Minggu, 06 Desember 2009

Analisis Dakwah dan Budaya pada Idustri Televisi

Analisis Dakwah dan Budaya pada Idustri Televisi
Studi kasus film “Para Pencari Tuhan 3” pada stasiun televisi swasta SCTV
OLEH : Hendri Rahman A
107051003368
BAB I
Pendahuluan

Latar belakang masalah
Industri modern di Indonesia dewasa sekarang, telah mengalami berbagai macam persoalapeersoalan khususnya dalam bidang pertelevisian. Produk-produk yang dihasilkan merupakan suatu bentuk realitas dan fenomena kebudayaan pada masyarakat Indonesia itu sendiri. Namun merupakan satu persoalan yang sangat serius apabila pengaruh yang dihasilkan adalah menyangkut tentang moral dan keyakinan bagi masyarakat itu sendiri. Moral dan keyakinan yang terbentuk merupakan hasil dari bentukan dari muatan-muatan informasi dan hiburan yang disajikan yang dimediasi oleh industri pertelevisian dewasa sekarang.
Cukup dilematis juga, karena realitas yang terjadi merupakan tranformasi bentuk kebudayaan yang sudah mengakar kuat dan juga adanya proses moderenisasi yang tidak bisa dihindari dari arus dan perkembangan zaman ini. Dengan industry hiburan yang menayangkan unsure-unsur mistik, itu merupakan suatu penghianatan terhadap prinsip moderenisasi, yang lebih menutamakan rasionalitas dan kemajuan-kemajuan dengan dibuktikannya perkembangan teknologi yang canggih. Justru wajar saja, bangsa ini, ketinggalan dengan budaya dan peradaban luar.
Namun yang menjadi focus dalam penelitian ini, yaitu keyakinan dan moral masyarakat kita. Dengan hadirnya tayangan-tayangan religius islami salah satunya film para pencari Tuhan 3ini, yang di mediasi dengan stasiun televisi SCTV merupakan bentuk protes terhadap moral dan keyakinan realitas pada masyarakat kita. Nilai-nilai dakwah dimunculkan kepermukaan, sehingga adanya pencerahan bagi masyarakat kita ini. Dengan tahap rekonstruksi moral dan keyakinan yang baik dan benar, maka diharapkan akan menghasilkan masyarakat yang lebih orientasi dalam perkembangan peradaban yang lebih maju.
Dikarenakan program para pencari Tuhan ini ada di salah satu stasiun televisi yaitu SCTV, maka penulis mencoba untuk memaparkan terlebih dahulu hal-hal yang berkaitan dengan stasiun ini.



Perumusan masalah
1. Bagaimana sejarah dan visi misi serta bentuk program perusahaan?
2. Bagaimana Analisis Budaya pada Idustri Televisi ?
3. Bagaimana Analisis Dakwah pada program film “Para Pencari Tuhan 3”?

Metode
Adapun metode yang digunakan dalam mengumpulkan bahan-bahan materi diantaranya :
1. Wawancara secara langsung dan via telepon dengan pihak-pihak yang berwenang
2. Observasi langsung ke tempat penelitian
3. Referensi-referensi penunjang lainnya

