Kamis, 03 Desember 2009

Episode Abdul Hurgronje

Penyamaran Snouck Hurgronje di Mekkah lebih seru dari cerita film. Sebuah bagian dari rencana penaklukan yang mengesankan.

Pada 8 Februari 1857 Christiaan Snouck Hurgronje lahir di Oosterhout, Brabant Utara, dekat kota Breda. Selulus HBS Breda ia belajar Teologi dan Sastra di Universitas Leiden. Dengan disertasi Het Mekkaansche Feest (Festival Mekkah), tentang ibadah haji, ia lulus cum laude dalam usia 23, pada November 1880. Doktor Kesusastraan ini lalu menjadi lektor di Lembaga Pendidikan Pejabat yang akan dikirim ke Hindia Belanda, pada 1881-87.



Tapi sepanjang 1884 Dr. Snouck Hurgronje menghilang. Tahun itu tampak seorang berkulit putih memeriksa arsip di Mesjid Al-Haram, Mekkah. Namanya Abdul Gaffar. Bahasa Arabnya lancar, hampir sempurna. Tak seorang pun berupaya menerka asal logat asing Abdul Gaffar. Bukankah Islam agama internasional? Bukankah pemeluknya menghampar dari pantai Atlantik hingga tepi Pasifik?



Warna kulit, rambut dan matanya pun tak menimbulkan kecurigaan. Dari Syria, Turki, Tunisia, dan Libanon banyak Muslim berambut pirang, berkulit putih, bermata biru. Mereka yang mendengar Abdul Gaffar berbincang tentang ihwal agama terkagum-kagum. Orang kemudian berbisik-bisik: “Barangkali dia lama belajar di Al-Azhar Mesir.”



Abdul Gaffar seorang muslim yang taat beribadah. Salatnya lengkap, puasanya genap, zikirnya khusyuk. Henriette L. T. de Beaufort, penulis yang juga menyusun biografi Cornelis van Vollenhoven, mencatat tentang Abdul Gaffar: “…. Ia meneliti arsip-arsip Mekkah dan Masjid Al-haram; seperti layaknya santri, ia turut dalam setiap upacara keagamaan. Dia berbicara dengan masyarakat luas, berdebat dengan para ulama, dan tak seorang pun yang menyangsikan bahwa dia berbahasa Arab sejak lahir. Dengan haus ia meneguk dari sumber-sumber spiritual jamaah Muslim.”



Bocor



Le Temp, suratkabar harian Prancis, edisi 5 Juli 1885 muncul dengan berita utama: “Abdul Gaffar adalah Snouck Hurgronje, Sarjana Leiden.” Di Paris matahari terbit hanya beberapa jam sebelum salat subuh di Masjid Al-Haram. Abdul Gaffar bersama beberapa sahabatnya dari Aceh baru saja selesai berwudu. Tiba-tiba seorang berjubah mendekat. Wajahnya tertutup kafiah. Ia bersalaman dengan kawan-kawan Abdul Gaffar dan agak mendesak mereka ke pinggir.



Ia memegang erat lengan Abdul Gaffar, sambil berbisik: “Harus berangkat sekarang juga. Tidak ada waktu berkemas! Bahaya. Kafilah sudah siap. Tuan akan dikawal oleh orang-orang bersenjata lengkap. Pengawal Wali Mekkah sendiri. Ini perintah beliau untuk keselamatan jiwa Tuan. Jangan takut!”



Abdul Gaffar terkesiap. Kecemasan yang semula dirasakan sudah berangsur hilang seraya ia dikerumuni oleh kian banyak sahabat dari Aceh, dari Jawa. Kini, dalam kegelapan subuh, kecemasan itu serentak meninggalkan alam rasa dan hadir di hadapan matanya.



Rangkaian pemandangan berebut muncul di benaknya. Kafilah dihadang di tengah gurun. Ia tidak membawa surat identitas apapun. Eksekusi di tempat. Ia dianggap mata-mata. Barangkali para pengawal bersenjata yang berkuda di sampingnya bohong. Barangkali merekalah yang disebut “bahaya.” Ia melirik sekilas laras-laras bedil mereka.



Musnahlah impiannya untuk turut beribadah haji. Begitu lama ia mempersiapkan diri untuk itu. Untuk merasakan secara lahir-batin apa yang dirasakan berjuta-juta umat. Pupus sudah. Tiba-tiba kepanikan meremas jantungnya: “Bagaimana nasib catatan, dokumen, dan buku-buku yang tertinggal?”



Suaranya tenggelam dalam derap kaki kuda dan onta kafilah. . . .



Visa Ulama



Esok harinya menjelang magrib, seorang tamu penting duduk di salon rumah Konsul Belanda di Jeddah. Dua hari lagi sebuah kapal sekunar akan membawanya ke Eropa. Ia termenung. Baru kemarin ia seorang santri bernama Abdul Gaffar. Kini ia sekadar sarjana dari Leiden.



