Sabtu, 07 November 2009

Paul Virilio

Hendri Rahman
Dromologi, Perang dan Cinema
Paul Virilio
Virilio's studi tentang hubungan antara militer dan hiburan tehnology teknologi banyak membawa kita kembali ke tema yang sama telah kita lihat. Perang dan Cinema (1984) menunjukkan kolonisasi waktu luang teknologi militer, dan pengenalan dari "intelijen militer" ke dalam pelatihan mata sipil. Hal ini bukannya tidak berarti bahwa kamera film adalah keturunan dari senapan Gatling. Film-bioskop belajar untuk menyaksikan dengan mata gunsight. Ini melibatkan memesan perspektif baru, dan perspektif. Perang dan Cinema adalah di antara yang paling jelas, paling meyakinkan dari Virilio terjemahan, dan menimbulkan kekhawatiran berulang-nya pada tingkat tertentu peristiwa dan perkembangan teknologi. Baca dengan karya lainnya, khusus menyediakan kasus-kasus yang tampaknya untuk mengkonfirmasi tren Virilio pekerjaan pada umumnya.
Paulus jelas tidak Virilio tepat apa yang kita harapkan dari "politik" teoretikus, bukan jerami-orang "postmodernis." Dia tidak memainkan permainan politik coy Jean Baudrillard, dan dia memiliki - dalam ungkapan yang saya kira kita bisa membuat banyak - "lebih gravitasi" dari Arthur Kroker atau "libidinal" Jean-François Lyotard. Dia berlaku sesuatu yang dapat kita kenali sebagai semacam dialektika dengan teknologi, tentu masalah material, bahkan jika Virilio ingin berbicara lebih banyak "berarti kehancuran" dari "alat-alat produksi." Kejelasan tujuan-Nya yang mengagumkan, jika kejelasan teks yang diterjemahkan kurang begitu.. Mungkin, kita akan dipaksa untuk menunggu terjemahan baru - atau untuk menyelidiki aslinya - untuk menilai apa pun dengan cara sistematis kontribusi Virilio filsafat politik. Namun, klaim terhadap postmodernisme tha hanya menyediakan relativistik, reaksioner "alasan" tidak adanya tindakan politik , kita dapat menghasilkan setidaknya satu sugestif counter-contoh yang saya kira mudah dapat diakui sebagai demikian oleh semua tapi yang paling ideologis dikonfirmasi skeptis. Dan mungkin pembukaan ini mungkin cukup untuk mulai membuka lain, kurang jelas postmodernisms politik ujian politik (bukan sekadar pemeriksaan silang.)
dalam Perang dan Cinema, 1984) yang sangat akurat bahwa selama Perang Teluk dia diundang untuk mendiskusikan ide-idenya dengan perwira militer Perancis. Sementara infamously Baudrillard berpendapat bahwa Perang Teluk tidak terjadi, Virilio berpendapat bahwa itu adalah 'perang di miniatur dunia'.
Untuk Virilio, yang transisi dari feodalisme ke kapitalisme tidak terutama didorong oleh kekayaan politik dan teknik produksi, tetapi oleh mekanisme perang. Virilio berpendapat bahwa kota benteng feodal tradisional menghilang karena meningkatnya kecanggihan senjata dan kemungkinan untuk perang. Untuk Virilio, konsep pengepungan menjadi agak perang gerakan. Dalam Kecepatan dan Politik, ia berpendapat bahwa 'sejarah berkembang dengan kecepatan dari sistem senjata'.
Dromology sangat penting ketika mempertimbangkan penataan masyarakat dalam kaitannya dengan perang dan media modern. Dia mencatat bahwa kecepatan di mana sesuatu yang terjadi dapat mengubah sifat esensial, dan bahwa yang bergerak dengan kecepatan cepat datang untuk mendominasi yang lebih lambat.
