Kamis, 03 Desember 2009

Apa Artinya Menjadi Mandiri?

Mandiri selain menjadi nama bank terkemuka, juga menjadi slogan calon-calon presiden. Tetapi seakan-akan bagi saya mandiri hanya menjadi sebuah kata tanpa arti, karena tidak ada satu calon pun yang mampu mendefinisikan apa arti mandiri itu. Maksud saya, tidak ada yang mampu secara benar mendefinisikan apa arti mandiri itu. Apa sih mandiri? Apakah mandiri hanya sekedar berarti mandi sendiri?

Sebuah bangsa yang mandiri katanya, adalah bangsa yang mampu menghasilkan barangnya sendiri, tidak didikte bangsa lain, dan lain sebagainnya. Bukan untuk kritis, tetapi saya anggap ini adalah cara pandang kemandirian yang terlalu sempit, terlalu naïve. Saya beri contoh, seorang yang ingin mandiri dalam cara pandang sempit ini. Dia ingin menjadi mandiri sehingga ketika membagun rumah, dia sendiri yang membangunnya, dia menganggap bahwa meminta bantuan orang lain adalah jalan menuju ketidak mandirian. Ketika dia butuh makanan, dia merasa bahwa untuk menjadi pribadi yang mandiri dia harus bisa mencari dan memproduksi makanannya sendiri. Dia tidak mau berhutang karena berarti dia akan didikte orang lain, itu adalah ciri ketidak mandirian. Dia tidak mau membeli pakaian dan cepatu dari orang lain, itu tidak mandiri. Inilah contoh ketika kemandirian itu dilihat secara naïf, secara sempit. Bukannya menuju kesejahteraan malah menuntun kepada kehancuran diri sendiri. Ini adalah kemandirian sempit dan salah yang menciptakan kemelaratan.

Mungkin anda menganggap contoh saya terlalu sempit pula, contoh yang terlalu naif pula, tidak realistis. Ok., Saya akan tunjukan satu contoh nyata yang lebih luas. Sebuah bangsa yang katanya ingin menjadi mandiri, sehingga merasa diri mampu menciptakan segala hal dengan dirinya sendiri untuk rakyatnya. Dengan bangga mengaku bahwa mereka bisa membangun bandara sendiri. Katanya mereka membangun bandara tersebut tanpa campur tangan asing. Ini adalah suatu pernyataan paling naïf yang pernah saya dengar. Sebagaimana tulisan Leonard E. Read (http://mahacorp.blog.friendster.com/2009/06/aku-pensil-silsilah-keluarga-sebuah-pensil-sebagaimana-dikisahkan-oleh-leonard-e-read/) yang menantang semua orang bahwa tidak ada satu orang pun bisa menciptakan pensil.



Sekarang saya ingin menantang siapa pun, siapapun dia, bahwa tidak ada satu bangsa pun yang bisa menciptakan sendiri suatu bandara berkualitas, bahkan sebuah bangsa paling maju didunia sekalipun,apapun bangsa itu. Kalau anda memaksa bahwa Indonesia bisa membangun bandara tanpa campur tangan asing, saya ingin bertanya, dari mana datangnya bahan membuat Bandara tersebut? Semennya datang dari Indonesia, tetapi mesin pembuatnya apakah 100% datang dari Indonesia? Kursi plastic di bandara tersebut? Apakah bukan didatangkan dari China? Konstruksi baja datang dari Indonesia, begitu juga dengan biji besinya, tetapi apakah dana pembangunan pabrik baja tersebut 100% datang dari Indonesia?



Sebagaimana Pensil adalah sebuah produk kerjasama jutaan manusia, maka sebuah bandara adalah sebuah hasil buah karya puluhan bangsa didunia yang bekerja sama, bukan untuk kesejahteraan bangsa pemilik bandara, tetapi demi kesejahteraan bangsa masing-masing bangsa tetapi dengan demikian menciptakan pula kesejahteraan bagi bangsa lain. Pengakuan bahwa sebuah bangsa dengan mandiri bisa menciptakan sebuah bandara tanpa campur tangan asing adalah sebuah contoh kemandirian yang kebablasan, sempit dan tanpa dasar.