BAB II
Sejarah, Visi dan Misi serta Program Tayangan

Sejarah Perusahaan
Bermula dari Jl. Darmo Permai, Surabaya, Agustus 1990, siaran SCTV diterima secara terbatas untuk wilayah Gerbang Kertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoardjo dan Lamongan) yang mengacu pada izin Departemen Penerangan No. 1415/RTF/K/IX/1989 dan SK No. 150/SP/DIR/TV/1990. Satu tahun kemudian, 1991, pancaran siaran SCTV meluas mencapai Pulau Dewata, Bali dan sekitarnya.
Baru pada tahun 1993, berbekal SK Menteri Penerangan No 111/1992 SCTV melakukan siaran nasional ke seluruh Indonesia. Untuk mengantisipasi perkembangan industri televisi dan juga dengan mempertimbangkan Jakarta sebagai pusat kekuasaan maupun ekonomi, secara bertahap mulai tahun 1993 sampai dengan 1998, SCTV memindahkan basis operasi siaran nasionalnya dari Surabaya ke Jakarta.
Pada tahun 1999 SCTV melakukan siarannya secara nasional dari Jakarta. Sementara itu, mengantisipasi perkembangan teknologi informasi yang kian mengarah pada konvergensi media SCTV mengembangkan potensi multimedianya dengan meluncurkan situs http://www.liputan6.com, http://www.liputanbola.com Melalui ketiga situs tersebut, SCTV tidak lagi hanya bersentuhan dengan masyarakat Indonesia di wilayah Indonesia, melainkan juga menggapai seluruh dunia. Dalam perkembangan berikutnya, melalui induk perusahaan PT. Surya Citra Media tbk (SCM), SCTV mengembangkan potensi usahanya hingga mancanegara dan menembus batasan konsep siaran tradisional menuju konsep industri media baru.
SCTV menyadari bahwa eksistensi industri televisi tidak dapat dipisahkan dari dinamika masyarakat. SCTV menangkap dan mengekspresikannya melalui berbagai program berita dan feature produksi Divisi Pemberitaan seperti Liputan 6 (Pagi, Siang, Petang dan Malam), Buser, Topik Minggu Ini, Sigi dan sebagainya. SCTV juga memberikan arahan kepada pemirsa untuk memilih tayangan yang sesuai. Untuk itu, dalam setiap tayangan SCTV di pojok kiri atas ada bimbingan untuk orangtua sesuai dengan ketentuan UU Penyiaran No: 32/2002 tentang Penyiaran yang terdiri dari BO (Bimbingan Orangtua), D (Dewasa) dan SU (Semua Umur). Jauh sebelum ketentuan ini diberlakukan, SCTV telah secara selektif menentukan jam tayang programnya sesuai dengan karakter programnya.
Dalam kurun waktu perjalanannya yang panjang, berbagai prestasi diraih dari dalam dan luar negeri antara lain: Asian Television Awards (2004 untuk program kemanusian Titian Kasih (Pijar), 1996 program berita anak-anak Krucil), Majalah Far Eastern Economic Review (3 kali berturut-turut sebagai satu dari 200 perusahaan terkemuka di Asia Pasific), Panasonic Awards (untuk program berita, pembaca berita dan program current affair pilihan pemirsa) dan sebagainya. Semua itu menjadikan SCTV kian dewasa dan matang. Untuk itu, manajemen SCTV memandang perlu menegaskan kembali identitas dirinya sebagai stasiun televisi keluarga. Maka sejak Januari 2005, SCTV mengubah logo dan slogannya menjadi lebih tegas dan dinamis: Satu Untuk Semua.
Melalui 47 stasiun transmisi, SCTV mampu menjangkau 240 kota dan menggapai sekitar lebih dari 175 juta potensial pemirsa. Dinamika ini terus mendorong SCTV untuk selalu mengembangkan profesionalisme sumber daya manusia agar dapat senantiasa menyajikan layanan terbaik bagi pemirsa dan mitra bisnisnya.
SCTV telah melakukan transisi ke platform siaran dan produksi digital, yang merupakan bagian dari kebijakan untuk secara konsisten mengadopsi kecanggihan teknologi dalam meningkatkan kinerja dan efsiensi operasional. Dalam semangat yang sama, kebijakan itu telah meletakkan penekanan yang kokoh pada pembinaan kompetensi individu di seluruh aspek untuk mempertajam basis pengetahuan seraya memupuk talenta, kreativitas dan inisiatif. Inilah kunci untuk memperkuat posisi SCTV sebagai salah satu dari stasiun penyiaran terkemuka di Indonesia. Perseroan tercatat di Bursa Efek Surabaya sejak Juni 2003.

VISI SCTV
Menjadi stasiun televisi unggulan yang memberikan kontribusi terhadap pembangunan dan pencerdasan kehidupan bangsa.

MISI SCTV
Membangun SCTV sebagai jaringan stasiun televisi swasta terkemuka di Indonesia dengan :
1. Menyediakan beragam program yang kreatif, inovatif dan berkualitas yang membangun bangsa.
2. Melaksanakan tata kelola perusahan yang baik (good corporate governance).
3. Memberikan nilai tambah kepada seluruh stakeholder.

Program acara
Gala Sinetron
Gala sinetron yang disajikan lebih dari 35 program, diantaranya :
1. Kesetiaan Cinta
Bukan tanpa risiko, Karin harus menjalani kehidupan yang berliku setelah menikah dengan Andre, playboy kelas berat. Pasangan muda itu tinggal bersama orang tua Andre yang sangat kaya, Lukman dan Yanti, serta kedua adik Andre, Julia serta Wulan.
2. Hafizah
HAFIZAH, gadis periang dan cerewet yang terpaksa tinggal di panti asuhan lantaran dibuang oleh orang tuanya. Malang, ketika berusia 18 tahun Hafizah harus meninggalkan panti asuhan karena peraturan yang berlaku tidak mengizinkan anak berumur 18 tahun untuk tinggal di sana lagi.
3. Bayu Cinta Luna
Perpaduan yang nyaris sempurna terpancar dalam diri Luna. Tidak hanya cantik, Luna juga pemberani dan tegas. Suatu hari adik Luna diganggu oleh sekelompok mahasiswa yang kebetulan sedang nongkrong di kantin milik ayah Luna. Tanpa basa basi, Luna langsung menampar
4. Para Pencari Tuhan 3
Bang Jack, Chelsea, Barong, dan Juki baru saja menyelesaikan rukun Islam yang kelima, ibadah haji. Kini mereka mulai memasuki kehidupan baru dengan menyandang status baru sekaligus menghadapi masalah-masalah baru.
5. Cinta fitri season Ramadhan
Anak adalah harta yang tidak ternilai harganya. Tidak heran bila kehadiran seorang anak akan semakin merekatkan tali kasih di antara suami dan istri. Bahagia akan kehadiran seorang anak kini dirasakan pula oleh Fitri dan Farrel
6. Rindu Milik Rangga
Sosok yang nyaris sempurna ada pada Rindu. Gadis berusia 17 tahun ini adalah pribadi yang baik hati, sopan, berpendidikan, dan sayang pada keluarga. Rindu hidup bersama Rendy, sang ayah, beserta kedua orang adiknya, Bebi dan Chiko.
7. Pe De Ka Te
Hingga beranjak dewasa, sang ibu selalu memperlakukan Darto seperti anak kecil. Maklum, tubuh Darto tergolong imut untuk pemuda seusianya. Perlakuan ibunya itu tentu saja membuat Darto jengah dan sedih. Bagaimana tidak, setiap pagi Darto...

