Sabtu, 07 November 2009

Raymond William

Hendri Rahman
Raymond William
Williams membangun sebuah pemahaman yang lebih menekankan karakter kehidupan sehari-hari, yaitu kebudayaan sebagai keseluruhan cara hidup. Baginya kebudayaan sekaligus meliputi seni, nilai, norma-norma, dan benda-benda simbolik dalam hidup sehari-hari, ia merupakan bagian dari totalitas relasi-relasi sosial. Teori kebudayan dengan begitu didefinisikan sebagai studi tentang relasi-relasi antarelemen dalam hidup sosial.
Menurut Williams (1965), “kita perlu membedakan tiga tingkat kebudayaan, bahkan dalam definisi yang paling umum. Ada kebudayaan yang hidup pada waktu dan tempat tertentu () yang hanya bisa dinikmati secara penuh oleh mereka yang hidup pada waktu dan tempat itu pula. Ada kebudayaan yang terekam dalam segala bentuknya, mulai dari karya seni hingga fakta-fakta keseharian: ini disebut kebudayaan suatu periode (). Ada juga faktor yang menghubungkan kebudayaan yang hidup pada suatu waktu tertentu dan kebudayaan di suatu periode, ini disebut kebudayaan tradisi yang terseleksi ().”
Secara khusus perhatian Williams dalam dan adalah pada pengalaman-pengalaman kelas pekerja dan aktivitas mereka dalam mengkonstruksi kebudayaan. Di sini, Raymond William biasanya dikaitkan dengan nama Richard Hoggart dan Edward Thompson. Ketiganya disebut sebagai “trio kulturalisme kiri Inggris”. Thompson menulis (1963); ia dan Williams adalah anggota Dewan Editor . Sementara Hoggart menulis tentang kebudayaan kelas pekerja dalam (1957), dan pada 1964 bersama Stuart Hall ia kemudian mendirikan Centre for Contemporary Cultural Studies di Universitas Birmingham.
Di kemudian hari, Hall lebih dikenal sebai seorang anti-kulturalis dan cenderung marxis-strukturalis, yang membawa teori-teori Althusser, Derrida, Foucault dan Lacan ke dalam wacana cultural studies, dan secara intelektual posisinya berseberangan dengan Williams, Hoggart, dan Thompson (Milner 1994). Williams sendiri sampai akhir hidupnya tetaplah seorang kulturalis yang teguh, yang tidak terlalu antusias dengan kritisisme teks dari semiotika dan strukturalisme (Murdock 1997).
Jika hegemoni adalah kebudayaan, maka secara material ia adalah produk dari agen yang sadar dan bisa dilawan oleh alternatif sebuah aksi . Jika hegemoni adalah struktur ideologi maka, ia akan menentukan subjektivitas dari subjek dengan cara-cara yang secara radikal mengurangi kemungkinan sebuah aksi . Hegemoni sebagai kebudayaan adalah masalah produksi material, reproduksi, dan konsumsi. Hegemoni sebagai struktur adalah masalah penafsiran tekstual.
Dalam sejarah bersama cultural studies, Richard Hoggart (1957), Raymond Williams (1965, 1979, 1981, 1983) dan Edward Thompson (1963) dipandang sebagai tokoh utama yang mewakili momen kulturalisme, yang dilawankan dengan strukturalisme. Kulturalisme memfokuskan perhatiannya pada produksi tanda oleh aktor manusia dalam suatu konteks historis, sedangkan strukturalisme memandang kebudayaan sebagai struktur dalam bahasa yang ada di luar kehendak aktor dan menguasai mereka. Sementara kulturalisme menekankan pada sejarah, pendekatan strukturalisme lebih bersifat sinkronis, menganalisis struktur relasi dalam satu kilatan momen tertentu. Strukturalisme juga menegaskan sifat khas kebudayaan dan kemustahilan untuk mereduksinya pada bentuk fenomena apa pun, ia tidak menganut pemahaman bahwa kebudayaan ditentukan oleh kondisi material produksi. Sementara kulturalisme memfokuskan perhatiannya pada interpretasi sebagai cara memahami makna, strukturalisme menegaskan kemungkinan adanya ilmu tanda dan adanya pengetahuan objektif.
Pascastrukturalisme menolak ide tentang struktur stabil yang melandasi makna melalui pasangan biner tetap, makna adalah sesuatu yang tidak stabil, yang selalu tergelincir dalam prosesnya. Makna adalah hasil hubungan antarteks (intertekstualitas). Pengaruh pascakulturalisme dalam cultural studies adalah antiesensialisme yang berbicara tentang kebenaran atau identitas sebagai hal yang tidak bersifat universal namun sebagai produksi kebudayaan dalam konteks ruang dan waktu tertentu. Kebenaran dipahami sebagai sesuatu yang dibikin, sedangkan identitas merupakan hasil konstruksi diskursif. Sedangkan pascamodernisme memahami bahwa pengetahuan bersifat spesifik dalam permainan bahasa, meyakini adanya keragaman, pluralitas dan lokalitas pengetahuan. Pascastrukturalisme dan pascamodernisme adalah pendekatan antiesensialis yang menekankan peran konstitutif bahasa yang tidak stabil, keduanya memiliki pendekatan yang sama terhadap epistemologi, yaitu penolakan atas kebenaran sebagai objek abadi yang tetap. Mereka menyatakan bahwa subjektivitas merupakan efek bahasa atau diskursus dan bahwa subjek mengalami perpecahan.

