Kamis, 03 Desember 2009

Krisis ekonomi di US dan masa depan kapitalisme

Krisis ekonomi yang sekarang sedang menerjang AS mulai saya lihat dampaknya secara riil dalam kehidupan sehari-hari, meskipun dampaknya tidak seburuk pada saat depresi besar tahun 30an (sekurang-kurangnya kalau kita lihat melalui fim "Cinderella Man"). Sejumlah toko gulung tikar di kota kecil tempat saya tinggal saat ini. Beberapa teman merasakan betapa sulitnya mencari pekerjaan sekarang ini. Pengalaman ini bahkan dialami oleh isteri saya sendiri.

Harga tiket untuk menonton pertandingan "post-season" Red Sox di Fenway Park merosot banyak, hampir mendekati "face value", artinya harga banderol. Pada musim normal, harga tiket melambung jauh di atas harga banderol. Walau pun harganya sudah didiskon lumayan besar mendekati harga banderol, tetap saja tiket tak terjual habis.

Empat hari yang lalu, gubernur negara bagian Massachusetts (MA), Deval Patrick, memutuskan untuk memotong bujet sebesar 1 milyar dolar, dan akan memecat pegawai negeri sekitar 1000 orang. Negara bagian MA melakukan pengetatan ikat penggang secara drastis. Salah satu pos yang mengalami pemotongan bujet adalah program asuransi kesehatan yang dibiayai negara, yaitu paket yang disebut MassHealth. Kedua anak saya menikmati program ini. Saya benar-benar khawatir apakah pemotongan ini akan berdampak pada program asuransi anak saya.

Salah satu perusahaan negara yang didirikan untuk memberi pekerjaan para para tuna-netra akan ditutup dalam waktu tiga bulan mendatang, padahal perusahaan ini sudah berdiri lebih dari 30 tahun. Sejumlah kaum tuna-netra melakukan protes atas pemotongan bujet ini. Sementara itu biaya perawatan taman kota juga mengalami pemotongan, sehingga kecantikan kota Boston mungkin tidak bisa dirawat dengan intensitas sebagaimana berlaku selama ini.

Pasti masih banyak dampak lain yang tidak bisa saya lihat karena saya tak langsung berkecimpung dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Amerika. Sebagai seorang pelajar, saya hidup dalam sebuah "karantina sosial" yang membuat saya tak bisa langsung merasakan denyut kehidupan sehari-hari masyarakat Amerika. Saya hanya bisa memandang dari kejauhan.

Saya ingin melihat krisis ekonomi di Amerika saat ini dari sudut non-ekonomi. Krisis ini sangat positif bagi pemerintah dan rakyat Amerika sekaligus. Terus terang saya muak dengan pemerintahan Bush saat ini karena alasan yang sangat sederhana: pemerintahan AS di bawah Bush saat ini tampak sangat sombong. Calon Presiden dan Wakil Presiden dari Partai Republik saat ini, McCain dan Palin, mewarisi kesombongan yang sama. Krisis ini memberi pelajaran kepada orang-orang Republik yang mind-set-nya saat ini cenderung "militeristik" dan "sok jagoan" agar mereka tahu bagaimana bergaul dengan bangsa-bangsa lain secara lebih sopan.

Yang memuakkan saya pada Partai Republik saat ini adalah kombinasi antara "fiundamentalisme Kristen" dan cara berpikir yang "sok jagoan" di kalangan mereka. Saya benar-benar tak betah mendengar retorika kampanye McCain-Palin yang sombong dan sinis. Selama kampanye ini, saya baru merasakan betapa masih mendalamnya rasisme dalam sebagian masyarakat Amerika. Yang paling menyakitkan buat saya adalah sikap sebagian publik Amerika, terutama kalangan Republik, yang menuduh Obama sebagai seorang Muslim. Seolah-olah menjadi seorang Muslim adalah "cacat sosial" yang membuat seseorang tak layak menjadi seorang presiden.

Sebagaimana diulas dengan baik oleh Fareed Zakaria dalam "The Post-American World", tak bisa dipungkiri bahwa dominasi Amerika saat ini sedang tersaingi oleh munculnya kekuatan-kekuatan lain, terutama di kawasan Asia (the rise of the rest). Banyak pihak di Amerika yang tak siap menerima kenyataan ini, terutama mereka yang memiliki mind-set sok jagoan itu. Krisis keuangan dan pasar saham di Wall Street saat ini, di mata saya, dari satu segi sangat baik, karena --semoga saja-- bisa menggembosi "sense of invincibility", rasa tak pernah bisa dikalahkan.

Saat Roger Federer selama berbulan-bulan menjadi petenis nomor satu di dunia yang susah dikalahkan, orang mengira bahwa Federer adalah "invincible". Ketika dia kalah berturut-turut di tangan Rafael Nadal dalam dua kejuaraan grand slam tahun ini, yaitu French Open dan Wimbledon, kita menjadi tahu bahwa Federer ternyata bisa "dilukai", bisa dikalahkan. Ternyata dia bukan "invincible". Selama ini, pemerintah AS, terutama kalangan neo-konservatif, merasa bahwa negeri AS adalah seperti Roger Federer yang "invincible" itu. Krisis ini datang untuk memberi pelajaran bahwa bahkan Federer pun mempunyai kelemahannya sendiri, dan karena itu bisa dikalahkan.