Gala Mandarin
Gala Mandarin yang disajikan lebih dari 49 program, diantaranya :
1. An empress And The Warrios
Film ini berlatar belakang masa Cina kuno, saat peperangan antarkerajaan tengah bergolak untuk memperebutkan tahta tertinggi. Tersebutlah, di medan perang seorang raja yang sedang sekarat memerintahkan putrinya yang bernama Fei-Er
2. Kungfu Dunk
SHI-Jie adalah pemuda yang dibesarkan di sekolah kungfu dengan bakat yang luar biasa. Tidak hanya piawai bela diri, Shi-Jie ternyata pandai pula bermain slam dunk. Bakatnya itu tercium oleh Chen-Li, yang lantas
3. Bulletproof Monk
Lantaran berprofesi sebagai rahib, Chow Yun Fat berkewajiban untuk melindungi sebuah surat gulungan kuno. Artefak misterius itu bukanlah surat gulungan kuno biasa, melainkan kunci jawaban dari suatu kekuatan yang tak terbatas. Sebagai penerus pemegang
4. My wife Is A Gangster 3
Merasa nyawanya terancam lantaran dituduh membunuh bos besar mafia, Lim Aryong terpaksa bersembunyi di Korea. Gadis yang pandai bermain pedang ini adalah putri bos mafia Hongkong, Mr. Lim, dan merupakan peranakan Cina dan Korea
5. Ming Min
Mencuri tidak melulu berupa materi. Ming Ming, seorang pendekar pada abad 21, tersohor sebagai pencuri cinta. Dia jatuh cinta kepada D, seorang petarung hebat, dalam sebuah pertarungan tinju. D yang memang berpenampilan menarik, mengajak Ming Ming
6. Three Kingdoms
Film ini mengambil setting pada akhir Dinasti Han di abad ke-2. Saat itu negeri Cina mempunyai tiga kerajaan besar yaitu Wei, Shu, dan Wu. Masing-masing dipimpin oleh kaisar yang berusaha untuk menguasai wilayah

7. The Warlords
Film ini mengambil setting pada zaman Dinasti Ching. Dalam sebuah pertempuran, Jenderal Pang Qing Yun berhasil meloloskan diri setelah berpura-pura mati. Sementara seluruh pasukan yang dipimpinnya tewas dibantai.

Gala Keluarga
Gala Keluarga yang disajikan lebih dari 35 program, diantaranya :
1. Asmara Dara di losmen Mbak Retno
Meskipun terkenal cerewet, Mbak Retno yang akrab dipanggil Bunda sangat perhatian terhadap anak-anak yang kost di losmen dan asrama dara miliknya. Lantaran status Bunda yang janda kembang, anak-anak kost pun getol mencarikan perempuan itu calon suami.
2. Rachel Gadis Ransel
Lantaran terobsesi untuk menjadi seorang petualang sejati, Rachel nekat pergi ke Jakarta untuk liburan. Dia akan tinggal di rumah Dimas yang merupakan sepupu Putri, sahabatnya. Namun takdir berkata lain, Rachel malah nyasar ke rumah Erik. Untung saja Erik yang mengaku Infotainment
3. Cinta Raka Buat Riri
kesal bukan main. Bagaimana tidak, selama bertahun-tahun pacaran dengan Raka, Mira selalu direcoki oleh Riri, sahabat kecil Raka. Terlebih bila Riri habis putus cinta, Raka bakalan menjadi tempat dia bergantung. Kesalnya, protes Mira malah ditanggapi Raka dan Riri
4. Naga Bonar
Naga Bonar adalah mantan tukang copet yang naif, jujur, nekat, namun memiliki kesetiakawanan yang besar. Saat Belanda berusaha kembali menguasai daerah yang ditinggalkan oleh Jepang, Naga Bonar lantas mengangkat dirinya menjadi komandan sebuah laska
5. Nyari Pacar Kok Repot
Pengalaman adalah guru yang sangat berharga. Karena itulah, berkaca dari pengalaman yang ada, Lulu ogah mempunyai pacar seperti kakak-kakaknya, yang tidak bisa dibanggakan. Bagi Lulu, lebih baik menjomblo atau menjadi penengah ketiga kakaknya saat bertengkar dengan pacar mereka...
6. Peri Curhat Terjebak Cinta
Lantaran sukses mengisi kolom curhat di majalah sekolah, Indri pun menyabet gelar Si Peri Curhat. Pribadi Indri yang lugas, sederhana, dan menarik ternyata membuat Dony, ketua majalah sekolah jadi kepincut. Karena bukan tipe yang to the point dalam urusan cinta, Dony pun meminta bantuan...
7. Indahnya Cinta
Apa jadinya bila cowok yang tak percaya dengan cinta, tiba-tiba mabuk kepayang pada seorang cewek jutek. Setiap berada di dekat Dina, Gading jadi salah tingkah. Sayangnya, sikap Dina yang dingin membuat Gading takut untuk pedekate. Apesnya lagi, ternyata Adit...

