suatu daerah atau negara mengembangkan teknologi dan kesenian mereka. Kehadiran film sebagian merupakan respons terhadap penemuan waktu luang di luar jam kerja dan jawaban terhadap kebutuhan menikmati waktu senggang secara hemat.
Kehadiran film merupakan sebuah kenyataan atau realitas tersendiri yang dibangun dalam film tersebut. Sebagai hasil konstruksi dari realitas sosial yang ada kemudian di reproduksi kembali dalam film tersebut sehingga menjadi realitas sosial baru, yang akan direfleksikan kedalam dunia sosial masyarakat.

Dengan hadirnya sebuah film yang akan ditontonkan, sekiranya banyak atau sedikit telah membawa pesan-pesan dari isi film tersebut yang nantinya menjadi suatu acuan nilai yang ada dalam masyarakat tertentu.

Kenyataan itu pada akhirnya akan mengarah pada suatu pertanyaan, bagaimana suatu realitas sosial dapat dikonstruksi dan reproduksi oleh film. Secara teoritis persoalan itu dapat dijawab bahwa konstruksi sosial dalam film adalah sebuah proses sosial melalui tindakan dan interaksi dimana individu menciptakan secara terus-menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subyektif. Sehingga terciptanya konstruksi sosial itu melalui tiga momen dialektis yaitu eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi, yang kesemuanya itu akan dikaji dalam pembahasan ini yaitu tentang konstruksi realitas simbolik dalam film nasional 2009-2010, sehingga dalam pembahasan kali ini akan dijelaskan sebuah proses terjadinya konstruksi realitas simbolik dalam film yang berjudul “ King”.

BAB II
STUDI KASUS

Nun jauh dipelosok, di Jampit, salah satu kelurahan di Banyuwangi, cerita ini berasal. Adalah Pak Tejo (Mamik Prokoso) yang memiliki anak semata wayang bernama Guntur (Rangga Raditya). Pak Tejo sangat tergila-gila pada olah raga bulutangkis hingga hampir seluruh hidupnya ‘mengabdi’ untuk bulutangkis. Mulai dari menjadi komentator pertandingan tepok bulu di kampungnya, menjadi pengumpul bulu untuk dijual di sentral pembuatan shuttle-cock, memakai jaket bertuliskan Indonesia setiap hari, hingga mendidik anaknya untuk bisa menjadi pemain bulutangkis yang hebat, seperti King-Liem Swie King idolanya.

Sebuah keinginan mulia. Pak Tejo mendidik guntur dengan keras, scot jam, lari keliling hingga memarahinya jika kalah dalam pertandingan. Guntur merasa semua yang dilakukan ayahnya adalah tindakan yang sewenang-wenang, semua yang dilakukannya adalah hukuman, Guntur memberontak dalam diamnya. Karena dia tahu ayahnya adalah keluarga satu-satunya, Ibunya sudah meninggal. Jadi sedapat mungkin Guntur jarang membantah kata-kata ayahnya meskipun dalam hati dia sangat kesal.

Dalam sebuah pertandingan antar sekolah, guntur yang tidak punya raket, tiba-tiba saja diberi raket oleh Raden sahabatnya, yang mengatakan bahwa raket tersebut dipinjami oleh Raino (Aryo Wahab) yang juga pemain badminton tingkat kampung. Gunturpun akhirnya bisa bertanding dan menang, sayang raketnya rusak. Waktu pulang dia sangat sedih dan berpikir untuk mengganti senar raket dengan senar lain, mengingat itu bukanlah raket pribadi tetapi raket milik orang lain. Segala cara dikerahkan mulai mengganti dengan senar gitar hingga mencuri senar balon, yang akhirnya membuahkan hukuman baginya.

Sebuah keluarga kecil datang di desa itu. Seorang Ibu muda (Wulan Guritno) dan seorang anaknya yang bernama Michelle. Singkat cerita si Michele yang satu sekolah SD dengan Guntur dan Raden menjadi sahabat mereka berdua.

