Minggu, 08 November 2009

Soren A. Kierkegaard

Soren A. Kierkegaard adalah bapak eksistensialisme.
penobatan ini dilakukan oleh muridnya, Jean
Paul-Sartre. karya Kierkegaard tulis Kierkegaard
sesungguhnya bukan hasil olah pikir ataupun konstruksi
teoritis belaka, melainkan pengalaman hidupnya
sendiri. benar-benar mengenai perjalanan hidupnya,
kegelisahan pribadinya, refleksi pribadi serta
pergolakan bathinnya. corak tulisannya amat berbeda
dg para filsuf di masa itu maupun sebelumnya, tak
dapat dikelompokkan ke dalam aliran apapun juga.
Sartre-lah yang kemudian menciptakan istilah
eksistensialisme dan Kierkegaard-lah sang bapaknya.

bagaimanakah sebenarnya alam pikir Kierkegaard, dan
bagaimanakah buah refleksinya? berikut ini sebuah film
yang amat “berwarna” Kierkegaard

film Ingmar Bergman, “Meterai Ketujuh”. Antonius
Bloch, ksatria Perang Salib, kembali ke negerinya yg
ternyata sedang dilanda wabah penyakit. dia mengutus
pengawalnya utk mencari informasi dari seseorang yg
sedang tiduran di pantai. pengawal itu mencoba
membangunkan orang itu. dg kasar ia menarik tudung dr
kepalanya. yang dilihatnya adalah tengkorak menganga,
tak bermata. ketika pengawal kembali kepadanya,
Antonius bertanya, “adakah dia bicara?” .. jawab sang
pengawal, “dengan sangat fasih ………”


Soren Aabye Kierkegaard … berusia “hanya” 42
tahun(1813-1855), lahir di Kopenhagen, Denmark. dia
menulis sekitar 25 buah buku. sesudah kematian,
karya2nya terlupakan. ketika ditemukan kembali pd abad
20, karya2nya merevolusikan pemikiran2 Eropa. tokoh yg
mempopulerkan pemikirannya adalah Jean Paul-Sartre…

sejak kecil, Kierkegaard telah menunjukkan
kejeniusannya. ayahnya mengetahui hal ini dan
mendidik anaknya dg cukup keras utk itu .. kadang kala
Kierkegaard disuruh menguping pembicaraan penting
selama jamuan makan dg para elit Kopenhagen di
rumahnya. sesudah jamuan, ayahnya menyuruh dia utk
mengevaluasi argumen2 yg dikemukakan selama jamuan
makan itu …. Kierkegaard kemudian disekolahkan di
sekolah Latin dg perintah khusus ayahnya: “bawalah
pulang predikat terbaik ke-3”. Kierkegaard kecil
terpaksa harus membayangkan siapakah yang bakal
mendapat peringkat ke-2 dan ke-4 sehingga dia dpt
menempatkan diri pas di tengah2nya: peringkat ke-3,
sesuai perintah bapaknya.

Kierkegaard membenci sekaligus mencintai agama
Kristen. dia berpendapat bahwa pergi ke gereja dan
berdoa tak ada hubungannya dengan menjadi Kristen. dia
memiliki tunangan yang amat dicintainya, Regina Olsen.
Reginapun cinta berat padanya. tapi Kierkegaard
memutuskan pertunanganan walau sebenarnya dia amat
ingin menikahi gadisnya ini. katanya, “Allah telah
memveto pertunanganku”… Regina amat sedih dan meminta
Kierkegaard utk membatalkan pembatalan itu. ayah
Reginapun sampai meminta2 tetapi tokoh ini tetap tak
bergeming.

kaburlah dia ke Berlin, lalu belajar filsafat Hegel di
bawah asuhan Profesor Schelling yg terkemuka itu ..
kawan sekelasnya antara lain Friedrich Engel (kelak
bersama Karl Marx meluncurkan Manifesto Komunis
akrab), Ludwig Feuerbach (sang atheist, guru
intelektual Marx) dan Michael Bakunin (sang anarkis).
semua mereka ini di kemudian hari menentukan arah
perjalanan sejarah dunia .

setamat dr Berlin, dia kembali ke Kopenhagen tetapi
kemudian kabur lagi ke Berlin krn sewaktu di
Kopenhagen, dia melihat bahwa Regina tersenyum padanya
sewaktu mereka bertemu di gereja. dia mengira bahwa
Regina akan mengajak dia kembali bertunangan.
Kierkegaard menulis bhw dg memutuskan pertunangannya,
dia membebaskan Regina utk bercinta lagi. dan
akhirnya Reginapun menikah dg Fitz Schlegel.
Kierkegaardpun jengkel dan cemburu. beberapa waktu
kemudian dia menulis dlm buku hariannya, “kalau saya
beriman, saya pasti tetap bertunangan dengan Regina!”
sampai ke liang kuburnya, dia tetap mencintai Regina.
setelah suaminya meninggal, Reginapun sebenarnya masih
menunjukkan tanda2 bahwa dia tetap mencintai
Kierkegaard. tetapi kedua insan ini ndak pernah
bersatu. persoalannya terletak pada tokoh nyeleneh
ini, Kierkegaard. entah apa yg ada dalam benaknya.