Bagaimanakah seorang beragama Kristen dapat menembus tembok terlarang yang mengitari Haram? Muslihat apa yang digunakan Hurgronje untuk melakukan tindakan yang sangat berisiko itu?



Untuk melancarkan bahasa Arabnya, ia tinggal serumah selama tiga bulan dengan seorang intelektual Mesir di Belanda. Nafsu belajar dan energi berlatihnya menakjubkan. Meski di sana-sini logat Oosterhout-nya masih terasa, penguasaan vokabulernya mengagumkan, gramatikanya sempurna.



Ia tiba di Jeddah atas undangan pribadi Konsul Belanda di sana. Konsul dan seorang wakil pelayaran Belanda telah menjalin hubungan baik dengan para pemandu jamaah haji di Mekah. Para pemandu inilah yang kemudian menjadi perantara untuk mengundang beberapa ulama dari Mekah ke Jeddah, guna bertemu dengan seorang sarjana Belanda yang sedang mempelajari Islam.



Pertemuan berlangsung, dan Snouck memamerkan kepiawaiannya dalam berbagai aspek Islam. Para pendengarnya terdiam. Terjadilah “benturan budaya.” Snouck mengira ia bicara terlalu banyak, padahal para ulama itu terdiam karena kagum. Kesunyian mengambang di majelis itu. Sekali lagi terjadi clash budaya. Buat para ulama, berdiam bersama dengan para sahib merupakan hal yang lumrah, bahkan menenteramkan hati. Bagi orang Barat duduk bersama dan membisu membuat mereka gelisah.



Walaupun di Barat juga dikenal pepatah “diam itu emas, bicara sekadar perak”, namun berdiam dalam pergaulan dianggap kurang sopan. Percakapan merupakan bagian penting dari pendidikan yang beradab. Untuk memecah kesunyian yang menggelisahkan itu, Snouck Hurgronje bertanya basa-basi tentang suatu masalah agama yang sangat ia kuasai. Maksudnya agar mereka yang bicara, bukan dia sendirian yang terus mengobral kata.



Para ulama bergilir menyentuh masalah yang diajukan oleh Snouck di permukaan saja, tidak masuk ke rinciannya. Lalu, hampir bersamaan mereka berseru: “Pendapat Tuan sendiri, bagaimana?” Betapa nikmatnya Snouck mengupas, mengiris-iris, membumbui, dan memasak materi yang paling digemarinya. Betapa kaya pengetahuannya tentang hal yang dikajinya. Suara bariton guru Belanda itu terdengar mantap. Kalimat bahasa Arabnya terukur, mengesankan orang berpendidikan. Gaya pembawaannya seakan ia sedang berpikir secara vokal.



Christiaan Snouck Hurgronje biasa memberi kuliah. Ia tahu benar kapan kata-katanya mengenai sasaran. Dari sorot mata para ulama itu ia sangat paham bahwa mereka takjub. Ulama yang paling sepuh kemudian bicara mewakili kawan-kawannya: “Kami merasa bahwa Tuan sebagian dari kami!” Snouck segera mengubah kalimat itu menjadi visa, dan dengan itu ia leluasa menyelinap ke dalam lingkungan santri di Mekah.



Pada 1919 Profesor Gobee bertanya kepada seorang kakek yang pernah lama menjadi pemandu haji, dan hadir dalam diskusi tadi, “Apa betul Abdul Gaffar itu sangat pandai bicara?” Jawabnya: “Bicaranya biasa saja, tapi isinya benar-benar berharga.”



Sasaran: Batavia



Tiga bulan setelah ia dilarikan dari Tanah Suci, Gubernur Mekah mengirim berita bahwa Snouck boleh datang lagi. Keadaan sudah aman kembali. Undangan itu ditolaknya secara halus: Tujuan muhibahnya sudah tercapai, dan sekarang ia belum sempat untuk berkunjung lagi. Mudah-mudahan ada kesempatan lain di hari depan. Begitulah ia menjawab undangan pejabat Sultan Turki yang bertugas sebagai wali di Mekah.



Mekah merupakan tujuan-antara bagi Snouck, walaupun ia ingin sekali mengalami ibadah haji. Tawaran untuk menjadi gurubesar di Leiden pun ditolaknya. Tujuannya adalah Batavia dan sabuk zamrut yang melingkar di khatulistiwa, daerah jajahan yang telah memakmurkan Negeri Belanda, tanah airnya.



Sore hari di tahun 1889, ia tiba di pelabuhan Tanjung Priok. Setelah itu Dr. Christiaan Snouck Hurgronje membuat sejarah.

(berdasarkan “Pengantar” E.Gobee, dalam Gobee & Adriaanse, idem).

0 comments:

Posting Komentar