Prestasi di bidang bulutangkis Guntur sempat diwarnai dengan percekcokan dengan ayahnya hingga tidak bicara beberapa hari karena Guntur berpendapat ayahnya tidak pernah perhatian, tidak pernah memikirkan bagaimana dia dan perjuangannya juga marah karena latihan-latihannya. Namun setelah Raino memberi tahu bahwa ayahnyalah yang meminjam raket untuk pertandingan dan sangat perhatian padanya, Guntur akhirnya luluh.

Raden sahabatnya, yang mengetahui ada klub bulutangkis di kelurahan lain yang agak jauh, melihat ada pengumuman penerimaan siswa baru. Terbersit di benaknya, pasti Guntur akan senang jika bisa ikut latihan di situ. Masalahnya hanya satu; untuk ikut latihan harus bayar, sementara dia uang dari mana?

Michele yang akhirnya jadi teman berunding menyetujui untuk mencari uang dengan cara ngamen di pertunjukan keliling. Uangpun didapat, dan Raden mendaftan diri dengan nama Guntur untuk bisa ikut latihan di situ. Setelah beberapa lama Guntur yang asli datang ke sana untuk menemui Raden yang sedang latihan dikarena nenek Raden bilang kalau Raden setiap hari latihan dengan marah-marah padanya.
Mengetahuinya, Raden akhirnya menyerahkan latihan itu pada Guntur yang asli.
Guntur akhirnya ikut klub bulutangkis, setiap hari menempuh perjalanan yang jauh dengan sepeda, hingga pulang malam setiap habis latihan. Saat yang mendebarkan akhirnya datang juga, apalagi kalau bukan pemilihan atlit untuk dikirim ke PB Djarum, ke tempat Liem Swie King berlatih dahulu dan mengantarkannya menjadi juara mengharumkan nama bangsa.

Sebagai film liburan, film ini sangat cantik. Selain karena eksplorasi gambar-gambarnya di hutan yang masih segar dengan koloni rusa yang mendiaminya. Pohon-pohon menjulang tinggi, kadang diselingi kabut pedesaan yang indah, juga lereng-lereng gunung juga tak kalah cantik. Yang jelas selain menjual cerita, film ini juga menjual keindahan alam daerah Banyuwangi dan sekitarnya.

Rangga Raditya, pemain debutan Alenia Pictures ini juga cukup lumayan memainkan peran sebagai pemain bulutangkis amatir. Kulit legamnya dan juga wajah ‘lugu’nya cukup sinkron dengan lingkungan pedesaan di Banyuwangi, meskipun logatnya masih kurang medok untuk ukuran anak yang tinggal di Banyuwangi yang berbahasa Jawa dalam kesehariannya.

Sebuah cerita, yang dibuat dengan sebuah plot lurus, tidak mengurangi keindahan cerita. Pesan yang ingin disampaikan tentang semangat juang dan spirit bertanding juga cukup sampai untuk penonton. Konflik-konflik yang dihadirkan juga masih bisa dinalar sebagai konflik khas anak-anak remaja tanggung yang memang biasanya keras kepala dan pemberontak serta dipenuhi emosi meluap-luap.

Dengan mengambil judul dari nama sang bintang yaitu King. Film ini ternyata bukan bercerita soal kehidupan Liem Swie King, tapi perjalanan seorang anak untuk meraih cita-citanya menjadi juara bulutangkis dunia. sebuah inspirasi dari figur, semangat, dan kesuksesan Liem Swie King di masa kejayaannya dahulu.

Menurut Nia sang pruduser, film berjudul ”King” yang mengambil tema olahraga bulutangkis, bertujuan untuk lebih memasyarakatkan kembali olah raga bulutangkis di Indonesia. Kita merasa bahwa bulutangkis adalah salah satu cabang olahraga kebanggaan Indonesia yang sering mengharumkan nama bangsa di kancah internasional, dimana bagi Indonesia tradisi emas di Olimpiade itu masih dihasilkan dari cabang olahraga bulutangkis.

Film ini juga dimaksudkan untuk memperkenalkan keindahan Indonesia kepada dunia internasional. Itulah sebabnya kita melakukan shooting di daerah-daerah, seperti di Kawah Ijen, Wonosobo, Bondowoso dan Situbondo, karena ini adalah sebuah film tentang olahraga bulutangkis tetapi settingnya adalah daerah, apalagi memang sebuah pertandingan bulutangkis itu tidak harus selalu dilakukan didalam ruangan.