Reality dan variety
Reality dan variety yang disajikan lebih dari 21 program, diantaranya :

1. Cari Ibu Tiri Cari Ayah Tiri
Menjadi orang tua tunggal tentu saja bukan impian setiap orang. Namun apabila status itu terpaksa harus disandang, mungkinkah kita akan segera mendapat calon pengganti? Inilah reality show terbaru SCTV, Cari Ibu Tiri Cari Ayah Tiri, yang memang berbeda
2. Luping (Lupa Lupa Ingat)
Bukan sekadar hiburan biasa, kali ini SCTV menghadirkan sebuah program baru yang bertajuk "Luping (Lupa-Lupa Ingat)". Konsep program yang berupa playful entertainment ini hadir secara indoor dari mal ke mal. Tidak hanya seru, kocak, kreatif...

Infotainment
1. Liputan 6
muatan program dalam liputan 6 diantaranya : politik,hokum dan criminal,social dan budaya, ekonomi dan bisnis,ibu kota, daerah, program khusus dan luar negeri.
2. Sport
3. Bola
Menyajikan dan mengulas pemberitaan seputar persepakbolaan Internasional.
4. Gaya hidup
5. Kesehatan
6. Tekno
7. Otomotif

BAB III
Analisis Dakwah dan Budaya pada Idustri Televisi
sebagai pendahuluan dan dasar pemikiran, penulis mencoba melihat fenomena social yang ada disekitar masyarakat kita dengan analisis tentang kebudayaan industry modern dewasa sekarang, kemudian menghubungkannya dengan salah satu program yang ada di stasiun SCTV itu sendiri yaitu “Para Pencari Tuhan”, dilakukan pendekatan sebagai pisau analisis hubungan fenomena industry modern, kebudayaan masyarakat, film Para Pencari Tuhan 3 dan muatan dakwah Islam.

Transformasi dan Dialektika Budaya di Indonesia
Masyarakat Indonesia sudah memiliki agama atau kepercayaan-kepercayaan tradisional, jauh sebelum berkembangnya agama Budha, Hindu serta agama samawi seperti Islam dan Kristen di Nusantara. Kehidupan religius masyarakat Indonesia di masa lalu tidak hanya berbentuk animisme dan dinamisme karena peradaban yang cukup maju mampu menciptakan konsep-konsep religi yang adiluhung. Konsep relasi antara manusia dengan Sang Khalik yang bersifat imanen dan transenden, sudah diartikulasikan oleh masyarakat lewat berbagai tradisi yang menggabungkan antara kehidupan nyata dan dimensi metafisika.
Keyakinan tradisional mampu menahan hegemoni agama-agama besar karena sangat mengakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, sehingga eksistensinya dapat dipertahankan hingga kini. Eksistensi dari keyakinan tradisional termanifeskan lewat berbagai bentuk, salah satunya adalah praktek atau ritual yang bersifat mistik Tindakan-tindakan simbolik ini dimaksud agar kehidupan dari pemuja tersebut menjadi tenteram dan terhindar dari malapetaka. Tujuan dari pemujaan ini pada dasarnya sama dengan tujuan pemujaan yang terdapat dalam agama-agama yang ada di Indonesia, namun yang membedakannya adalah tata cara dan objek yang dipujanya.
Keyakinan-keyakinan tradisional tidak hanya termanifeskan dalam bentuk praktek-praktek magis, namun juga ditranformasikan dalam kehidupan sehari-hari. Transformasi keyakinan tradisional dalam kehidupan sehari-hari ini membantu menciptakan keseimbangan atau keselarasan dalam tata kehidupan masyarakat. Kita bisa melihat nilai-nilai yang dikembangkan oleh agama tradisional, seperti konsep rukun dalam masyarakat Jawa yang menekan egosentris demi tatanan masyarakat yang solid.
Keyakinan-keyakinan tradisonal, baik dalam bentuk nilai maupun praktek magis ini menjadi unsur budaya yang inhern dalam sistem kehidupan masyarakat Indonesia saat ini, meskipun telah mengalami modernisasi yang identik dengan rasionalitas. Akan tetapi, manifestasi kepercayaan-kepercayaan tradisonal di Indonesia sudah mengalami transformasi dari praktek-praktek kolektif yang mengandung konsep kosmologi menjadi “alat analisis” bagi masyarakat untuk memahami berbagai problem sosial sekaligus menjadi komoditas bagi individu, kelompok bahkan industri.
Tulisan ini ingin mengaitkan proses transformasi kepercayaan tradisional dengan modernisasi kehidupan masyarakat Indonesia dalam bentuk proses dialektika. Penulis juga akan menggunakan konsep antagonisme kebudayaan yang dikemukakan oleh Georg Simmel untuk memahami fenomena sosial ini.

