Kamis, 03 Desember 2009

Kaidah Kerjasama, Perdagangan Bebas dan Globalisasi

Apa jadinya nasib negara inferior yang miskin akan sumber daya alam, populasi penduduknya relatif tidak terdidik, dan kemampuan produksinya jauh di bawah negara-negara lain di kancah globalisasi? Tidakkah sudah sepatutnya negara tersebut mendirikan rintangan perdagangan agar industri domestik dapat berkembang tanpa gangguan eksternal? Dari sudut pandang negara-negara maju dan kaya, bagaimana mungkin negara terbelakang seperti itu menawarkan sesuatu bagi mereka?

Pertanyaan-pertanyaan di atas menutup artikel sebelumnya, Melacak Basis Tatanan Sosial Kita. Jawaban-jawabannya sangat erat terkait dengan apa yang sering disebut sebagai hukum keunggulan komparatif.

Hukum ini tidak lain merupakan perpanjangan konsep pembagian kerja sesuai dengan pandangan Adam Smith, sebagaimana dikembangkan dan dielaborasi secara cemerlang kemudian oleh seorang ekonom berkebangsaan Inggris, yaitu David Ricardo.

Dalam artikel lanjutan ini akan dicoba disarikan teori fundamental tersebut dan akan diperlihatkan bagaimana bangsa yang relatif inferior dalam segala hal dari bangsa-bangsa lain tetap akan diuntungkan jika bangsa tersebut memilih spesialisasi dan membuka perekonomiannya untuk bekerjasama dengan bangsa-bangsa lain.

Ilustrasi yang mendasari penjelasan teori tersebut sengaja sengaja diangkat dari tingkat yang personal, dan dapat dirunut sendiri oleh sidang pembaca ke tingkat komunal, nasional ataupun dan internasional, tanpa kehilangan relevansi.

Pemahaman kita akan teori ini akan memberi kita landasan untuk memahami hakikat pertukaran antarindividu, perdagangan antarbangsa, globalisasi, atau hal-hal semacam itu. Lebih lanjut, landasan ini dapat dijadikan pegangan manakala kita perlu memaknai penjelasan sejumlah pakar modern (nasional maupun internasional) yang, sangat disayangkan, seringkali mengadvokasikan pandangan yang justru bertentangan dengan pembahasan di sini.

(Pandangan banyak pakar ekonomi yang berpengaruh dewasa ini dalam banyak hal justru kembali ke ideologi merkantilistik. Mereka cenderung melihat perdagangan antarbangsa sebagai perkara zero-sum. Contohnya adalah pandangan pemenang nobel ekonomi (2001) Prof. Michael Spence, yang menyarankan minggu lalu di Indonesia, agar negara-negara berkembang, termasuk negeri ini, tidak usah tergesa-gesa dalam membuka perekonomiannya; atau pandangan Prof. Rodrik yang mencoba menengarai bahwa negara-negara yang melakukan “liberalisasi” perekonomian justru mengalami kemunduran pertumbuhan ekonomi; atau ekonom Paul Craig Roberts yang skeptis terhadap perdagangan bebas. Hemat saya, tanpa meneliti secara mendalam makna “liberalisasi” dan sepak terjang pemerintah vis-à-vis kebebasan para pelaku dalam proses “liberalisasi” tersebut, advokasi semacam di atas berpotensi semakin mengacaukan, bahkan mendistorsi, pemahaman pembaca pada umumnya.]

Untuk sementara kita cukupkan tujuan kita sekadar untuk memahami teori keunggulan komparatif menurut Ricardo.

0 comments:

Posting Komentar