Hukum dalam Percepatan Perubahan Sosialhttp:/
Paul Vrilio mengemukakan, saat ini dunia tengah mengalami percepatan yang luar biasa, menurutnya kecepatan menjadi ciri kemajuan sehingga ia membentuk kemajuan-kemajuan dalam tempo tinggi (Paul Vrilio, 1986 ; 46), dalam hal ini bagi Vrilio revolusi industri hakekatnya tak lebih dari revolusi dromokratik - revolusi kecepatan; demokrasi tidak lebih dari dromokrasi - demos dan kratia, artinya pemerintahan di mana kekuasaan tertinggi terletak pada kecepatan (Ibid). Semua serba cepat, instan, masyarakat menjadi bagian percepatan dan percepatan itu sendiri, akibatnya perubahan tidak dapat didekteksi, para futurolog sudah tidak dapat meramalkan masa depan sebab masa depan selalu membawa sesuatu yang mengejutkan. Oleh karena itu kompleksitas dunia begitu besar, segala ramalan dan proyeksi belum tentu benar (ST Sularto, KOMPAS 28 Juni 2000; 64).
Tidak hanya kekuasaan pengetahuan (Knowing power) akan tetapi juga kekuasaan pergerakan (moving power) yang telah membawa kemajuan pesat pada gelombang kapitalisme yang kini mengglobal. Peringkasan jarak/waktu lewat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi sebuah realitas strategis yang menimbulkan konsekuensi-konsekuensi sosial (termasuk hukum), ekonomi dan politis yang besar, sebab ia berkaitan dengan penolakan dan dekonstruksi ruang. Solzhenitsyn, menyimpulkan bahwa pada masa itu, akan terjadi ‘’The Victory of technological Civilization has also instilled a spiritual insecurity in us. Its Gifts enrich, but enslave us as well ". Kemenangan dari Peradaban teknologi juga telah menciptakan kecemasan spiritual, teknologi memang memperkaya kita, tetapi sekaligus juga memperbudak kita. ( Bondan Winarno, KOMPAS , 28 Juni 2000 ; 67). Pengetahuan dan kemampuan manusia terus berkembang menuju kesempurnaan. Mulai dari abad ke 18 perkembangan mengalami kemajuan yang luar biasa. Revolusi industri merupakan titik berangkat dari semua perkembangan dan kemajuan yang dialami dalam peradaban manusia hingga saat ini, akan tetapi perkembangan dan kemajuan hanya dibidang peradaban teknologi (technological civilization).
` Samuel Huntington, menjelaskan, pada kondisi demikian maka akan terjadi apa yang disebutnya sebagai konflik peradaban (civilization Konflik). Membentuk Pardoks perilaku masyarakat, sementara masyarakat desa dan pinggiran menonton MTV, Film-film Hollywood, di Perkotaan justru muncul gerakan-gerakan menentang Barat-isme, yang mencoba melawan arus peradaban. Pembangunan wisata telah membantu gadis-gadis pedesaan memakai rok mini dan baju ketat yang mempertontonkan pusar, sementara pemuda desa terus belajar berkelahi ala James Bond, atau gaya mafia Itali. Paradoks perilaku masyarakat Tongkrongan Global tapi paradigma Lokal.
Perubahan dengan kecepatan tinggi hadir disekeliling kita, mulai dari mega strategi politik, taktik makro dan mikro ekonomi, trik-trik simulasi media massa dan industri tontonan, sampai pada persaingan geosrtategi ruang perkotaan, pembangunan ekonomi (industri, komersial, perumahan), dibutuhkan tidak saja kecepatan dan percepatan tetapi juga teror (ancaman, intimidasi dan paksaan) dan deteritorialisasi dengan alibinya demi percepatan pertumbuhan (modal, perkotaan). Perubahan tidak terjadi sampai disana, tetapi terus berlangsung, hancurnya perekonomian, kondisi sosial politik tidak kunjung membaik yang dipicu ketidak siapan masyarakat menghadapi perubahan dan percepatan.