Modernitas di Indonesia
Berkembangnya proses modernitas di Indonesia sejak kemerdekaan, perlahan-perlahan mulai mempengaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat. Banyak orang berasumsi bahwa proses modernisasi, khususnya di Indonesia, dapat secara langsung diamati lewat geliat kehidupan masyarakat perkotaan. Proses pembangunan infrastruktur yang berkembang pesat, pertumbuhan moda-moda tranportasi yang memenuhi jalanan, menjamurnya industri hiburan yang bergeliat di malam hari, atau perkembangan fashion yang selalu berubah-berubah mengikuti perkembangan dunia, selalu dianggap menjadi indikator modernisasi di Indonesia.
Modernitas ditunjang oleh tiga faktor, (1) Kapitalisme dengan teknik modern yang memungkinkan industrilalisasi, (2) penemuan subyektifitas manusia modern, dan (3) Rasionalisme (Widyanta, 2002:10). Berkaitan dengan faktor-faktor modernitas tersebut, maka secara normatif ketiga faktor tersebut sudah menjadi spirit perkembangan modernitas di Indonesia yang mengandalkan rasionalitas ekonomi sebagai landasan bagi perkembangan industrialisasi. Akan tetapi, Kapitalisme dan Rasionalitas yang mendorong industrialisasi juga memiliki sisi destruktif karena kondusif bagi terciptanya individualisasi, fragmentasi, alienasi (Entfremdung), kesesatan, penghancuran kreatifitas, pergeseran tak terduga dalam metode-metode produksi dan konsumsi serta pergeseran pengalaman tentang ruang dan waktu (Hikmat Budiman 1997:57).
Penulis tidak ingin membahas permasalahan modernitas secara utuh, namun ingin melihat ide rasionalitas yang diusung oleh modernitas dalam konteks masyarakat Indonesia. Pada tataran praksis, adanya pemahaman yang tidak komprehensif karena indikator modernitas sering dilihat sebatas proses tranformasi dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri, atau dari sistem feodal menjadi sistem Kapitalis yang berawal dari revolusi industri pada abad XIX di Inggris. Rasionalitas yang diusung oleh modernisasi sebagai kritikan terhadap dogma-dogma agama pada abad kegelapan dan menandai bangkitnya masa pencerahan (aufklarung) tidak termanifeskan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Berkaitan dengan hal itu, maka pertanyaannya adalah apakah perubahan sosial yang terjadi di Indonesia (transformasi dari masyarakat agraris menjadi industri atau sistem feodal menjadi Kapitalis) karena adanya modernisasi sudah membentuk cara berpikir masyarakat yang rasional?
Pada dasarnya perubahan sosial di Indonesia paska kemerdekaan memang sama dengan perubahan sosial yang terjadi di Inggris sejak bergulirnya revolusi industri, namun situasi dan kondisi sosialnya sangat jauh berbeda. Perubahan sosial di Inggris atau Eropa pada umumnya tidak terjadi dalam kurun waktu yang relatif pendek, namun berlangsung lama sejak abad pencerahan dimulai. Sebelum terjadinya revolusi industri, perkembangan ilmu pengetahuan yang mengandalkan rasionalitas sebagai input bagi paradigma baru sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Eropa selama berabad-abad, sehingga output berupa inovasi-inovasi yang dikembangkan menjadi landasan kuat untuk menopang perkembangan awal industrialisasi. Berbeda dengan masyarakat Eropa, proses industrialisasi di Indonesia tidak melalui proses dialektika yang panjang, namun hanya mengadopsi konsep yang sudah berkembang di dunia. Industrialisasi di Indonesia memang menerapkan rasionalitas ekonomi, namun dalam kehidupan sehari-hari dualisme cara berpikir yang modern dan tradisional sulit untuk dipisahkan.

