Minggu, 08 November 2009

Sekilas Teori beserta Tokoh Perkembangan Teknologi Komunikasi

Oleh : Hendri Rahman
Analisis perkembangan teknologi dapat melibatkan beberapa tokoh beserta teori-teorinya dalam rangka mempelajari secara historis ataupun teoritis yang telah diterapkan dalam suatu peristiwa. Diawali oleh Thorstein Veblen (1857-1929) yang terkenal dengan teorinya tentang “konsumsi”. Veblen menyatakan dengan fenomena konsumsi ini akan tercipta suatu kebutuhan dan ketergantungan terhadap alat-alat teknologi, karena dengan semakin banyaknya kebutuhan manusia maka semakin meningkatnya kesadaran dalam berproduksi yang diperlihatkan dengan alat-alat teknologi yang semakin maju. Dengan kemajuan teknologi ini maka akan berdampak terhadap perubahan social yang ada di dalam masyarakat itu sendiri. Maka terjadilah suatu dominasi teknologi terhadap perubahan social yang ada, yang sesuai dengan statmentnya Veblen yang paling terkenal yaitu “We Can’t Stop Progress”. Statement itu, mengarahkan bahwa kita tidak akan pernah bisa menghentikan suatu perkembangan-perkembangan dan kemajuan.

Kemudian setelah Veblen, Marshall Mc Luhan (1911-1980) dengan teorinya yang terkenal yaitu “The Medium Is The Massage”. Media itu sendiri merupakan pesannya, karena Marshall ini merupakan mempunyai paham yang sama dengan Veblen yaitu Determinisme Teknologi yang bermaksud “The Technology as The agent of social change”, artinya teknologi itu sendiri sebagai agen perubahan social. Teknologi itu sendiri yang merupakan alat perpanjangan inderawi manusia (The Exstension of Man), computer sebagai perpanjangan dari otak manusia misalnya. Teori yang kedua adalah “global village”, teori ini menggambarkan bahwa dunia yang luas ini seperti sebuah lokalitas yang sempit, dimana suatu informasi, kebutuhan dapat diakses dengan begitu cepatnya dengan tidak mengenal ruang dan waktu.

Jean Baudrillard (1929-2007) tampil dengan teorinya tentang “Simulacra” dalam menjelaskan konsepnya tentang “hiperrealitas”. Simulacra itu sendiri merupakan suatu proses dimana suatu gambaran suatu objek justru menggantikan objek itu sendiri. Sehingga ada suatu realitas lain yang tidak sesuai dengan dengan realitas sebenarnya. Seolah-olah ada suatu proses manipulasi dalam reproduksi suatu fenomena itu sendiri. Maka menurut Baudrillard realitas yang nyata itu tidak ada, yang ada hanyalah hiperrealitas yang telah di tentukan dan dipengaruhi oleh factor-faktor kekuasaan yang dominan.

Menurut Veblen dan Mc Luhan factor penentu perubahan social budaya itu dipengaruhi oleh teknologi, lain halnya dengan Raymond William (1921-1988) kekuatan ekonomi dan politik itu sendiri yang dapat mempengaruhi perubahan social dan budaya suatu masyarakat. Dengan materialism cultural William sekaligus menegaskan kembali bahwa kebudayaan haruslah dimengerti dalam representasi dan praktek-praktek sehari-hari dalam konteks kondisi material produksinya, analisis materialism cultural berarti analisis atas semua bentuk penandaan dalam kondisi dan makna yang actual ketika ia diproduksi. Dalam sejarah yang sama cultural studies yang bertitik tekan pada studi pergulatan hegemoni budaya, sebagaimana kita tahu, pemikiran mark menginspirasi munculnya teori ini pada media massa. Disebutkan, media akan menampilkan budaya yang akan dibawa oleh kaum dominan, dalam kasus ini elite penguasa sebagai budaya yang harus diagung-agungkan.

Yang terakhir adalah Paul Virilio (1932-) dengan teori The Dromosphere, yang menjelaskan bahwa dengan kecepatan teknologi dapat mempersempit ruang gerak masyarakat secara topografik. Dromology sangat penting ketika mempertimbangkan penataan masyarakat dalam kaitannya dengan perang dan media modern. Dia mencatat bahwa kecepatan di mana sesuatu yang terjadi dapat mengubah sifat esensial, dan bahwa yang bergerak dengan kecepatan cepat datang untuk mendominasi yang lebih lambat. Paul Vrilio mengemukakan, saat ini dunia tengah mengalami percepatan yang luar biasa, menurutnya kecepatan menjadi ciri kemajuan sehingga ia membentuk kemajuan-kemajuan dalam tempo tinggi.

Setelah pemaparan diatas ada suatu keunikan tersendiri bagi setiap tokoh beserta teorinya, antara Veblen, Mc Luhan, dan paul Virilio agaknya sama dan searah memahami konteks teknologi yaitu sebagai penentu bagi perubahan budaya dan social mereka membenarkan dictum determinisme teknologi, tetapi Raymond William sendiri berbeda dengan hal itu, penentu dan pengaruh perubahan budaya dan social bukanlah teknologi itu sendiri akan tetapai factor kekuasaan ekonomi dan politik.
Media-media ataupun alat teknologi komunikasi lainnya dalam hal memproduksi dan mereproduksi semuanya dikuasai oleh factor ekonomi atau politik yang lebih dominan, baik dari segi ideology, lembaga, kelompok ataupun oleh individu. Menurut penulis pribadi, teori ini yang lebih relevan untuk menjadi alat analisis dalam konteks perkembangan tekonologi komunikasi dan media modern pada dewasa ini. Karena teknologi itu sifatnya netral, dampak dan pengaruh yang ditimbulkan bukan dari teknologi akan tetapi pelaku-pelaku yang memainkan dan menguasai teknologi itu sendiri.

Menerawang kepada teori Mc Luhan “The Medium Is The Massage”, menurut penulis teori ini sama hiperbolanya dengan jean baudrillar dengan konsep hipperealitasnya, Jean baudrillard beranggapan bahwa realitas itu telah dikalahkan maknanya dengan hipperealitas, sehingga menafikan realitas itu sendiri, dan beranggapan bahwa peristiwa perang teluk itu tidak ada. Begitu pula dengan Mc Luhan media dan pesan adalah suatu varian yang berbeda yang tidak dapat disederajatkan, karena media dan pesan merupakan subsistem dari sistem komunikasi. Dimana komunikasi dapat terjadi minimal ada pelaku dan pesan.

Oleh karena itu konteks teknologi sebagai agent of change kurang relevan, bila media yang dikambinghitamkan. Akan tetapi factor kekuasaan ekonomi dan politik yang sebagai perubah social dan budaya yang sejalan dengan teorinya Raymond William.

0 comments:

Posting Komentar