Ijinkan saya memberikan konsepsi saya tentang bangsa yang mandiri dan saya harap anda bisa sepikiran dengan saya. Sekarang sebelum kita melangkah lebih jauh, mari kita lihat lebih dekat apa sebuah bangsa itu. Bangsa adalah sekumpulan manusia yang saling berbagi kesamaan. Jadi bangsa adalah sekumpulan manusia. Manusia adalah bangsa, tanpa manusia-manusia ini, bangsa tidak akan pernah terbentuk. Sehingga bangsa yang mandiri adalah ketika manusia-manusia secara pribadi mampu mandiri. Tidak ada sebuah bangsa yang bisa kolektif mandiri jika manusia-manusianya terjajah untuk kemandirian kolektif tersebut. Kemandirian suatu bangsa terwujud, jika manusia-manusia yang menjadi anggota bangsa tersebut adalah orang-orang yang mandiri. Lalu apa itu seorang manusia yang mandiri? Tentu saja bukan seperti kemandirian sempit yang saya contohkan diatas.

Seorang manusia yang mandiri adalah seorang yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus bergantung kepada orang lain. Seorang manusia yang mandiri adalah seorang yang mampu membeli apapun yang dia mau dan butuhkan tanpa harus meminta bantuan dan mengemis kepada siapapun, termasuk kepada pemerintah. Seorang manusia mandiri adalah seorang manusia yang berani BERHUTANG karena dia tahu bahwa dia punya kemampuan untuk membayarnya kembali secara jujur. Seorang manusia yang mandiri adalah seorang yang mampu memenuhi kesejahteraan dasarnya tanpa harus berharap banyak terhadap subsidi pemerintah sampai harus merengek terhadap subsidi tersebut. Seorang manusia yang mandiri adalah seorang yang sanggup membuka usaha tanpa harus takut bersaing secara adil dengan orang lain bahkan pesaing dari bangsa lain, tanpa takut bersaing dalam persaingan bebas yang adil sehingga tidak perlu meminta pemerintah untuk melindungi usahanya. Seorang manusia yang mandiri adalah seorang yang bisa mempertahankan kebebasannya tanpa harus mengganggu kebebasan orang lain, yang bisa menjalankan agamnya tanpa bisa diganggu orang lain. Seorang manusia yang mandiri adalah manusia yang sanggup memenuhi biaya pendidikannya tanpa harus berharap banyak terhadap subsidi pendidikan, sehingga dia mampu membuktikan kepintarannya dan mendapatkan bantuan berupa beasiswa atau bantuan lain atas dasar karena kemampuannya. Ketika para manusia-manusia yang punya mental kemandirian diatas bersatu, maka terwujudlah suatu bangsa yang mandiri.

Sehingga jelas, seorang calon pemimpin yang menjanjikan bahwa dia akan melindungi pengusaha domestic, adalah seorang calon yang membunuh kemandirian pengusaha kita untuk bersaing. Seorang pemimpin yang menjanjikan bahwa dia akan membantu petani dan nelayan, adalah petani yang membunuh kemandirian petani dan nelayan tersebut untuk berusaha lebih keras. Seorang pemimpin yang menjanjikan kesejahteraan lewat subsidi gratis di berbagai bidang, adalah pemimpin yang membunuh kemandirian bangsa. Seorang pemimpin yang menjanjikan banyak kemudahan tanpa banyak kerja keras, adalah pemimpin yang menghancurkan mental mandiri manusia-manusia dan menghasilkan bangsa memble, bangsa yang tidak bisa mandiri.

Ingat, seorang pemilih yang mandiri adalah seorang pemilih program nyata yang mengarah kepada pembangunan, bukan yang memilih karena janji angin surga, bukan memilih karena dijanjikan usahanya dilindungi oleh calon tersebut, atau yang paling hina, bukan memilih karena diberikan sejumlah uang. Siapapun yang anda pilih, calon presiden ataupun calon legislative, atau calon kepala daerah, akan menentukan apakah anda seorang manusia mandiri yang siap membentuk bangsa yang mandiri.

0 comments:

Poskan Komentar