Krisis ini, di mata saya, bukan menandakan bahwa kapitalisme akan bangkrut. Kapitalisme mengalami krisis bukan sekali ini saja, tetapi sudah berkali-kali. Dan selama ini kapitalisme bisa mengatasi krisis-krisis itu. Keunggulan sistem kapitalisme dibanding dengan sistem lain adalah bahwa sistem ini mengandung mekanisme internal untuk mengoreksi dirinya sendiri.

Krisis ini sama saja dengan sebuah "teka-teki" dalam kerangka "sains normal" sebagaimana dipahami oleh Thomas Kuhn. Krisis ini tampaknya belum akan sampai berujung pada "perubahan paradigma" (paradigm shift). Setiap sains normal selalu akan berhadapan dengan apa yang oleh Thomas Kuhn disebut sebagai "contra-instances" atau fenomena yang janggal. Biasanya sains normal akan bisa mengatasi keadaan seperti ini, seraya melakukan penyesuaian diri dengan data-data yang sudah berubah.

Tetapi, krisis ini, di mata saya, kian memperdalam keadaan yang sudah berjalan saat ini, meskipun dengan sengaja hendak diabaikan oleh sebagian orang Amerika sendiri, yaitu keadaan bahwa Amerika bukanlah negeri yang tak bisa "terluka", bukan negeri yang tanpa "Achilles' heel". Kita semua tahu bahwa tindakan Bush beberapa tahun lalu yang melakukan serangan atas Irak secara unilateralistik telah membuat bangsa-bangsa di dunia marah bukan main. Saat ini, reputasi "moral" negara Amerika merosot total di mata dunia persis karena unilateralisme yang "sombong" itu. Krisis ini adalah positif karena bisa menjadi semacam jarum yang akan menggembosi balon "sense of invincibility" pemerintah Bush dan mind-set kaum Republikan dan neo-konservatif saat ini.

Meskipun krisis ini tampaknya tak akan membawa suatu peralihan paradigma, sebaliknya hanya merupakan teka-teki biasa dalam kerangka sains normal, tetapi, sebagaimana ditulis dalam majalah The Economist edisi terakhir ("Capitalism at bay"), memang ada suatu perkembangan baru yang memaksa banyak kalangan untuk berpikir ulang tentang praktek kapitalisme saat ini.

Dua mazhab besar dalam kapitalisme saat ini bertengkar dalam hal bagaimana memandang peran pemerintah dan pasar serta hubungan antara keduanya. Di satu pihak, kita melihat mazhab yang memandang peran negara masih tetap relevan bahkan diperlukan dalam kerangka mengoreksi pasar, sebagaimana kita lihat dalam teori Keynes selama ini. Di pihak lain kita melihat mazhab lain yang justru melihat peran pemerintah sebagai hal yang pada dirinya mengandung unsur yang distortif dalam pasar dan karena itu berbahaya.

Krisis sekarang ini memperlihatkan bahwa pasar, sekurang-kurangnya pasar keuangan sebagaimana diwakili oleh pasar saham di Wall Street, bukanlah "sistem tertutup" yang bisa bekerja sendiri tanpa membutuhkan peran lembaga publik di luar dirinya. Sebagaimana secara ironis ditulis oleh majalah The Economist, "In the short term defending capitalism means, paradoxically, state intervention".

Jangan salah paham: keduanya adalah mazhab dalam sistem kapitalisme, bukan aliran di luar sistem itu. Saya kira, debat antara dua mazhab itu tak akan pernah selesai dalam beberapa waktu mendatang, mungkin malah tak akan pernah selesai. Krisis saat ini yang memaksa pemerintah federal AS turun tangan untuk "menolong" bank-bank yang bangkrut selain merupakan sebuah "paradoks" dalam kapitalisme tetapi juga pertanda bahwa peran negara tak pernah akan bisa diabaikan.

Pasar, pada akhirnya, tidak bisa diandaikan "mengatur dirinya" sendiri secara menyeluruh, sehingga menolak intervensi dari pihak lain. Sementara peran negara kita andaikan sangat penting untuk meregulasi pasar yang mulai mengandung praktek-praktek yang membahayakan publik, kita juga harus awas terhadap peran negara itu sendiri. Peran negara tak bisa kita andaikan sebagai sesuatu yang dengan sendirinya "baik" karena sudah pasti mewakili kepentingan publik. Sebab apa yang disebut "kepentingan publik" yang ditegakkan melalui lembaga negara itu bisa pelan-pelan menjadi selubung untuk kepentingan sebuah "kroni" yang menyelundup sebagai "pembela kepentingan publik" tetapi sejatinya melayani dirinya sendiri.

Ini semua menyadarkan kita semua pada kompleksitas sebuah anyaman yang disebut sebagai masyarakat. Karena itulah dalam sosiologi, masyarakat biasa disebut sebagai "fabric" atau tenunan, sebab tersusun dari sebuah anyaman yang kompleks. Di masa mendatang, kita harus mulai membiasakan diri berpikir dalam kerangka kompleksitas semacam ini.

0 comments:

Poskan Komentar