Media massa memiliki kekuatan yang signifikan untuk mengkonstruksi realitas sosial. Dengan menyajikan film-film yang baik dari segi cerita dan penggarapannya, yaitu film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga bermanfaat untuk masyarakat dan bangsa Idonesia. Jadi bisa dibilang bahwa film ini adalah film edutainment. Karena pendidikan itu bisa dilakukan tidak hanya disekolah formal saja, artinya dunia hiburan juga bisa menjadi sarana pendidikan, yaitu melalui penyampaian informasi yang positif. Dan pesan yang ingin disampaikan dalam film ini adalah mengenai cinta kasih, persahabatan, kebersamaan dan semangat

BAB III
KONSTRUKSI REALITAS SIMBOLIK FILM “KING”

Kerangka Teoritis
Kajian ini memberikan pengetahuan tentang proses terjadinya konstruksi realitas simbolik yang dibangun dalam film KING. Bertolak dari paradigma sosiologi George Ritzer, maka kajian ini sejalan dengan paradigm defenisi sosial yang mengakui manusia adalah actor kreatif dalam realitas sosialnya. Artinya tindakan individu tidak sepenuhnya dipengaruhi dan ditentukan oleh norma-norma, kebiasaan dan nilai-nilai yang ada di sekelilingnya yang semuanya itu tergambar dalam struktur dan pranata sosial. Oleh karena itu paradigma ini berkesimpulan bahwa dalam proses sosial manusia adalah pencipta realitas yang relatif bebas dalam dunia sosialnya. Dengan menggunakan paradigma definisi sosial, sehingga akan memberikan penguatan terhadap teori konstruksi sosial. Teori konstruksi sosial (sosial construction) dikemukakan oleh Peter L Berger dan Thomas Luckmann. Karena Berger dan Thomas sama mempunyai pemikiran bahwa sebuah realitas dibangun oleh individu-individu yang kreatif dengan melalui proses kontruksi sosial dengan dunia sosial yang ada disekelilingnya.

Istilah konstruksi sosial atas realitas didefinisikan sebagai proses sosial melalui tindakan dan interaksi dimana individu menciptakan secara terus-menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subyektif. Dalam teori konstruksi yang digagas oleh Berger dan Luckmann ini akan di bahas suatu proses terjadinya konstruksi sosial atas realitas. Proses sosial yang memungkinkan individu peranananya sebagai pencipta realitas sosial ini, mengalami proses dialektika tersendiri yaitu terjadinya suatu eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi.

Dialektika ini terjadi dalam tiga momen secara simultan. Pertama, eksternalisasi (penyesuaian diri) dengan dunia sosiokultural sebagai produk manusia. Kedua, objektivasi yaitu interaksi sosial yang terjadi dalam dunia intersubjektif yang dilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi. Sedangkan ketiga, internalisasi yaitu proses dimana individu mengidentifikasikan dirinya dengan lembaga-lembaga sosial tempat individu itu menjadi aggotanya.

Eksternalisasi
Dasar biologis manusia, sebagai mahluk yang berhubungan dengan dunia sosiokultural dalam proses perkembangannya, sehingga ia menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dan menciptakan tatanan sosial baru yang merupakan suatu produk manusia, atau lebih tepat lagi, suatu produksi manusia yang berlangsung terus-menerus. Ia diproduksikan oleh manusia sepanjang eksternalisasinya yang berlangsung terus-menerus. Tatanan sosial hanya ada sejauh aktivitas manusia terus-menerus memproduksinya ia merupakan suatu produk manusia. Sementara produk-produk sosial dari eksternalisasi manusia mempunyai suatu sifat yang sui generis dibandingkan dengan konteks organismis dan konteks lingkungannya, maka penting untuk ditekankan bahwa eksternalisasi itu sendiri merupakan suatu keharusan antropologis. Keberadaan manusia tidak mungkin berlangsung dalam suatu lingkungan interioritas yang tertutup dan tanpa gerak. Keberadaan manusia harus terus-menerus mengeksternalisasikan diri dalam aktivitas. Keharusan antropologis ini berakar dalam perlengkapan biologis manusia.
Dengan demikian maka organisme manusia secara biologis masih terus berkembang sementara ia sudah berhubungan dengan lingkungannya. Dengan kata lain, proses menjadi manusia berlangsung dalam hubungan timbal balik dengan suatu lingkungan. Pernyataan ini semakin kurang penting artinya jika kita merenungkan bahwa lingkungan ini merupakan lingkungan alam dan manusia. Artinya, manusia yang sedang berkembang itu tidak hanya berhubungan secara timbal balik dengan suatu lingkungan alam tertentu, tetapi dengan suatu tatanan budaya dan sosial yang spesifik, yang dihubungkan dengannya melalui perantaraan orang-orang berpengaruh (significant others) yang merawatnya.

