Sabtu, 07 November 2009

PENGELOLAAN PRODUKSI

PENGELOLAAN PRODUKSI
Pada bab terdahulu telah diuraikan tugas dan tanggung jawab seorang produser dan produser kerjanya dalam pembuatan program, sejak dari tahap preproduction sampai dengan post production, serta keempat tahapan yang harus dilalui waktu melaksanakan pembuatan program. Urut-urutan itu dijabarkan sebagai berikut.
a. Perencanaan /ide/pengembangan ide;
b. Pengumpulan data;
c. Penyusunan struktur naskah;
d. Penulisan naskah;
e. Penggandaan dan distribusi naskah;
f. Planning meeting (pengarahan perencanaan);
g. Pengkajian naskah;
h. Konsultasi bersama artis pendukung;
i. Hunting lokasi (pencarian tempat);
j. Production meeting (pengarahan produksi);
k. Latihan-latihan;
l. Penulisan shooting script (naskah tayang);
m. Produksi di luar studio;
n. Produksi di dalam studio;
o. Editing (penyutingan);
p. Mixing (pencampuran);
q. Evaluasi/perbaikan; dan
r. Program siap siar.
Urutan-urutan teresbut menunjukan batas awal tugas seorang pengarah acara. Tugas seorang produser tidak berakhir sampai disini, sebab ia akan melakukan kerja sama dengan pengarah acara sampai dengan acara yang diproduksi dinyatakan siap siar. Batas awal tersebut setelah produser menyelenggarakan planning meeting (pengarahan rencana), kemudian produser akan memberikan tugas berikutnya kepada pengarah acara yang ditunjuk untuk melaksanakan produksi. Tahap-tahap selanjutnya yang dilakukan oleh pengarah acara adalah sebagai berikut.
1. Langkah Awal
langkah awal yang dikerjakan oleh pengarah acara setelah menerima naskah dari seorang produser yaitu mempelajari naskah, kemudian mengubah naskah tersebut menjadi susunan audio visual sesuai dengan kaidah pertelevisian.
Karena, itu didalam mempelajari naskah tersebut, diarahkan kepada :
1) Format acara,
2) Isi pesan ,
3) Artis pendukung,
4) Penataan artistiknya, dan
5) Lokasi yang dibutuhkan
Kelima faktor terebut merupakan faktor yang memberikan warna program yang di hasilkan. Dalam hal ini, pengarah acara perlu melakukan konsultasi dengan artis pendukung, dengan maksud untuk mengetahui apakah artis yang telah dipersiapkan oleh produser benar-benar memnuhi syarat perwatakan sesuai dengan tuntutan naskahnya. Juga harus berkonsultasi dengan art director (penata artistik) dan sebagainya. Disamping itu, perlu dipikirkan pula lokasi tempat produksi akan dilaksanakan (kalau produksinya diluar studio). Masalah dekorasi,pengarah acara dapat menyampaikan idenya kepada art designer (perancang seni) dalam bentuk sketsa atau sepenuhnya diserahkan kepada desainer untuk merencanakan sesuai dengan tuntutan naskah yang sebelumnya telah dibagikan. Selanjutnya deasiner membuat desain dekorasi tersebut dan apabila pengarah acara telah menyetujui, segera dibuat sebuah maket dan gambar perspektif dalam formulir yang telah disediakan.
Disamping itu, perekayasa dekorasi harus menuangkan rencana dekorasinya kedalam formulir denah studio dengan perbandingan ukuran tertentu, seperti contoh gambar berikut. Hasil rekayasa ini oleh pengarah acara akan dibawa ke production meeting (pengarah produksi) yang akan diselenggarakan. Sebelum menyelenggarakan production meeting bersama produser pengarah acara harus sudah menyiapkan rencana kerja produksi yang akan di gunakan sebagai bahan informasi kepada seluruh anggota kerabat kerja. Dengan demikian, rencana kerja produksi ini akan merupakan suatu alat kordinasi, sehingga akan memudahkan pembentukan tim kerja yang benar-benar homogen, serta diharapkan dapat menghasilkan suatu program sesuai dengan keinginan khalayak.