Pertumbuhan ekonomi masa lalu yang selalu di banggakan diiringi oleh tingginya arus konsumsi, diera kehancuran saat ini hanya menyisakan limbah yaitu "Konsumerisme". Dalam kondisi demikian pernyataan Filosofis Cartesian yang masih melekat pada Hegel dan Marx, "Aku berfikir, karenanya Aku Ada" semakin kehilangan maknanya, disebabkan kenyataan sosial yang berkembang, yang dapat dijelaskan lewat pernyataan "Aku mengkonsumsi, karenannya Aku Ada". Disini subjek menginternalisasikan nilai-nilai sosial, budaya objek-objek melalui tindakan konsumsi. Konsumsi sebagai satu sistem diferensiasi, yaitu sistem pembentukan perbedaan-perbedaan status, simbol dan prestise sosial. (Yasraf Amir Piliang, 1998; 249).
Percepatan dalam Perubahan sosial telah melahirkan segala sesuatu mudah usang, bagi hukum yang selama ini dibangun melalui paradigma kekuasaan pengaruhnya begitu luar biasa. Pembangunan hukum yang selama ini menitik beratkan kepada apa yang disebut dengan "perundang-undangan mania" sudah berakhir, berakhir artinya Eksistensinya tidak mencukupi untuk essensinya ( Jean Baudrillard, 2000; 9), Eksistensi melulu undang-undang sudah tidak mampu lagi mengatur essensi dari penegakkan hukum. Sistem penegakkan hukum lama sudah mulai tidak populer, karena penegak hukum tidak pernah tahu dimana sebenarnya mereka berada, sistem yang berbelit karena Hyperegulated (terlalu banyak aturan) serta kerumitan yang membias menimbulkan perbudakan (penegak hukum menjadi budak) sebagai bagian dari gesekan-gesekan ekonomi dan politik yang selama ini mendominasi. Menimbulkan ketidak pastian hukum, memunculkan "Trasvestisme" (Transvestites; Banci mis. Kaum waria) akibatnya penegakkan keadilan dan hukum menjadi kabur serta tidak jelas dan setengah hati. Kondisi dimana hukum tengah menggali lubang bagi kuburannya sendiri.
Sesuatu yang menarik dari perubahan yang serba cepat itu terdongkraknya pola pikir masyarakat yang di aktualisasikan dalam perilaku. Rakyat kecil biasanya menjadi korban dari penindasan, mulai bangkit dan melakukan grilya melawan penguasa, perubahan pemikiran dan dipicu oleh kondisi sosial, ekonomi, politik serta tuntutan akan kehidupan yang lebih baik, maka mulailah masyarakat "menguasai jalan". Timbulnya model pergerakan (ikatan solidaritas) terhadap ketidak adilan dan penegakkan hukum yang bias menunjukan semacam "lunturnya (bahkan hilang) kepercayaan masyarakat terhadap hukum". Perebutan interpretasi terjadi, antara penegak hukum (negara, pemerintah dan lembaga-lembaga penegakkan hukum) dengan masyarakat (barangkali bisa digambarkan dalam teori Marx mengenai perjuangan Buruh) dan masyarakat secara perlahan-lahan mulai "mengambil alih penafsiran", secara gamblang Satjipto Rahardjo menyebutnya sebagai "Era Hukum Rakyat" (Satjipto Rahardjo, KOMPAS 1999 ), masyarakat mulai menguasai jalan, dalam term ini berlaku apa yang di sebut oleh Joseph Goebel " siapa menguasai jalan dia menguasai dunia" (Paul Vrilio, 1986; 4). Percepatan perubahan bergerak diantara humanis, radikal, bahkan anarkis, disertai kejutan-kejutan.
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://www.trajectoriesofthecatastrophic.ne
twww.trulidemon.multiply.com/journal

0 comments:

Poskan Komentar