Dengan kata lain, eksternalisasi terjadi pada tahap yang sangat mendasar, dalam satu pola perilaku interaksi antar individu dengan produk-produk sosial masyarakatnya. Proses ini dimaksud adalah ketika sebuah produk sosial telah menjadi sebuah bagian penting dalam masyarakat yang setiap saat dibutuhkan oleh individu, maka produk sosial itu menjadi bagian penting dalam kehidupan seseorang untuk melihat dunia luar.

Objektivasi
Tahap objektivasi merupakan tahapan interaksi antarsubjektif yang dilembagakan dalam bentuk sebuah tanda-tanda oleh individu-individu itu sendiri. Sebuah tanda (sign) dapat dibedakan dari objektivasi-objektibasi lainnya, karena tujuannya eksplisit untuk digunakan sebagai isyarat atau indeks bagi pemaknaan subjektif. Dengan demikian, maka objektivasi juga dapat digunakan sebagai tanda, meskipun semula tidak dibuat untuk maksud itu. Dalam penandaan ini bisa dikatakatan sebagai pembentukan bahasa symbol atas pemaknaan terhadap produk sosial atas realitas itu sendiri.

Oleh karena itu, bahasa merupakan hal yang sangat penting dan mempunyai peranannya terhadap objektivasi tanda-tanda yang telah dibuat. Bahasa mendirikan bangunan-bangunan representasi simbolis yang sangat besar yang tampaknya menjulang tinggi diatas kenyataan hidup sehari-hari bagaikan kehadiran kawanan raksasa dari dunia lain. Agama, filsafat, kesenian dan ilmu pengetahuan secara historis merupakan sistem-sistem symbol paling penting semacam ini.

Jadi, dengan demikian yang terpenting dalam tahap objektivasi ini adalah melakukan signifikasi, yaitu memberika tanda bahasa dan simbolisasi terhadap benda yang disignifikasi, melakukan tipikasi terhadap kegiatan seseorang yang kemudian menjadi objektivasi linguistic yaitu pemberian tanda verbal maupun simbolis yang kompleks.



Internalisasi
Individu tidak dilahirkan sebagai anggota masyarakat. Ia dilahirkan dengan suatu pradisposisi (kecenderungan) ke arah sosialisasi, dan ia menjadi anggota masyarakat..Proses ini adalah internalisasi: pemahaman atau penafsiran yang langsung dari suatu peristiwa objektif sebagai pengungkapan suatu makna; artinya, sebagai suatu manifestasi dari proses-proses subjektif orang lain yang dengan demikian menjadi bermakna secara subjektif bagi saya sendiri. Ini tidak berarti bahwa saya memahami orang lain itu secara memadai. Malahan saya bisa saja memahami dia secara keliru: ia sedang tertawa dalam suatu ledakan histeria, tapi saya memahami gelak tawanya itu sebagai ungkapan rasa gembira. Namun demikian, subjektivitasnya itu tersedia secara objektif bagi saya dan menjadi bermakna bagi saya, tak peduli apakah ada kesesuaian antara proses subjektifnya dan proses subjektif saya. Kesesuaian sepenuhnya antara kedua makna subjektif, dan pengetahuan timbal balik mengenai kesesuaian itu, mengandaikan terbentuknya pengertian.
Dengan demikian internalisasi dalam arti yang umum ini merupakan dasar, pertama bagi pemahaman mengenai sesama saya dan, kedua, bagi pemahaman mengenai dunia sebagai sesuatu yang maknawi dari kenyataan sosial.