Disamping itu, pengarah acara harus sudah benar-benar memahami permasalahan yang ada dalam naskah. Karena itu, dalam melakukan analisis naskah serinci mungkin.
2. Production meeting (pengarahan produksi)
Atas dasar rencana kerja produksi yang telah disusunya, pengarah acara bersama seluruh anggota kerabat kerja, megadakan production meeting. Dalam production meetintg ini pengarah acara memberikan penjelasan seluruh rencana kerjanya agar hasil produksi sesuai dengan rencana. Dalam pertemuan ini di jelaskan beberapa maslah yang berkaitan dengan pelaksanaan produksi sebagai berikut :
1) Pesan yang ingin di sampaikan kepada khalayak;
2) Format produksinya;
3) Banyaknya artis pendukung;
4) Karakter produksinya (di dalam/di luar studio atau gabungan antar keduanya);
5) Berbagai trik yang akan di gunakan;
6) Lokasi yang akan di pakai serta banyaknya kamera., alat perekam yang akan di gunakan (apabila diproduksi di luar);
7) Durasi (kelanjuatan) acara yang akan dibuat; dan
8) Latihan-latihan yang akan di laksanakan.
Karena hasil produksi bukan karya seorang saja, melainkan merupakan hasil kerja kolektif, maka dalam production meeting pengarah acara harus mengusahakan terjadinya arus komunikasi dua arah sehingga akan terjadi diskusi-diskusi. Ini berarti bahwa sebagai pengarah acara harus mau menerima dan mendengarkan berbagai saran dari anggota kerabat kerjanya. Sebab, hal yang akan sangat membantu terbentuknya tim kerja yang homogen.
Untuk melaksanakan produksi dalam studio, masalah florplant yang direncanakan oleh art designer dan telah disetujui oleh pengarah acara, merupakan bahan diskusi yang menarik, sebab floorplant akan melibatkan kepentingan satuan kerja teknik. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau sering terjadi perbedaan pendapat akibat sudut pandang yang berbeda karena kepentingan satuan kerjanya. Karena itu, pengarah acara harus mampu mencari jalan keluar yang sebaik-baiknya dan setepat-tepatnya sehingga tidak akan mengganggu kebutuhan tim. Bahkan, diharapkan dengan adanya perbedaan ini justru dapat menghasilkan perekayasaan yang lebih baik. Apabila floorplant telah di sepakati bersama, floorplant akan diberi tanda-tanda letak kamera, letak mikrofon dan jenisnya. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa floorplant sebagai salah satu alat koordinasi kegiatan di dalam studio.
Disamping mendiskusikan masalah floorplan diatas, pengarah acara juga akan menjelaskan rencana pengambilan gambar serta kemungkinan akan digunakannya berbagai trik tertentu. Demikina pula berbagi gagasan lain yang dimiliki dan yang diinginkan. Masalah rencana pengambilan gambar, dalam arti pembagian waktunya, harus dipikirkan semasak-masaknya, apalagi kalau naskah yang akan di produksi mempunyai alur cerita dan banyak lokasi yang dibutuhkan. Dengan demikian, harus diusahakan sedemikian rupa sehingga tidak banyak waktu yang kebuang, yang beerarti mengurangi pemborosan.
Pengambilan gambar tidak harus dilakukan shot demi shot menurut alur ceritanya. Artinya, bahwa scene satu tidak harus dilakukan pengambilan gambarnya pada hari pertama dan scene ke sepuluh pada hari kesepuluh, melainkan dapat dilaksanakan secara out of sequence (tidak secara berurutan).
Pengambilan gambar yang dilakukan secara berurutan sesuai dengan alur ceritanya, akan mengalami beberapa kesulitan sebagai berikut :
a. Waktu yang dipergunakan relatif lama
b. Pemindahan peralatan terjadi berulang kali, yang sebenarnya hal tersebut tidak perlu terjadi
c. Semua arttis, pada waktu yang sama, harus selalu siap untuk berperan
d. Biaya yang di butuhkan meningkat
e. Diperlukan hanya satu lokasi saja yang tidak mungkin dilakukan
Karena itulah naskah yang di terima oleh pengarah acara harus dirinci terlebih dahulu (breakdown script), agar dapat mendapatkan shooting plan (perencanaan pengambilan gambar) yang benar-benar efektif.