Kierkegaard aktif menulis dalam jurnal2 di
Kopenhagen.. salah satu jurnal terkemuka adalah “The
Corsair” yg terkenal krn membuat satire2 pedas dan
sarkartis mengenai tokoh2 di Kopenhagen. sekali
waktu, “The Corsair” meresensi karya Kierkegaard
secara positif. hal itu dianggap Kierkegaard sbg
penghinaan atas dirinya. serta merta dia menulis kpd
redaktur, “aku sangat senang bila bukuku diserang ..
serangan padaku adalah pujian padaku”. redakturnya
yg telanjur terhina, memenuhi permintaan Kierkegaard
dg gegap gempita. setiap hari Kierkegaard menuai
“badai”, serangan yg gencar dan hebat. malanglah dia
..

dia menjadi bahan tertawaan di seluruh Denmark.
disindir org2 beradab, diejek anak2 di jalan serta
org2 dusun kemanapun dia pergi. bahkan orang2 tua di
Denmark bersumpah utk tidak menggunakan nama Soren
bagi anak2nya yang bakal lahir. yg telanjur
menggunakan nama Soren kemudian berusaha mengganti.

terhadap Gereja (Lutheran), Kierkegaard melancarkan
serangan gencar. menurutnya, Gereja Purba adalah
revolusi rohani thdp kemapanan kaum religius Yahudi yg
puas diri. tp Gereja masa kini (masa itu) justru
merupakan lambang kemapanan borjuis yg puas diri. dia
melancarkan serangan pada setiap kesempatan yg
mungkin. apa yang dikotbahkan di Gereja dinilainya
sebagai “ocehan limun” belaka. dia juga mencetak
pamfletnya atas biaya sendiri kemudian membagi2kan kpd
para pengikut agama yang setia di jalan2 kota: “para
imam menghidupkan Gereja dan mereka hidup dari Gereja.
itu trik licik yang harus diwaspadai”. “ini yg harus
dipahami: dg tidak ikut ibadah kepada Allah, anda
mengurangi satu kesalahan, yaitu tidak ikut ambil
bagian dalam memperlakukan Allah sebagai orang gila”
….

tgl 2 Desember dia jatuh di jalan, lumpuh lalu
meninggal dunia. hampir terjadi keributan besar dalam
upacara pemakamannya, ketika sejumlah mahasiswa
teologi bertengkar dg Gereja mengenai cara Gereja
mempelakukan jenazahnya. sampai ke liang kuburnya,
Kierkegaard di-“kuyo-kuyo”. sebagian besar karena
ulahnya sendiri. Kierkegaard menghendaki agar pada
nisannya dipasang tulisan berikut: SANG INDIVIDU, tapi
yg tertulis adalah “Soren Aabye Kierkegaard, lahir 5
Mei 1813, meninggal 11 November 1855”….

di kemudian hari, bangsa Denmark boleh berbangga hati
bhw tokoh satu ini ternyata adalah raksasa pemikir
yang mengharumkan nama Denmark. dan orang2 tuapun
tidak lagi malu dg bangga menggunakan nama baptis
Soren bagi anak2 mereka ….


kekagumannya adalah kepada tokoh Socrates, sang filsuf
Yunani, guru dari Plato. “Sokrates mendekati setiap
orang secara perorangan, melucuti segala sesuatu
daripadanya, dan menyuruhnya pergi dengan tangan
kosong”. Sokrates menjadi kondisi (jalan) negatif (via
negativa) bagi para pembelajar untuk belajar sesuatu
tentang diri mereka …. saat menulis thesis masternya
(yg sebenarnya setara dg doktor saat ini) tentang
Socrates, dia menjuduli thesisnya dengan judul
“Konsep Ironi”. setelah tamat dr master, dia
menganggap dirinya sebagai “Master Ironi”.