Maka akan terjadi suatu indentifikasi suatu kenyataan diantara indivdu itu sendiri secara timbal balik yang secara terus menerus, sehingga dengan mencapai internalisasi semacam ini, individu menjadi anggota bagian dari masyarakat. Oleh karena itu proses ini disebut dengan sosialisasi yang bermaksud proses pengembangan individu terhadap dunia objektif suatu masyarakat.

Realitas sosial adalah pengetahuan yang bersifat keseharian yang hidup dan berkembang dimasyarakat, seperti konsep, kesadaran umum, wacana public sebagai hasil dari konstruksi sosial. Realitas sosial dikontruksi melalui proses eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi.

Realitas sosial yang dimaksud oleh Berger dan Luckmann ini terdiri dari realitas objektif, realitas simbolik dan realitas subjektif. Realitas objektif adalah realitas yang terbentuk dari pengalaman didunia objektif yang berada di luar diri individu, dan realitas ini dianggap sebagai kenyataan. Realitas simbolis merupakan ekspresi simbolis dari relaitas objektif dalam berbagai bentuk. Sedangkan realitas subjektif adalah realitas yang terbentuk sebagai proses penyerapan kembali realitas objektif dan simbolis kedalam individu melalui proses internalisasi (Henry, 1997 : 93).

Proses Kontruksi Relaitas Sosial dan Analisis
Eksternalisasi Nilai dalam Film KING
Film adalah media komunikasi yang merupakan perpaduan antara berbagai unsur teknologi dan seni. Perkembangan film sangat tergantung dari bagaimana masyarakat di suatu daerah atau negara mengembangkan teknologi dan kesenian mereka serta memiliki pengaruh sangat besar dalam memberikan hiburan, edukasi, serta mempengaruhi masyarakat.

Ketika sebuah film ditayangkan, maka harapan terbesar dari pencipta film agar pemirsa memperoleh acuan dari nilai dan citra pesan yang ada dalam film tersebut. Film sebagai produk masyarakat di eksternalisasikan oleh pemirsa kedalam dunia sosiokultural. Eksternalisasi itu terjadi secara dini karena kedekatan antara media (televisi ataupun studio) dan pemirsanya. Dapat dipastikan, setiap orang dapat menikmati media ini setiap saat, sebagai sumber informasi, hiburan dan sebagainya. Ketergantungan terhadap media seperti itu mempermudah proses ekternalisasi terjadi, dimana individu pemirsa atau penonton setiap saat berupaya menyesuaikan diri dengan acuan-acuan nilai yang dilihatnya dalam film tersebut yang disajikan dengan bantuan media (televisi ataupun studio).

Dengan demikian film begitu penting dalam kehidupan sosiokultural pemirsa atau penonton, karena tanpa disadari penonton menyesuaikan dirinya dengan apa yang dilihatnya pada film tersebut, sehingga film berfungsi sebagai acuan nilai-nilai bagi para penontonnya.

Objektivasi Nilai dalam Film KING
Hal terpenting dalam objektivasi film adalah terjadi signifikasi terhadap film tersebut. Apabila Berger dan Luckmann mengatakan signifikasi dibuat oleh manusia yaitu individu didalam dunia intersubjektif itu, maka signifikasi fim ini terjadi ketika pembuat film menciptakan film tersebut, dengan berbagai penandaan-penandaan sebuah objek dengan citra tertentu seperti citra persahabatan, kerja keras, kebersamaan, kesederhanaan, semangat, kesuksesan.

Ketika film itu ditayangkan, maka terjadi penandaan-penandaan seperti yang telah disebutkan sebelumnya untuk menandai citra pesan film yang ditayangkan. Disaat itu pula, terjadi penandaan terhadap pesan dan perilaku dari film tersebut sehingga timbul penafsiran-penafsiran oleh penonton itu sendiri. Suatu penandaan terhadap isi pesan yang menjadi produk film tersebut ditafsirkan tergantung dari tingkat pengetahuan dan kepentingan dari penonton itu sendiri.

