Kamis, 03 Desember 2009

”Harga” di ”Pasar”

Harga adalah indikator. Dia seperti termometer. Maka tidak tepat jika dalam keadaan susah, harga yang dihukum. Itu seperti menyalahkan garis merah di termometer ketika suhu tubuh sedang panas. Atau membanting timbangan ketika berat badan tidak turunturun juga. Ketika massa menuntut, “Turunkan harga!”, sesungguhnya mereka minta agar “Lakukan sesuatu agar perekonomian membaik!”. Dan “membaik” itu perlu dibuktikan oleh harga yang lebih rendah. Di sini muncul kesalahpahaman. Pihak yang dituntut lalu berusaha “menyetel” harga agar rakyat senang. Menyetel termometer tidak akan menyembuhkan demam.

Salah paham akan harga membawa kerancuan di mana-mana. Termasuk kontrol harga.Jalan pintas diambil dengan cara menentukan harga, bukan menangani permasalahan yang diindikasikan oleh harga. Karena lebih mudah menentukan harga daripada menyelesaikan masalah. Lebih mudah memecahkan termometer ketimbang menyembuhkan demam.

Benar, harga pun seringkali “salah”. Ia kadang gagal berfungsi sebagai indikator yangbaik dari perekonomian. Sama dengan strip merah di termometer yang bisa tidak akurat. Mengapa harga bisa ”salah”? Karena pasarnya terdistorsi. Ini yang kita sebut ”kegagalan pasar”. Ia sama dengan termometer yang rusak. Bagaimana supaya strip merah atau jarum timbangan bisa akurat? Perbaiki termometernya atau timbangannya. Bagaimana supaya harga kembali berfungsi sebagai indikator yang akurat? ”Perbaiki” pasarnya.”Perbaiki” bukan berarti mempereteli, tetapi ”mengembalikan kepada kondisi yang ideal”. Artinya, kembalikan pasar agar bisa berfungsi ideal. Di sini sering timbul kesalahan yang kedua: pemerintah seringkali ”terlalu bersemangat” memperbaiki pasar dan akibatnya justru malah semakin merusaknya. Inilah ”kegagalan penataan”.

Apa itu ”pasar yang berfungsi secara benar atau ideal?” Pasar bukan sekedar ”tempat bertemunya penjual dan pembeli”. Pasar adalah seperangkat kondisi di mana para individu yang terlibat di dalamnya saling berinteraksi secara sukarela. Ketika saya ingin memakan apel, saya mencari orang yang bersedia menjualnya. Saya berangkat dari rumah dengan uang Rp 3000. Saya bersedia membayar seharga itu, tanpa paksaan. Seseorang lain ingin menjual apelnya. Ia berangkat dari rumahnya dengan niat menjual apelnya seharga Rp 2000. Ia bersedia dibayar sebanyak itu, tanpa paksaan. Bertemulah saya dengan si penjual. Tawar-menawar terjadi. Ternyata kami sepakat untuk bertransaksi pada harga Rp 2500. Saya senang, karena saya merasa bisa ”menyelamatkan” Rp 500. Si penjual senang karena ia merasa ”mendapatkan kelebihan” Rp 500 dari yang semula ia perkirakan.

Di kali lain, ternyata harga apel menjadi Rp 3000. Saya mencoba mengecek ke banyak penjual. Saya tanya kepada mereka, mengapa harga menjadi lebih mahal ketimbang sebelumnya? Mereka menjawab, ”Pasokan lagi susah”. Dan saya mengerti. Berarti, selisih harga Rp 500 mengindikasikan kelangkaan pasokan apel. Beberapa bulan kemudian, ternyata saya mampu menawar hingga Rp 1500. Saya menduga, ini kebalikan dari ”pasokan lagi susah”. Ternyata benar, apel sedang ”banyak di pasaran”. Di sini harga berfungsi sebagai indikator yang baik. Harga tinggi mengindikasikan ”pasokan sedang susah”. Harga rendah mengindikasikan ”banyak di pasaran”. Ini berlaku bagi ”apel tertentu”. Tentu saja ada beberapa jenis apel yang harganya beda. Mengapa? Karena kualitas-nya beda. Harga menginformasikan kepada saya bahwa apel yang lebih murah daripada apel lainnya memiliki kualitas yang lebih rendah. Lebih kecut, lebih pekat, dan sebagainya. Sementara harga yang lebih tinggi mengindikasikan kualitas yang lebih baik. Ketika saya ingin membeli kualitas yang lebih baik, saya bersedia membayar lebih tinggi.