Dalam cultural studies ada tiga cara analisis yang cukup terkemuka (tekstual), yaitu semiotika, teori narasi dan dekonstruksi. Semiotika mengeksplorasi bagaimana makna yang terbentuk oleh teks diperoleh melalui penataan tanda dengan cara tertentu dan melalui penggunaan kode-kode kultural. Narasi merupakan bentuk terstruktur di mana kisah membuat penjelasan tentang bagaimana dunia ini. Narasi sebagai rekaman peristiwa, menawarkan kerangka pemahaman dan aturan acuan tentang bagaimana tatanan sosial dikonstruksi. Genre menstrukturkan proses narasi dan mengisinya; mengaturnya dengan menggunakan elemen-elemen dan kombinasi spesifik elemen tersebut untuk menghasilkan koherensi dan kredibilitas. Genre merepresentasikan sistematisasi dan pengulangan masalah dan penyelesaiannya dalam narasi (Neale, 1980). Dekonstruksionisme dihubungkan dengan ’penghapusan’ yang dilakukan Derrida terhadap oposisi biner. Mendekonstruksi berarti menelanjangi, menghapus teks dalam rangka menemukan dan menampilkan asumsi teks tersebut. Dekonstruksi melibatkan pengungkapan oposisi konseptual hierarkis yang menjamin kebenaran dengan menyingkirkan dan mendevaluasi bagian ’inferior’ dari oposisi biner tersebut. Derrida mengajukan konsep under erasure untuk mendestabilisasikan hal-hal yang sudah mapan, untuk menandainya sebagai hal yang berguna, perlu, tidak tepat sekaligus keliru. Derrida berusaha memperlihatkan ketidakmenentuan makna.
Para perintis studi resepsi menyatakan bahwa apa pun yang dilakukan analisis makna tekstual sebagai sebagai kritik masih jauh dari kepastian tentang makna yang teridentifikasi yang akan diaktifkan oleh pembaca/ audien/ konsumen. Karena audien merupakan pencipta aktif makna dalam kaitannya dengan teks. Karya-karya dalam tradisi hermeneutika dan studi resepsi literer menyatakan bahwa pemahaman selalu berasal dari posisi dan sudut pandang orang yang paham, yang tidak hanya melibatkan reproduksi makna tekstual namun juga produksi makna oleh pembacanya. Teori menempati posisi tinggi dalam cultural studies. Teori dapat dipahami sebagai narasi yang berusaha membedakan dan menjelaskan ciri-ciri umum yang mendefinisikan dan menjelaskan terus-menerus kejadian yang dipersepsikan.
Cultural Studies yang betitik tekan pada studi pergulatan hegemoni budaya-sebagaimana kita tahu, pemikiran Marx menginspirasi munculnya teori ini- pada media massa. Disebutkan, media akan menampilkan budaya yang dibawa oleh kaum dominan-dalam kasus ini, elite penguasa-sebagai budaya yang harus diagung-agungkan-bahkan mungkin direplikasi.
Apa keterkaitan antara teori hegemoni dengan base and superstructure ? Beri contoh konkret dalam industri media !
Kehadiran base and superstructure sudah tentu akan memunculkan hegemonitas. Fokus base and superstructure adalah memberikan pengaruh yang tujuannya mengikat kaum proletar yang bisa dipekerjakan sesuai dengan keinginan dan kehendak dari para pemilik modal.
Fenomena semacam ini tentunya akan menciptakan sebuah hegemonitas oleh pihak pemilik modal atau pemilik faktor produksi atas para pekerja.