Selain signifikasi (penandaan atau simbolisasi) yang dilakukan oleh pencipta film itu sendiri, dilakukan pula suatu pola tifikasi yang bermaksud untuk membuat pengetahuan yang spesifik tentang penandaan yang memperhatikan pola segmentasi penonton itu sendiri.

Melihat penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan objektivasi film terjadi dalam dua hal yaitu, pertama baik pencipta film maupun penonton melakukan penandaan atau simbolisasi. Kedua, baik pencipta film ataupun penonton melakukan tifikasi terhadap setiap film, yaitu memahami film secara segmentasi.

Dalam kasus objektivasi mengenai film KING ini, signifikasi yang dibuat oleh pencipta film ataupun penonton adalah tentang persahabatan, kerja keras, kebersamaan, kesederhanaan, semangat, kesuksesan. Namun penafsiran itu sendiri tergantung kepada tingkat pengetahuan ataupun kepentingan dari penonton itu sendiri. Ada penafsiran tentang sikap kritis iklan terhadap film tersebut, misalnya minuman Poccari Sweat, dianggapnya terlalu berlebihan menyiarkan iklan produk tersebut. Dan adapula yang memandang sikap keras dan sewenang-wenang orang tua terhadap anaknya, dan berbagai penafsiran-penafsiran yang lainnya tentu mengikutsertakan tingkat pengetahuan dan kepentingan individu penonton itu sendri dalam penafisran penandaan-penandaan itu sendiri.

Begitu pula mengenai tipikasi pembuat film dalam hal ini, segmen masyarakat yang menjadi penonton sangat beragam sekali mulai ditujukan kepada atlet bulutangkis, orang dewasa maupun anak-anak secara keumuman. Sedangakan tipikasi yang dibuat oleh penonton itu, ketika segmen para atlit bulu tangkis, itu menjadi sebuah motivasi yang sangat tinggi terhadap dunia bulu tangkis dalam perkembangannya di Indonesia, berbeda halnya dengan orang dewasa atau anak kecil secara keumuman, pesan itu merupakan sebuah motivasi yang sangat kuat dan menjadi landasan filosofis atas nama kerja keras, persahabatan, kebersamaan dan kesuksesan. Atau tipikasi dari penonton hanya sekedar hiburan saja.

Beragam sekali penandaan dan tipikasi dari pencipta film dan penonton itu sendiri yang merupakan bagian suatu proses objektivasi, yang dimana objektivasi ini merupakan proses dari konstruksi sosial itu sendiri.

Reproduksi sosial dan Internalisasi Nilai Film KING
Film sebagai media transaksional dan interaksional yang ditayangkan melalui televisi atau studio sebagai medium massa, memiliki kemampuan yang luar biasa dalam memproduksi kembali nilai-nilai, citra dan makna yang ada dalam fim tersebut kedalam kehidupan (realitas) sosial, maksudnya film memiliki kemampuan mereproduksi kembali realitas sosial, (sebagai realitas media) kedalam realitas sosial masyarakat. Reproduksi sosial film terjadi ketika film tersebut merefleksikan realitas sosial (nyata) kedalam realitas film tersebut, kemudian di refleksikan kembali kedalam realitas sosial penonton.

Dengan mengambil judul dari nama sang bintang yaitu King. Film ini ternyata bukan bercerita soal kehidupan Liem Swie King, tapi perjalanan seorang anak untuk meraih cita-citanya menjadi juara bulutangkis dunia. sebuah inspirasi dari figur, semangat, dan kesuksesan Liem Swie King di masa kejayaannya dahulu.
Menurut Nia sang pruduser, film berjudul ”King” yang mengambil tema olahraga bulutangkis, bertujuan untuk lebih memasyarakatkan kembali olah raga bulutangkis di Indonesia. Kita merasa bahwa bulutangkis adalah salah satu cabang olahraga kebanggaan Indonesia yang sering mengharumkan nama bangsa di kancah internasional, dimana bagi Indonesia tradisi emas di Olimpiade itu masih dihasilkan dari cabang olahraga bulutangkis.

Film ini juga dimaksudkan untuk memperkenalkan keindahan Indonesia kepada dunia internasional. Itulah sebabnya kita melakukan shooting di daerah-daerah, seperti di Kawah Ijen, Wonosobo, Bondowoso dan Situbondo, karena ini adalah sebuah film tentang olahraga bulutangkis tetapi settingnya adalah daerah, apalagi memang sebuah pertandingan bulutangkis itu tidak harus selalu dilakukan didalam ruangan.