Perencanaan pengambilan gambar harus di buatberdasarkan berbagai pertimbangan berikut:
a. Hari untuk pengmbilan gambar
apabila hari untuk pengambilan gambar hanya terbatas, maka harus di usahakan segala aspek pengambilan gambar harus dapat di penuhi.
b. Lokasi pengambilan gambar
Apabila izin pemakaian lokasi sangat terbatas, maka pengambilan gambar harus disesuaikan dengan izin yang ada.


c. Artis pendukung
seperti halnya masalah lokasi, apabila artis pendukung waktunya sangat terbatas akibat telah di kontrak oleh pihak lain, maka perencanaan pengambilan gambar harus pula disesuaikan.
d. Suasana, kostum, tata rias, dan property (peralatan)
Apabila ada kemungkinan masalah suasana adegan, kostum,tata rias, ataupun properti (pralatan) yang sama, kelompokan menjadi satu. Dengan demikian akan sangat membantu efisiensi dalam melaksanakan pengambilan gambar.
Setelah production meeting (pengarahan produksi) ini, semua satuan kerja akan melakukan persiapan-persiapan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Pengarah acara akan mengikuti latihan-latihan artis pendukungnya, dengan maksud memberikan arahan sesuai dengan rencananya. Apabila latihan sudah pada tahapan tertentu, bersama technical director (pemimpin teknik/ TD), kamerawan, penata suara, penata lampu, floor director (pemimpin pelaksana), serta asisten pengarah acara, bersama-sama melihat latihan yang diselenggarakan dengan maksud untuk menyesuaikan dengan persiapan yang dilakukan.
3 latihan (rehearsal)
latihan merupakan langkah awal para artis pendukungnya. Latihan di bagi dalam beberapa tahap sebagai berikut :
1) Read through (persiapan membaca),
2) Walk through (persiapan gerak),
3) Blocking (posisi),
4) Dry rehearsal (latihan kering),
5) Camera rehearsal (latihan kamera), dan
6) General rehearsal (gladi bersih).
Pengarah acara, dalam semua tahapan latihan, peranannya sangat besar, sebab ia akan mengarahkan para artis pendukung kepada hal-hal yang berhubungan dengan cara membawakan acara dan membawakan peran yang di bebankan kepadanya, baik yang berupa akting visual maupun akting auditif. Juga akan memberikan petunjuk-petunjuk lainnya termasuk masalah blocking-nya (tempatnya). Di samping itu., pengarah acara juga harus menjelaskan tentang tata dekorasi yang akan di gunakan penataan dekorasi beserta peralatan yang sesuai dengan yang akan di gunakan di setudio. Hal ini di lakukan agar dapat membantu apabila latihan di pindahkan di studio.
1. Read through (persiapan membaca)
Dipimpin oleh pengarah acara, para artis pendukung mengadakan latihan membaca naskah secara lengkap. Selama latihan pengarah acara memberikan petunjuk-petunjuk tentang tanda baca bagi acara yang bersifat monolog dan tentang vocal acting (langkah vokal) dan penafsiran peran yang dibebankan kepadanya. Hal ini akan sangat membantu dalam latihan berikutnya.
2. Walk trough (persiapan gerak)
Dalam latihan ini artis pendukung di arahkan sudah tidak menggunakan naskah bagi serta dalam berdialog artis sudah dengan penuh perasaan. Di samping itu, sudah diarahkan masalah gerakan yang disesuaikan dengan visual aktingnya (gerak visualnya).