Teori hegemoni diartikan sebagai dominasi ideologi, namun lebih dari itu teori hegemoni memiliki kemampuan untuk mengoperasionalkan keputusan yang kita buat tentang sesuatu yang kita terima. Hegemoni mampu mengikat jiwa maupun pemikiran atau persepsi kita akan suatu hal yang kita yakini.
Contoh : Acara reality show AFI (Akademi Fantasi Indosiar) yang menghebohkan, sehingga diikuti oleh stasiun televisi yang lain dengan acara yang hampir sama, seperti Indonesian Idol, KDI (Kontes Dangdut TPI), dan acara-acara lainnya. Dengan munculnya fenomena tersebut, massa atau khalayak baik langsung atau tidak langsung juga terhegemoni oleh mode trend AFI dan acara sejenis lainnya, baik dari tata busana, sampai tingkah lakunya. Selain itu, acara reality show seperti AFI, KDI, Indonesian Idol dan lain-lain, secara tidak langsung menunjukkan adanya hegemonitas yang dilakukan oleh stasiun televisi selaku pemilik faktor produksi yang bekerja sama dengan perusahaan (yang beriklan di stasiun televisi tersebut) selaku pemilik modal atas khalayak yang menjadi masyarakat yang terhegemoni. Hal ini terbukti dari banyaknya SMS yang masuk selama acara reality show berlangsung hanya karena “bujuk rayu” dan “kebutuhan” yang diciptakan dengan sengaja oleh pemilik faktor produksi yang bekerja sama dengan pemilik modal untuk “menjebak” khalayak dalam pengaruh mereka.
Buku karangan Williams yang berjudul ‘Culture and Society’ (1958) menjelaskan bahwa kemunculan konsep ‘culture’ dalam revolusi indutri di Inggris, merupakan kunci dari masalah ‘culture and society’. Kesimpulan yang dapat ditarik dari tulisan Raymond Williams akan fenomena ‘culture and society’ berkomentar dalam suatu terms educational `ladder', `standards', and 'class'. Perhatian utama yang ditekankan disini adalah penggunaan massa (mass) dalam sosial masyarakat dan komunikasi massa. Argumen yang diketengahkan dalam hal ini adalah argumen bahwa ‘mass culture’ mengabaikan perhatian dari penulis atau pengarang (hal ini tidak menyiratkan bahwa pengarang terisolasi, tetapi merupakan suatu hubungan yang berkesinambungan), isu resepsi dan tanggapan, dan biasanya melibatkan adanya pembiasan dan pembatasan dalam pemilihan contoh. Argumentasi dari Raymond Williams adalah klasifikasi kerja dalam kultur mempunyai struktur gagasan kolektif. Hal ini dapat dilihat akan adanya kelas-kelas yang ada dalam masyarakat dalam hal penentuan posisi maupun kelas dalam suatu pekerjaan.
Dalam buku ‘Communications’(1962), memperkuat argumentasi ‘the long revolution’. Williams memperdalam lingkungan kerjanya dalam ‘culture study’, mencoba meninjau ulang metode, isi ‘cultural media’ dan temuan lain yang mendukung untuk menghubungkan kuasa, hak milik, dan produksi.
/www.uiowa.edu/~commstud/resources/critical_authors.html
http://staff.undip.ac.id/sastra/agusmaladi/2009/04/03/kebudayaan-populer-sebagai-keseluruhan-cara-hidup
http://aufklarungofcuqiez.blogspot.com/2009/04/arus-arus-intelektual-cultural-studies.html
http://independent-institute.org/adakah-cultural-studies-dalam-sastra-pantulan-bola-dalam-sastra-dan-budaya
http://www.geocities.com/nunk_shion/paper/marx3.htm
http://kuliahkomunikasi.com/2009/05/studi-kasus-cultural-studies-theory/

0 comments:

Poskan Komentar