Media massa memiliki kekuatan yang signifikan untuk mengkonstruksi realitas sosial. Dengan menyajikan film-film yang baik dari segi cerita dan penggarapannya, yaitu film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga bermanfaat untuk masyarakat dan bangsa Idonesia. Jadi bisa dibilang bahwa film ini adalah film edutainment. Karena pendidikan itu bisa dilakukan tidak hanya disekolah formal saja, artinya dunia hiburan juga bisa menjadi sarana pendidikan, yaitu melalui penyampaian informasi yang positif. Dan pesan yang ingin disampaikan dalam film ini adalah mengenai cinta kasih, persahabatan, kebersamaan dan semangat
Proses reproduksi sosial dalam film ini adalah gambaran sebuah proses internalisasi nilai yang terjadi dalam film tersebut. Figure dan semangat dari seorang Liem Swie King, merupakan realitas sosial yang nyata yang diangkat kembali atau direproduksi kedalam realitas sosial dalam film tersebut, oleh karena itu relitas sosial ini dinamakan realitas simbolis dan merupakan ekspresi simbolis dari realitas objektif atau dari suatu kenyataan seorang Liem Swie King itu. Namun kenyataan yang dibangun dalam film tersebut hanyalah sebuah kenyataan dari seorang anak kecil yang mempunyai mimpi dan cita-cita dengan penuh perjuangan dan kerja keras.

Perjuangan, kerja keras, persahabatan , kebersamaa dan motivasi inilah merupakan gambaran realitas simbolik yang di reproduksi dalam film tersebut, dan kemudian direfleksikan kembali sebagai realitas sosial yang baru.

Dengan demikian internalisasi dalam film tersebut merupakan, sebuah pemahaman mengenai film tersebut sebagai sesuai yang bermakna dan pemahaman itu diambil dan direprodiksi dalam realitas sosial tertentu.

Realitas sosial simbolik ini merupakan hasil dari konstruksi sosial itu sendiri yang melewati proses eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi. Dan itu semua merupakan suatu gambaran proses konstruksi realitas simbolik yang terjadi dalam sebuah film.
Oleh karena itu, dalam menganalisa sebuah kenyataan dalam suatu dunia sosial harus melalui proses dialektika tersebut, sehingga didapatkan sebuah pengetahuan tentang konsep, proses terjadinya konstruksi sosial dalam film itu sendiri.


Analisa kelompok
Adalah fenomena yang tidak bisa dipungkiri bahwa terjadi degradasi rasa nasionalisme di Indonesia. Bangsa Indonesia saat ini seakan terlena dengan arus perkembangan global. Degradasi nasionalisme itu dapat dilihat dari berbagai kebudayaan Barat yang ditiru oleh masyarakat Indonesia. Kebudayaan lokal kita yang eksistensinya adalah sebagai identitas sebuah bangsa, seakan justru ditinggalkan. Sehingga berpengaruh sekali terhadap perkembangan rasa motivasi dalam mewujudkan impian bangsa ini.

Bisa dikatakan pula bahwa nasionalisme saat ini kehilangan nilainya, karena nasionalisme telah dicemari berbagai kepentingan di luar nasionalisme itu sendiri. Kenyataan yang terjadi saat ini tidak lebih dari sekedar perang argumen dalam mempertahankan eksistensi pribadi ataupun golongan dan bukan lagi demi bangsa dan negara.

Dengan Melihat juga kondisi perfilman saat ini, sebenarnya banyak film-film yang mengandung banyak pesan moral. Namun sayang sekali hal ini menyebabkan film-film tersebut menjadi kaku dan mengesampingkan unsur hiburan. Hal ini menyebabkan masyarakat, yang notabene penikmat seni sebagai pelepas penat dari kehidupan nyata yang jauh lebih berat, memilih meninggalkan film-film seperti ini karena dinilai hanya menambah beban perenungan. Akhirnya seperti yang dapat kita saksikan saat ini masyarakat kita lebih menggemari film-film yang ringan dengan pesan moral yang tipis dan dibumbui adegan-adegan vulgar.