Kierkegaard juga mengagumi Yesus, tokoh yg teramat
cerdas yg pernah lahir di bumi .. metode pengajaran
Yesus, spt halnya Socrates adalah berupa komunikaai
tak langsung. selalu menggunakan perumpamaan …
“kerajaan surga seumpama biji sesawi”. kadang kala dg
ucapan2 keras … “biarlah orang mati mengubur orang
mati”. atau secara sarkartis … “lebih mudah seekor
onta masuk ke lobang jarum drpd seorang kaya masuk
surga”. atau dg tindakan yang aneh2 … “Yesus mengutuk
pohon ara … ngapain mengutuk pohon ara ? “jangan lagi
seorangpun makan buahmu selama2nya” …. juga dlm bentuk
puitis. “kerajaan Allah ada di dalam diriku” …

menurut Kierkegaard, metode Yesus berkomunikasi adalah
mengguncangkan kemapanan, keseimbangan. menggoyahkan
keadaan enak dan puas diri yg ada di antara individu
dan kebenaran. apa yang diajarkan Yesus tdk dapat
diajarkan dg cara lain yg lbh obyektif. pendengar
dipaksa utk berhadapan dg kekuatan sepenuhnya dr
ajarannya yg bersifat paradoks .. dg demikian
pendengar dipaksa berhadapan dg dirinya sendiri ..
sama dg Socrates.

Kierkegaard meniru cara Socrates dan Yesus dalam
menulis karya2nya, dengan memilih komunikasi tidak
langsung dan …… ironi.

menurut Sartre, pembaca tdk dibawa kemana2, tetapi
kembali kpd diri sendiri … dia memaksa kita utk
meninggalkan konsep2 kita jauh2 – utk kembali kepada
kebebasan kita dan kebenaran2 subyektif kita sendiri …
“dg membaca Kierkegaard, aku mendaki kembali sampai
sejauh yg aku bisa. aku hendak menangkapnya, dan
hasilnya adalah aku sendiri yang tertangkap. karyanya
mengajak aku utk memahami diriku sendiri sebagai
sumber semua konsep” .. aku adalah produsen dr
konsepku sendiri secara bebas. kebenaran adalah
kebenaran subyektifku. akulah yg menentukan kebenaran
bagi diriku sendiri …


mengapa dia sampai pada pemikiran spt itu ?

pada masa hidupnya, dia mendapati bhw filsafat yg
dominan saat itu, pemikiran2 Cartesian, yi
idealisme/rasionalisme dan empirisme/materialisme
meraja lela. dalam jaman kejayaan ilmu spt itu,
manusia makin mudah diperdaya olh kesemuan-kesemuan
tak bermakna. ini krn kita cenderung bekerja dan
bergaul dg kenyataan melalui abstraksi ..

apa itu abstraksi ? kira2 demikian contohnya. semua
manusia Indonesia ramah .. “manusia Indonesia” adalah
abstraksi, konsep … yg nyata adalah Kartono, Kartini,
Kartolo, Soeharto, Aples, dsb .. yg nyata adalah
individu .. kartono, kartolo dsb kalau dikumpulkan,
dan dicari kesamaan2 pd mrk maka akan muncul apa yg
disebut manusia. ciri2 yang sama inilahyg membentuk
sebuah konsep, konsep manusia. manusia adalah sebuah
konsep, sebuah abstraksi … “umat katolik” adalah
sebuah konsep. Gereja Katolik adalah sebuah konsep
.. yg nyata adalah Petrus, Jakobus, dsb .. manusia2
individual… Rakyat Indonesia adalah sebuah konsep. yg
nyata adalah si A, si B, dsb …. yg nyata adalah”the
man”, orang itu .. dan bukan “a man” atau “man” atau
“people”. pelanggan, customer adalah anonim .. anda
mempelakukan si A sbg pelanggan, maka anda
mempelakukan dia hanya sbg sebuah konsep, sebuah
abstraksi di mana, di dalam diri si A anda hanya lihat
hanyalah kualitas2 tertentu yg relevan dan perlu utk
memenuhi kritreria sbg pelanggan .... aspek2 manusiawi
dan individual lain tdk anda perhatikan, tdk penting
…. dokter melihat si Soeharto hanya aspek2 tertentu
dalam kaitan sebagai pasien … Soeharto diabstraksi
sedemikian shg memenuhi kriteria pasien, “Soeharto”
adalah organisme yg fungsi2 biokimiawi-nya terganggu
shg “sakit” … “Soeharto” hanyalah sebuah konsep,
sebuah abstraksi.

karena bekerja dg konsep/abstraksi, maka segala
sesuatu dipukul rata, disama ratakan. jaman ini
adalah jaman penyama rataan. manusia menjelma menjadi
manusia massa … proses penyama rataan ini tdk
menghiraukan individualitas, tdk peduli dg perbedaan
kualitatif antara orang satu dg orang lain,
ketunggalan pribadi serta penghayatan subyektif.
pribadi/individu ditelan oleh massa, dihanyutkan dalam
gerakan-gerakannya …

“to battle against princes and popes is easy compared
with struggle against the masses, the tyranny of
equality, against the grin of shallowness, nonsense,
baseness and beastiality”
(berjuang melawan pangeran2 dan paus2 adalah lbh
ringan dibandingkan dg pertarungan melawan massa,
tirani kesamaan, kedangkalan, omong kosong, ketiadaan
azas serta kebinatangan”.

0 comments:

Posting Komentar