Antagonisme Kebudayaan Indonesia
Masyarakat Indonesia, khususnya di perkotaan, yang secara fisik paling banyak menikmati perkembangan modernitas masih tak dapat dipisahkan dengan cara berpikir dan bertindak yang tradisional, seperti kepercayaan terhadap mitos, hal-hal mistik, magis atau supranatural tanpa melalui pembuktian ilmiah. Kita semua mengetahui bahwa wacana-wacana mistik tentang pemerintahan SBY-JK sering dikaitkan dengan bencana-bencana alam yang sering terjadi. Begitu juga eksistensi paranormal seperti Ki Gendeng Pamungkas atau Ki Joko Bodo muncul di tengah arus modernisasi, bahkan menjadi bagian dari modernisasi itu sendiri lewat iklan-iklan sms di TV. Kemampuan supranatural paranormal di Indonesia tetap menjadi kiblat para pejabat yang tentu saja memiliki pendidikan tinggi, bahkan menjadi salah satu strategi BIN (Badan Intelijen Indonesia) untuk membunuh Munir.
Pada titik ini kita sudah bisa melihat transformasi kepercayaan tradisional masyarakat Indonesia dari praktek-praktek kolektif yang bernuansa religius menjadi “alat analisis” bagi masyarakat untuk memahami berbagai problem sosial dan mulai menjadi komoditas bagi individu dan kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Fakta bahwa perilaku mistik masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia ini juga menjadi daya tarik bagi industri hiburan untuk mendapatkan keuntungan. Hal ini terlihat dari banyaknya produksi film-film horor beberapa tahun terakhir, juga tayangan reality show bernuansa mistik yang ramai menghiasi layar kaca beberapa tahun lalu, atau yang teraktual berupa petuah dari Ki Joko Bodo dan paranormal lainnya lewat sms.
Pertumbuhan industri hiburan yang mengandalkan perilaku mistik masyarakat Indonesia seakan mendobrak budaya modern dengan ide rasionalitas yang sudah terbentuk. Fenomena ini yang disebut Simmel sebagai antagonisme kebudayaan atau yang dikonsepkannya sebagai perlawanan (dialektika) antara bentuk dan hidup (Widyanta 2002:122). Bentuk diuraikan oleh Simmel sebagai kebudayaan yang sudah menjadi sistem sosial dan hidup dimaknai Simmel sebaagi potensi kreatif (creative potential) pada tingkat individu dan sebagai kekuatan produktif dari kebudayaan. Hidup juga dilihatnya sebagai kekuatan penggerak yang utama dari proses perubahan kebudayaan.
Hubungan antara bentuk (sistem kebudayaan) dan hidup (kreatifitas kebudayaan) terlekat pada suatu sifat mutual-interdepensi (Widyanta 2002:123). Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan karena saling bergantung satu sama lain seperti konsep hubungan individu dan masyarakat. Masing-masing kutub sangat tergantung pada perimbangan antagonistiknya. Keberlangsungan bentuk-bentuk kebudayaan tergantung pada kekuatan-kekuatan penciptaannya, begitu pun sebaliknya. Simmel berasumsi bahwa pada saat sistem kebudayaan terbentuk, maka proses destruksinya pun dimulai saat itu juga. Secara metaforis, proses perubahan kebudayaan ini dinamakannya sebagai proses death dan rebirth atau kematian dan kelahiran kembali dan sebaliknya (Widyanto 2002:124).
Simmel berasumsi bahwa terdapat oposisi latent di dalam kebudayaan, yaitu antara kekuatan-kekuatan penciptaan (creative forces) dan kebudayaan sebagai sistem (cultural system). Kekuatan-kekuatan penciptaan ini berkembang lebih cepat ketimbang sistem kebudayaan yang telah tercipta. Sistem kebudayaan akan semakin tertinggal jauh dari kekuatan penciptaan, sehingga akan menjadi tidak fleksibel ketika dicoba untuk diterapkan, maka makin lama sistem budaya yang sudah mapan tersebut mati dan digantikan oleh sistem budaya baru yang dilahirkan oleh kekuatan-kekuatan penciptaan tersebut atau terjadi kolaborasi antara keduanya.
Berkaitan dengan antagonisme kebudayan Indonesia (sistem budaya modern versus industri hiburan bernuansa mistik) maka secara eksplisit dapat dilihat hubungan keduanya memang bersifat mutual-interdepensi karena industri yang merupakan produk modernitas dapat berkolaborasi dengan perilaku mistik yang bertransformasi dari kepercayaan tradisional masyarakat Indonesia. Industri hiburan yang bernuasa mistik merupakan sintesa dari proses dialektika antara tesis modernitas dan antitesis berupa perilaku mistik masyarakat. Dengan demikian maka proses death dan rebirth yang dikemukakan oleh Simmel terjadi dalam konteks ini. Rasionalitas sebagai bagian dari sistem budaya modern digantikan dengan sistem budaya yang mengelaborasi antara rasionalitas (ekonomi) dan perilaku mistik menjadi satu sistem budaya yang baru.
Uraian yang penulis paparkan di atas pada intinya ingin menunjukkan bahwa sistem budaya Indonesia, dalam konteks ini, memiliki karakteristik karena merupakan bentuk dialektika antara modernitas yang mengusung rasionalitas dan perilaku mistik masyarakat, terkadang sulit dijangkau oleh akal sehat, yang bertransformasi dari kepercayaan tradisional. Proses dialektika antara keduanya dapat menciptakan sebuah sistem budaya baru yaitu industri hiburan yang bernuansa mistik. Hal ini bukan merupakan ironi, namun menjadi bagian dari proses akulturasi di Indonesia yang sudah berlangsung sejak lama.