Dalam kondisi seperti ini, film “KING” menjadi sebuah kasus anomali. Film ini dengan kejeniusan pengemasannya telah sukses membawa pesan moral yang berat berupa nasionalisme. Film yang mampu mengawinkan unsur estetika, hiburan, serta pesan moral berupa nasionalisme Berdasarkan penjelasan di atas, pemerintah dan para sineas perfilman Indonesia diharapkan mampu memaksimalkan kerjasama untuk pembangunan Negara dengan menciptakan karya film yang berkualitas. Berkualitas tidak hanya dari sisi hiburan, melainkan juga mempunyai nilai-nilai moral yang mampu diambil oleh masyarakat Indonesia.

Dengan sinergi yang begitu baik antara unsur seni yang menghibur dan pesan moral yang disampaikan, film memiliki peran besar untuk menyelamatkan bangsa. Dengan beredarnya film-film seperti ini, masyarakat akan terbuka pemikirannya, bahwa rasa nasionalisme sangat penting bagi bangsa kita dan nasionalisme dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan.

Sebuah refleksi simbolis yang memuat pesan-pesan moral berupa persahabatan, kerja keras, kebersamaan dan motivasi yang semuanya itu merupakan perwujudan dari suatu cita-ciita yang mengarah kepada sebuah nasionalisme dan kesuksesan.

BAB IV
KESIMPULAN DAN PENUTUP

Istilah konstruksi sosial atas realitas didefinisikan sebagai proses sosial melalui tindakan dan interaksi dimana individu menciptakan secara terus-menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subyektif. Dalam teori konstruksi yang digagas oleh Berger dan Luckmann ini akan di bahas suatu proses terjadinya konstruksi sosial atas realitas. Proses sosial yang memungkinkan individu peranananya sebagai pencipta realitas sosial ini, mengalami proses dialektika tersendiri yaitu terjadinya suatu eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi.

Dalam kajian ini didasarkan pada asumsi bahwa realitas merupakan hasil ciptaan manusia kreatif melalui kekuataan konstruksi sosial terhadap dunai sosial di sekelilingnya. Selain itu juga Hubungan antara pemikiran manusia dan konteks sosial tempat pemikiran itu timbul, bersifat berkembang dan dilembagakan dan Kehidupan masyarakat itu dikonstruksi secara terus menerus
Dialektika ini terjadi dalam tiga momen secara simutan. Pertama, eksternalisasi (penyesuaian diri) dengan dunia sosiokultural sebagai produk manusia. Kedua, objektivasi yaitu interaksi sosial yang terjadi dalam dunia intersubjektif yang dilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi. Sedangkan ketiga, internalisasi yaitu proses dimana individu mengidentifikasikan dirinya dengan lembaga-lembaga sosial tempat individu itu menjadi aggotanya.

Realitas sosial adalah pengetahuan yang bersifat keseharian yang hidup dan berkembang dimasyarakat, seperti konsep, kesadaran umum, wacana public sebagai hasil dari konstruksi sosial. Realitas sosial dikontruksi melalui proses eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi.

Realitas sosial yang dimaksud oleh Berger dan Luckmann ini terdiri dari realitas objektif, realitas simbolik dan realitas subjektif. Realitas objektif adalah realitas yang terbentuk dari pengalaman didunia objektif yang berada di luar diri individu, dan realitas ini dianggap sebagai kenyataan. Realitas simbolis merupakan ekspresi simbolis dari relaitas objektif dalam berbagai bentuk.

DAFTAR PUSTAKA

 Berger, Peter L. dan Thomas, Luckmann, “Tafsir Sosial atas Kenyataan : Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan”, (1990).
 Burhan Bungin, “Sosiologi Komunikasi”, ( Jakarta : Kencana, 2007).
 Burhan, Bungin, “Konstruksi sosial Media Massa”, ( Jakarta : Kencana, 2008).
 Denis McQuail, “Teori Komunikasi Mass”a, (Jakarta : Erlangga, 1987).
 Raho, Bernard, “Teori Sosiologi Modern”, ( Jakarta : Prestasi Pustakaraya, 2007).

4 komentar: