Kamis, 03 Desember 2009

Meluruskan Makna Fundamentalisme Islam?

Diskursus fundamentalisme mulai marak sekitar tahun 70-an akhir dan 80-an awal. Masyarakat Islam Iran, pada ketika itu, mengejutkan dunia dengan gerakan revolusinya yang berhasil menumbangkan Syah Reza Pahlevi. Bersamaan dengan itu pula, Ikhwanul Muslimin Mesir menjadi kekuatan baru bagi masyarakat dan pemerintah Mesir. Dan dari sana, di berbagai belahan dunia Islam kota muncul trend mengenakan jilbab. Menurut beberapa kalangan—di samping banyak juga yang menganggapnya budaya sejak masa lampau, jilbab adalah model busana baru dalam dunia Islam. Leila Ahmed, Women and Gender in Islam, menegaskan bahwa busana Islam (jilbab) bukan berarti kembali ke masa lampau. Busana itu bukan busana tradisional sehingga banyak orang yang memilihnya di era 1970-an dan 1980-an. Busana itu adalah model baru, lebih menyerupai model Barat (terlepas dari lengan panjang dan rok) ketimbang gaya busana yang dikenakan nenek moyang mereka. Sebenarnya busana itu bisa dianggap “setengah resmi” dan sebagai sebuah seragam transisi ke masyarakat modern. Pola-pola gerakan Islam terus menggelinding bagai bola salju sampai sekarang dalam berbagai bentuk. Dan saat ini, dunia menyaksikan pola gerakan terorisme, sebagai bentuk gerakan paling mutakhir fundamentalisme Islam.

Kendati demikian, terlalu simplistis kalau kemudian disimpulkan, bahwa fundamentlisme Islam adalah fenomena baru dalam sejarah agama besar ini. Kesimpulan Zainal Muttaqien, Meluruskan Makna Fundamenlisme Islam (Sinar Harapan, 17/11/2003), bahwa fundamentalisme Islam muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap imprealisme dan hegemoni Barat perlu diluruskan. Sebab kesimpuln semacam ini seakan memberikan angin segar bagi fundamentalisme untuk melanjutkan misinya. Menurut Zainal, sejak abad 18, ummat Islam berada dalam ketertindasan. Dan bangkitnya gerakan-gerakan radikal dari berbagai kelompok Islam lebih sebagai bentuk perlawanan terhadap ketertindasan yang mereka alami. Oleh karena itu, fundamentalisme adalah bentuk gerakan pembebasan, bukan terorisme an sich. Bagi Zainal, hal ini perlu dilakukan untuk menghilangkan kesan negatif yang merusak citra Islam itu sendiri.
Akar Fundamentalisme Islam

Maraknya terorisme dan radikalisme yang berasal dari fundamentalisme Islam membuat banyak kalangan ketakutan atas memudarnya citra Islam yang baik, damai, dan mengayomi semua ummat manusia. Lalu dibikinlah sebuah teori, bahwa fundamentalisme Islam tidak ada hubungannya dengan Islam itu sendiri; fundamentalisme Islam adalah fenomena baru yang muncul di abad 19 atau 18; fundamentalisme hanyalah semacam reaksi terhadap tatanan kehidupan yang lebih global saat ini.

Orang-orang seperti Zainal menyebut fundamentalisme Islam sebagai gerakan pembebasan ketertindasan dari pihak Barat yang hegemonik dan dominatif. Hampir senada dengan itu, Karen Amstrong dan kawan-kawan melihat fenomena fundamentalisme sebagai reaksi terhadap modernitas yang semakin meminggirkan peran agama dalam kehidupan. Menurut Armstrong, The Beattle for God, perayaan modernitas dan pengagungan subjek manusia ternyata mengosongkan relung kultur manusia. Manusia modern merayakan prestasi kemanusiaannya, tapi pada saat yang sama mereka juga merasakan kekosongan dan kehampaan, yang membuat hidup tidak berarti; sebagian mendambakan kepastian di tengah kebingungan modernitas, sebagian lagi melemparkan kecemasan mereka kepada musuh-musuh imajiner dan menghayalkan persekongkolan universal.

Kalau melihat sejarah perjalanan Islam secara menyeluruh, tampak nyata kedua penjelasan di atas kurang memadai. Fundamentalisme Islam bukanlah bayi yang baru lahir abad ke 19 atau 18, melainkan ia sudah ada sejak abad ke 6 dan 7. Pada zaman-zaman awal perkembangan Islam, telah muncul perpecahan di tengah ummat. Perpecahan awal tersebut sudah terjadi ketika Nabi wafat. Ummat Islam saat itu terpecah setidaknya dalam tiga kelompok untuk menentukan siapa pengganti Nabi. Perpecahan itu semakin nyata ketika Khalifah Utsman memerintah dan akhirnya terbunuh oleh sebuah gerakan pemberontakan yang menganggap Utsman nepotis. Khalifah Utsman kemudian digantikan oleh Ali. Pada masa Ali inilah terjadi perang Siffin yang sangat terkenal dengan arbitrasenya. Dari sana pula ummat Islam semakin terpecah dalam tiga kelompok besar. Salah satu kelompok yang sangat radikal adalah Khawarij. Kelompok Khawarij ini banyak disebut sebagai cikal bakal fundamentalisme Islam. Kelahiran Khawarij sendiri disebut sebagai fitnatul qubro (fitnah besar).

Khawarij melawan kelompok Muawiyah (pendukung Utsman) dan juga kelompok Ali. Menurut mereka, kedua kelompok ini telah kafir karena keluar dari ajaran Islam. Mereka begitu mudah memberikan cap kafir kepada kelompok yang tidak sejalan dengan pendapatnya. Pemahaman keagamaan mereka sangat kaku. Mereka merencanakan pembunuhan terhadap siapa saja yang dinilai kafir. Ali termasuk salah satu korban pembunuhan yang mereka lakukan.

Tidak hanya itu, di kelompok Ali sebenarnya juga muncul kaum fundamentalis yang sangat fanatik terhadap Ali. Bahkan di antara mereka ada yang menganggap Ali sebagai Nabi, bahkan sebagai Tuhan. Bahkan fenomena radikalisme beragama ini sebenarnya juga pernah muncul pada masa Nabi. Suatu ketika Nabi mendengar beberapa orang Islam yang memaksakan diri berpuasa terus menerus, salat sepanjang hari, dan tidak mau beristri. Hal ini kemudian ditegur oleh Nabi sebagai tindakan berlebih-lebihan dalam beragama.
Landasan Teologis Fundamentalisme Islam

Menyelamatkan dan menyucikan Islam dari fundamentalisme, dengan menganggap fundamentalisme sebagai fenomena baru dan sebentuk gerakan pembebasan, juga akan semakin terbantah kalau kita lebih jauh melihat ajaran teologis Islam itu sendiri. Munculnya Khawarij, dimana ketika itu belum dikenal globalisasi, imprealisme, kapitalisme global, dan modernitas, menunjukkan bahwa fundamentalisme tidak cukup dijelaskan dengan teori reaksi terhadap penindasan dan kehampaan spritual. Ada baiknya perdebatan ini dilanjutkan lebih dalam ke arah doktrin teologi Islam itu sendiri.

Satu ciri keunikan Islam adalah bahwa semua kelompok yang sangat berbeda sekalipun masing-masing tidak pernah lari dari sumber ajaran Islam (al-Qur’an dan hadits). Bukan hanya Islam fundamentalis yang mencari rujukan al-Qur’an, tapi juga Islam liberal, bahkan kaum sekuler Islam pun mengklaim punya landasan dalam al-Qur’an itu sendiri.

Tidak sulit menemukan ayat-ayat provokatif yang ada dalam al-Qur’an yang seakan-akan melegitimasi gerakan fundamentalisme. Salah satu ayat yang paling terkenal adalah “wa la angkal yahudu walan nashara hatta tattabia millatahum” (orang Yahudi dan orang Kristen tidak akan pernah rela kepadamu sampai kamu mengikuti agamanya). Ayat lain yang lebih mengerikan menyebutkan: “faqtulul musyrikiina haitsu wajadtumuuhum wahshuruuhum waq’uduu lahum kulla marshadin” (maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian).

Terlepas dari perdebatan apakah ayat-ayat tersebut betul-betul untuk melegitimasi tindakan tidak toleran dan terorisme terhadap kelompok keyakianan yang lain atau tidak, yang jelas ayat-ayat seperti di atas betul-betul ada dalam al-Qur’an. Dan itu dipergunakan sejak abad ke-6 oleh orang-orang Islam radikal untuk pembantaian. Untuk membantai sesama Muslim sendiri, kaum khawarij akrab mempergunakan ayat “waman lam yahkum bimaa anzalallahi, faulaaika humul kaafirun” (barangsiapa yang tidak mengikuti hukum Allah, maka mereka adalah orang kafir). Dan bagi kaum Khawarij, orang yang tidak mengikuti hukum Allah adalah mereka yang tidak bergabung dalam kelompoknya, dan mereka layak untuk dibunuh.

Bukan hanya orang yang dianggap kaku pemikirannya yang melakukan tindakan teroris di dalam sejarah Islam, bahkan orang-orang yang dikenal rasional pun bersikap sangat fundamentalis. Pada masa pemerintahan kaum Mu’tazilah (sekte rasional di dalam Islam klasik), terjadi pembantaian besar-besaran terhadap mereka yang berbeda pendapat dengan kaum rasional Mu’tazilah. Salah satu korbannya adalah salah satu imam besar kaum Sunni, Imam Ahmad bin Hambal.

Sikap tidak toleran terhadap orang lain dalam Islam telah muncul sejak awal tersebarnya agama besar ini. Kalau saja pada saat itu telah ada bom dan pesawat, barangkali setiap masjid-masjid kaum Ali dan Muawiyah akan meledak dan menewaskan kaum Muslim yang sedang salat di dalamnya. Bukan hanya orang di luar Islam yang akan mereka habisi, tetapi sesama Muslim sendiri yang berbeda pendapat.

Wallahu a’lam.

2 komentar:

  1. SEMINAR INTERNET BISNIS dan INTERNET MARKETING
    untuk seluruh Indonesia secara GRATIS

    Apakah Bisnis anda terimbas KRISIS GLOBAL ? Anda Sedang terkena PHK? Anda sedang mencari PEKERJAAN? atau Anda ingin PEKERJAAN SAMBILAN?

    Nanti setelah baca berikut ini, Anda akan mendapatkan sebuah solusi PEKERJAAN, Bisnis di Internet atau Bisnis Real Non Internet. Sekaligus Anda bisa mengikuti SEMINAR INTERNET BISNIS dan INTERNET MARKETING bersama kami secara GRATIS.

    Caranya: Daftarkan Nama, Email dan No HP /Telp anda di halaman ini pada Kolom DAFTAR GRATIS.

    Inginkah usaha anda berkembang jauh lebih CEPAT? Inginkah usaha anda berkembang jauh lebih LUAS? Inginkah usaha anda berkembang jauh lebih MENGUNTUNGKAN?

    Silakan kembangkan Usaha apapun yang anda punya melalui Teknologi Internet.
    Untuk awal, silakan ikuti SEMINAR INTERNET BISNIS bersama kami secara GRATIS di seluruh Indonesia.
    Pendaftaran kami buka secara ONLINE
    dan akan Kami tambahkan GRATIS SEMINAR INTERNET untuk 1000 Pendaftar Pertama di seluruh Indonesia.

    Klik here : http://jurus-usaha.co.cc

    BalasHapus
  2. bagaimana yah...masa depan keilmuan kita???

    BalasHapus