Di kali lain, dengan saku pas-pasan, saya bersedia membeli apel dengan kualitas sedikit lebih rendah. Tidak ada paksaan di situ, baik dari sisi saya maupun dari sisi penjual. Penjual justru berusaha untuk menjaga kualitas apelnya agar ”harganya tidak jatuh”. Ada insentif bagi mereka untuk berlomba menyediakan apel jenis terbaik.

Namun, pasar apel itu pun bisa rusak. Karena pemerintah ingin “melindungi” penjual apel, harga dipatok pada (atau minimum) Rp 3000. Tidak boleh turun. Kita tidak bisa lagi menduga apakah apel sedang melimpah atau sedang langka. Lebih celaka, apel kecut pun dijual Rp 3000. Penjual tidak takut bahwa apel kecutnya akan turun harganya. Mereka tidak terpacu untuk memperbaiki kualitas, toh tidak mungkin jatuh. Harga menjadi tidak akurat. Pasar telah gagal. Dan ini bisa berlanjut kepada kegagalan yang kedua: kegagalan penataan. Tujuan semula untuk melindungi penjual justru tidak tercapai, bahkan merugikan penjual sendiri. Pembeli mulai beralih ke jeruk atau mangga atau buah lain yang harganya tidak dipatok pemerintah. Permintaan berkurang.”Penawaran lebih banyak daripada permintaan pada harga patokan”. Beberapa penjual apel melanggar batas harga itu, menjual apel mereka dengan harga lebih rendah. Terjadilah pasar gelap. Ada juga pihak tertentu membeli apel yang murah di luar negeri untuk dijual lebih tinggi di dalam negeri. Penjual-penjual sisanya yang tidak memiliki banyak apel dan modal tersisih, dan akhirnya terpaksa menjual dengan harga rendah. Harga patokan tidak efektif.

Distorsi harga akibat kegagalan pasar dan kegagalan penataan juga bisa terjadi pada saat harga dipatok di bawah indikator yang sesungguhnya. Biasanya, alasan yang dipakai adalah ”melindungi konsumen”. Katakanlah pemerintah mematok harga apel pada (atau maksimum) Rp 1500. Apa yang terjadi? Beberapa penjual menolak menjual apelnya pada harga serendah itu. Mereka menahan stok atau memperlambat produksi. Apel bisa busuk. Yang busuk mereka lepas di harga Rp 1500, tapi yang bagus mereka tahan. Ada yang mampu menyelundupkan ke luar negeri dan menjualnya dengan harga lebih tinggi. Di pasar dalam negeri terjadi ”permintaan lebih banyak daripada penawaran pada harga patokan”. Ini kegagalan pasar. Belum cukup, kegagalan penataan pun terjadi. Para pembeli tahu bahwa mereka bisa mendapatkan apel pada harga Rp 1500. Harga murah ”seharusnya” adalah indikator dari kemelimpahan. Jadi ”tidak mungkin apel itu langka”. Mereka mencari penjual. Tapi penjual tidak bersedia menjual sebanyak yang pembeli inginkan. Akhirnya pembeli antri berjam-jam. Yang menyerah, keluar dari antrian dan mencari ”pasar gelap”. Di sana, harga bukan Rp 1500, tapi jauh lebih tinggi, bahkan lebih tinggi daripada harga yang ”normal”, akibat penahanan stok. Pembeli pun bukan”dilindungi” seperti janji pemerintah, tapi justru dirugikan.

0 comments:

Poskan Komentar