3. Bloking (posisi)
latihan bloking (posisi) dapat dimulai di luar setudio, kemudian di teruskan didalam setudio pengarah acara didampingi kamerawan, penata cahaya, penata suara, dan sistem pengarah acara. Tujuan latihan bloking ini di maksudkan untuk mengatur posisi artis sesuai dengan tuntutan aktingnya. Karena itu, dalam setiap posisi, pengarah acara, kamerawan, penata lampu, dan penata suara melakukan tugasnya masing-masing.pengarah acara menentukan posisi kamera dan komposisi gambar yang hasilnya dikompromikan dengan kamerawan. Hasil kesepakatan bersama dicatatsebagai bahan penyusunan camera script dan camera cut, sedangkan penata cahaya dan penata suara memperhatikan medan pemain yang akan digunakan sebagai bahan penata lampu dan suara. Sewaktu latihan di studio tata dekorasi sudah didirikan sesuai perencanaan, meskipun masih sempurna benar. Di samping itu sewaktu latihan switcher (pemandu gambar) sudah mulai aktif menjalankan tugasnya, demikian pula operator audio. Selesai latihan blocking di studio pengarah acara dibantu asisten pengarah acara mulai menyusun camera script, camera cut, dan story board yang akan digunakan dalam dry rehearsal.
5. Dry rehearsal (latihan kering)
Dry rehealsal atau lebih di kenal dengan latihan kering adalah latihan yang para artisnya masih belum menggunakan tata rias, tata busana dan tata rambut sesuai dengan peran yang dibawakan. Dalam latihan kering ini, semua bagian harus melakukan semua yang telah diarahkan oleh pengarah acara, baik masalah akting, visual acting, vocal acting, movement actin, maupun blokingnya. Tetapi, dalam latihan ini sudah menggunakan kamera dan sebagainya. Dengan demikian, semua petugas sudah mulai menggunakan pedoman yang telah di tulis oleh pengarah acara, meskipun kemungkinan masih terjadi perubahan akibat dry rehearsal ini.
5. Camera rehearsal (latihan kamera)
Camera rehearsal meruopakan tindak lanjut dari dry rehearsal. Dalam latihan ini lebih ditekankan kepada latihan gerakan kamera (camera work), swesuai dengan hasil yang telah di catat dan dituangkan kedalam camera script maupun camera cut. Selama latihan ini pengarah acara akan selalu melakukan koreksi-koreksi apabila terjadi kesaslahan-kesalahan.
6. General rehearsal (gladi bersih)
General rehearsal lebih di kenal dengan gladi bersih. Dalam gladi bersih ini sifatnya sudah lain dengan gladi kering, karena dalam gladi bersih semuannya sudah dilaksankan sesuai dengan pelaksanaan sebenarnya. Para artis sudah bertata busana lengkap, tata dekorasi serta property (peralatan) sudah disiapkan. Demikian pula penata lampu serta penata suaranya. Dengan demikian, semua petugas sudah siap di tempat masing-masing. Dalam general ini hasilnya juga direkam yang sebenarnya, sehingga bagian – bagian yang dirasa lebih baik akan digunakan sebagai bahan editing. Dalam general rehearsal ini pengarah acara sudah menggunakan naskah yang telah disusunnya. Demikian pula, kamerawan sudah berpegang pada camera cut yang sudah disusun pengarah acara.
Urain diatas menunjukan betapa besarnya peranan pengarah acara dalam merencanakan tugas produksi secara dalam mengkoordinasikan kerabat kerjanya, agar dalam melakasanakan tugasnya mereka selalu di landasi tanggung jawab.
Semua itu di tujukan untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya. Demikian pula tampak peranan naskah yang di gunakan
4.Perencanaan Program
Rencana acara siaran pendidikan harus di tuangkan dalam bentuk naskah yang di susun dengan strukturyang berlaku bagi masing-masing format. Dengan demikian, bukan hanya masalah “isi” yang mendapat tekanan, sebab naskah dengan struktur dan format yang tepat, dapat disejajarkan seperti metode mengajar di dalam kelas. Meskipun materi yang akan di ajarkan sangat baik, tetapi kalau metode mengajarnya tidak tepat, sulit di terima audien, sebab hal ini berkaitan pula dengan daya tarik, kejenuhan, dan daya tangkap khalayak sasarannya.

0 comments:

Posting Komentar