Selintas film Para Pencari Tuhan 3
Judul : Para Pencari Tuhan 3
Episode : Global
Pemain : Deddy Mizwar, Zaskia Adya Mecca, Isa Bajaj, Melky Bajaj, Aden Bajaj, Akrie Patrio, Annisa Suci Wulandari, Udin Nganga, Agus Kuncoro, Anggia Jelita, Jarwo Kuat, Asrul Dahlan, Artta Ivano, Deliana Siahaan, Tora Sudiro
Tayang: Setiap HariPkl. 18:00 - 19:00 WIB
Synopsis film
Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat dalam dirinya ketiga perkara itu, dia pasti merasakan manisnya iman, yaitu Allah dan RasulNya lebih dicintainya daripada yang lain. Mencintai seseorang hanya karena Allah; dan tidak mau kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah darinya sebagaimana dia tidak mau kalau dicampakkan ke dalam api neraka.” (H.R. Bukhari-Muslim). Akhirnya, setiap mukmin harus membuktikan komitmen cintanya kepada Allah dan Rasul, lebih daripada cintanya kepada hal lain, termasuk kepada orang tua sendiri.
BANG Jack, Chelsea, Barong, dan Juki baru saja menyelesaikan rukun Islam yang kelima, ibadah haji. Kini mereka mulai memasuki kehidupan baru dengan menyandang status baru sekaligus menghadapi masalah-masalah baru. Sepulang menunaikan ibadah haji, Bang Jack ternyata terjangkit kerinduan yang luar biasa kepada Mekah. Dia ingin kembali ke Tanah Suci bukan lantaran di sana dekat dengan makam sang istri, melainkan ingin menghabiskan sisa hidupnya untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Keinginan Bang Jack itu tampaknya bakal terwujud setelah Azzam, pengusaha muda, berhasil mendapatkan bantuan dari rekan bisnisnya di Arab Saudi. Sayang, tepat menjelang hari keberangkatan, seorang kepala maling justru menghentikan impian Bang Jack. Dia mengganggap Bang Jack hanya ingin masuk surga seorang diri meninggalkan saudara-saudaranya, tetangga, dan murid-murid yang sedang membutuhkan bimbingan.
Sementara Chelsea tengah dirundung masalah. Mantan istri Chelsea yang sebelumnya berjanji untuk rujuk, ternyata sedang menghadapi lamaran seorang ustad muda dan ganteng. Sama halnya, Barong pun tengah bermasalah dengan Dara, sang pacar. Keluarga Dara keberatan mempunyai menantu mantan narapidana, meskipun Barong telah menyandang gelar haji. Masalah Juki tak kalah berat, ibu Juki menghilang tak tentu rimbanya dan hingga detik ini belum mengetahui kalau Juki sudah naik haji.
Di bagian lain, melihat keberhasilan Bang Jack dan ketiga muridnya pergi haji, semangat Udin dan Asrul terpicu. Keduanya bertekad pergi haji dengan usaha sendiri. Mereka tidak peduli dengan ekonomi keluarga yang pas-pasan, dan berusaha menabung seribu rupiah setiap hari.
Baik Asrul maupun Udin tidak mempedulikan kesangsian orang karena keduanya berkeyakinan, "Mungkin Allah menunda rezeki kita di langit, tapi Allah tak menahan hak kita untuk beribadah haji". Bagi tokoh-tokoh tersebut semua aktivitas adalah karena Allah. Mereka tidak lagi tertarik mencari kebahagiaan dalam harta. Tidak lagi tertarik menangisi kesengsaraan. Mereka hanya ingin menjadi umat Muhammad semaksimal mungkin, sekuat ilmu yang dikuasainya.
Bagaimana kisah serunya? Apakah Bang Jack akan kembali ke Masjidil Haram? Mampukah Chelsea bersaing dengan seorang ustad untuk memperebutkan cinta mantan istrinya? Lantas bagaimana pula kelanjutan hubungan Barong dan Dara? Apakah Juki akan bertemu dengan ibu kandungnya? Berhasilkah Udin dan Asrul mewujudkan impian mereka beribadah di Tanah Suci? Saksikan hanya di saluran Satu untuk Semua.

Film para pencari Tuhan 3 dan dakwah
Analisis dakwah film para pencari tuhan 3 sekarang, sekaligus menunjukan suatu bentuk-bentuk kepercayaan yang diyakininya dan dipegang dengan tradisi yang kuat sekali, sehingga, industry film pun tidak bisa mengelak dari arus budaya ini.
Dengan munculnya tayangan-tayangan film religious islami, diharapkan mampu membatasi gejala penyakit itu dan diperlihatkan dengan nilai-nilai islam yang bisa mencerahkan umat manusia. Karena islam adalah agama yang universal mampu menciptakan peradaban manusia yang lebih beradab. Sehingga spirtualitas kepada Tuhan yang sesungguhnya yaitu alloh SWT, bisa tetap terjaga. Dengan modal tekad dan keyakinan yang baik dan benar akan mampu mengarungi perubahan-perubahan segala aspek kehidupan menuju kemajuan yang umat manusia seutuhnya. Islam menawarkan konsep hidup yang sempurna sehingga apabila manusia meyakini dan menjalankannya, pencerahan keimanan dan keilmuan akan didapatkan dengan menuju kebahagiaan yang sempurna dan hakiki.
Konsep yang ditawarkan adalah Al-Qur’an dan As-Sunah, keduanya sudah teruji dan dijamin kebenarannya oleh perkembangan zaman sehingga bisa flesibel melewati berbagai masa. Karena sifatnya yang sempurna dan universal maka pencerahan keilmuan dan keimanan akan hadir pada ummat manusia.
Dengan ditayangkannya film para pencari Tuhan 3, merupakan salah satu contoh dari sekian banyak conth, bahwa peranan islam dalam menjaga keseimbangan keyakinan umat islam dalam mengarungi arus industrialisasi dan kebudayaan yang tak sewajarnya masih tetap terjaga dan konsisten.Film ini, merupakan bentuk dakwah untuk membawakan nilai-nilai islam yang sifatnya sempurna itu. Kerusakan moral, kesalahan keyakinan, dan cara berfikir yang keliru dapat diobati dan diberi penyembuhan dengan tayangan-tayangan yang sifatnya konsisten terhadap nilai-nilai islam.
Maka dalam rangka menyelamatkan pengaruh negative dari tayangan-tayangan yang tidak bertanggung jawab, nilai-nilai islami ditampilkan ke permukaan mengingat mayoritas masyarakat di Indonesia ini mengaku sebagai muslim. Sudah selayaknya keimanan dan prilaku islam harus dijaga dan diamalkan dalam segala aspek kehidupan.
Di tengah maraknya gaya hidup konsumtif dan hedonis yang terus menggerus nilai-nilai kebersahajaan dan kejujuran, kita sangat merindukan hadirnya desain sinetron ala PPT III ini pasca-Ramadhan. Artinya, ia tidak hanya hadir sekadar “asesoris” hiburan religi selama bulan puasa, tetapi juga pada saat-saat lain ketika layar TV di rumah kita sudah berlumuran darah, hantu, mistik, perselingkuhan, kemewahan, dan mimpi-mimpi indah tentang gebyar keduniawian.
Sayangnya, sebagian besar stasiun TV kita sudah masuk dalam pusaran industri yang harus selalu menghadirkan keuntungan finansial pada setiap jengkal tayangan yang dihadirkan. Masih sangat minim industri TV kita yang luput dari jarahan tangan para pemilik modal. Dalam kondisi semacam ini, PPT III bisa dibilang sebagai salah satu sinetron “bergizi” yang siap menghadirkan pencerahan di rumah kita.
Film ini mengajarkan pendidikan sekaligus mengingatkan bahwa Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat dalam dirinya ketiga perkara itu, dia pasti merasakan manisnya iman, yaitu Allah dan RasulNya lebih dicintainya daripada yang lain. Mencintai seseorang hanya karena Allah; dan tidak mau kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah darinya sebagaimana dia tidak mau kalau dicampakkan ke dalam api neraka.” (H.R. Bukhari-Muslim). Akhirnya, setiap mukmin harus membuktikan komitmen cintanya kepada Allah dan Rasul, lebih daripada cintanya kepada hal lain, termasuk kepada orang tua sendiri.
Komitmen akan cinta kepada Allah dan Rosul-Nya itulah merupakan bukti bahwa ia masih mempunyai keimanan yang sangat tinggi. Dengan modal cinta dan keimanan seperti ini, maka hidupnya akan terjamin dan bahagia didunia dan akhirat.
Di Dunia ia bisa merasakan kenikmatan-kenikmatan materi yang cukup dan membawa keberkahan, sehingga menimbulkan ketentraman dan kebahagiaan jiwa orang itu sendiri. Sikap, perilaku,cara pandang yang terselamatkan dari pengaruh budaya yang bisa merusakan akal fikiran dan perilaku itu sendiri. Yang mengakibatkan kemunduran-kemunduran suatu bangsa dan peradaban.
Di akhirat ia layak mendapatkan keindahan surga yang telah dijanjikan kepada Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya. Berupa kenikmatan yang sangat luar biasa sekali, yang tak bisa dibayangkan dengan akal fikiran dan diucapkan dengan kata-kata. Itulah kebahagiaan dan kenikmatan yang sejati dan abadi.


BAB IV
Kesimpulan dan Penutup

sistem budaya Indonesia, dalam konteks ini, memiliki karakteristik karena merupakan bentuk dialektika antara modernitas yang mengusung rasionalitas dan perilaku mistik masyarakat, terkadang sulit dijangkau oleh akal sehat, yang bertransformasi dari kepercayaan tradisional. Proses dialektika antara keduanya dapat menciptakan sebuah sistem budaya baru yaitu industri hiburan yang bernuansa mistik. Hal ini bukan merupakan ironi, namun menjadi bagian dari proses akulturasi di Indonesia yang sudah berlangsung sejak lama.
Dengan pencitraan tayangan-tayangan yang sifatnya bermuatan nilalai islam, diharapkan mampu menghempas arus budaya masa sekarang ini. Karena, proses akulturasi budaya indusri modern dan tranformasi budaya tradisional kalau disejalankan dan didampingi terus dengan nilai-nilai islam, akan membuat titik keseimbangan yang lebih mapan dalam memajukan peradaban kita sebagai bangsa indonesia, khususnya umat muslim.
Mengingat mayoritas indonesia, adalah kaum muslimin, segala hal informasi ataupun hiburan diselaraskan dengan sistem dan nilai islam. Sehingga tidak akan, terjadi kepincangan dalam hal akidah dan moral. Tentunya semua usaha ini, dilancarkan demi pencerahan bangsa indonesia itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA

 http://www.sctv.co.id
 http://bloghendrigmail.blogspot.com

0 comments:

Posting Komentar