Sabtu, 07 November 2009

Jurnalistik Televisi

Jurnalistik Televisi
A. Pengertian Dasar
Ketika orang berfikir, suatu peristiwa perlu dimengerti dan di ketahui oleh banyak orang, dan bukan hanya satu orang seperti kalau seseorang mengirim berita melalui surat, maka orang mulai menciptakan suatu cara bagaimana berita-berita atau informasi yang sangat penting dapat disampaikan kepada banyak orang. Mula-mula kerja semacam ini dilakukan secara manual. Orang menyampaikan informasi secara tertulis, menggandakan secara manual dan disebarluaskan kepada orang yang dianggap semestinya mengetahui informasi itu. Karena informasi atau pesan itu ditulis dengan tangan (harus diperbanyak dan cepat sampai kepada orang lain), isi pesan harus sederhana (simplicity), singkat (brevity), jelas (Clarity) dan tepat (Accuracy). Inilah prinsip-prinsip d asr pertama yang menjadi semacam asas penulisan juralistik (dan pers).
Penyebaran surat edaran dianggap sebagai embrio kegiatan jurnalistik. Produk jurnalistik pertama dalam bentuk surat edaran terbit di Roma kuno, pada 59 SM, bernama acta diurna. Kemudian di Cina terbit pula selebaran pendek yang disebut Pao di zaman Dinasti Tang. Surat kabar berkala pertama terbit di Antwerp pada tahun 1609 dan pada tahun 1702 diterbitkan surat kabar harian pertama yang bernama The Daily Courant.
Disamping itu, akhirnya orang merasa tidak semua peristiwa perlu disampaikan dan di ketahui oleh banyak orang. Peristiwa-peristiwa tertentu saja yang penting, esential atau bermakna yang sepetutnya diinformasikan. Cara menginformasikan pun perlu sangat jujur dan tidak bertentangan dengan fakta yang sebenarnya terjadi. Dari pengalaman inilah kemudian lahir asas juralistik dan pers tentang kejujuran (sincerity) dan kebenaran (the Truth). Kebenaran itu mengandung pemahaman akan keseimbangan penyampaian informasi apabila terjadi argumentasi yang saling bertentangan mengenai suatu fakta.
Dari pengalaman-pengalaman itu, penyampaian yang berturut-turut dan secara terus-menerus ini, seperti orang menuliskan sebuah buku atau catatan harian. Didalam bahasa prancis catatan harian disebut journal. Jadi, ilmu mengirim informasi dan berita secara luas disebut jurnalistik. Ilmu ini mengandug pemahaman perlunya hubungan didalam rangkan sharing informasi yang merupakan wujud dari kemauan berkomunikasi. Didalam jurnalistik, penyampaian informasi tidak hanya bersumber dari satu fakta, tetapi juga fakta-fakta lain yang saling berhubungan harus dikumpulkan, diolah, disaring sehingga kejujuran dan kebenarannya terjamin. Secara teoritis, informasi dan berita itu harus obyektif. Inilah karya juralstik yang baik. Pada kenyataannya hal itu sulit terjadi sebab situasi politik, keamanan, kepentingan dan kekuasaan selalu saja dapat dipengaruhi.
Seleksi fakta untuk dipilih menjadi bahan informasi atau berita akhirnya menggunakan beberapa asas yang menetukan batasan-batasan sampai sejauh mana fakta itu penting. Inilah yang disebut nilai berita (news Value). Kejadian yang mengandung nilai berita merupakan kejadian istimewa (unusual) atau kejadian yang luar biasa. Terdapat beberapa alasan mengapa hal itu menjadi luar biasa. Pertama, kedekatan (proximity) dengan lingkungan masyarakatnya. Misalnya, berita huru-hara di tanah air lebih bernilai tinggi dibanding huru-hara di brasilia. Selain kedekatannya juga kemashurannya (prominence). Peristiwa-peristiwa yang bersangkut paut dengan nama-nama orang mashur atau pembuat beritanya orang ternama, biasanya bernilai berita tinggi. Relevansi terhadap berita sekarang (actual) dan makna yang penting (essential) bagi nilai-nilai yang hidup pada suatu lingkungan, misalnya peristiwa-peristiwa manusiawi (human interest). Unusal (kedekatan, kemashuran), aktual atau tepat waktu (time liness). Dalam hal ini, yang disebut unusual atau istimewa adalah sesuatu yang secara sederhana dapat dilukiskan lewat suatu anekdot: kalau orang digigit anjing itu bukan berita tetapi kalau orang menggigit anjing itu, itu berita.
1. Jurnalistik Media Cetak
kegiatan jurnalistik yang terorganisasikan, kemudian melahirkan apa yang dikenal dengan pers, yaitu usaha-usaha penerbitan karya jurnalistik yang berupa informasi dan berita. Usaha-usaha penerbitan atau pers itu memiliki kebijakan dalam hubungan dengan struktur masyarakat dan negara. Kebijakan itu kemudian menjadi orientasi dari karya jurnalistik yang berada dalam lingkupnya. Sebutan pers berasal dari cara kerja mesin cetak menekan huruf-huruf diatas kertas. Selanjutnya semua usaha penerbitan yang berhubungan dengan mesin cetak disebut pers.
Ketika Gutenberg membuat terobosan tekhnologi dengan melahirkan mesin cetak, saat itu jurnalistik dan pers mengalami revolusi yang hebat. Informasi, pemberitaan dan pers agency berkembang dan menjadi lahan yang mengandung masa depan. Para pencari berita pun kemudian memperoleh suatu fungsi yang sangat penting, dihormati, sekaligus ditakuti. Para pencari berita ini disebut jurnalis atau orang yang memberikan laporan peristiwa-peristiwa. Kemudian mereka disebut reporter atau wartawan. Meskipun dunia jurnalistik dan pers berkembang dengan pesat, tetapi asas-asas yang dipakai tidak berubah, justru berkembang. Ada tiga prinsip jurnalistik media cetak yang hingga sekarang masih diikuti.
1. Pembaca (man as reader). Dalam hal ini, pembaca beas memilih topik, informasi atau berita yang disukai. Bertolak dari hal itu maka sajian informasi dan berita yang menyangkut berbagai bidang kehidupan sangat perlu disajikan sebagai pilihan. Pembaca juga aktif memilih berita yang relevan bagi dirinya.
2. Prinsip right like your talk (bukan right as your talk). Yang pertama mengandung pengertian anratif dan tak langsung, sementara yang kedua mengandung pengertian deskriptif yang langsung. Sebagai w artawan, ia seharsnya mencoba untuk “obyektif”, tidak boleh berpihak. Dalam kedudukan ini, ketika menulis ia harus dalam posisi sebagai pihak ketiga dan menuliskan beritanya dengan penulisan tak langsung (indirect) dan naratif (meceritakan).
Penulisan berita dalam jurnalistik memerlukan pemahaman mengenai kaarakter media itu. Beberapa prinsip penulisan ini dapat pula dipakai untuk bahan acuan penulisan dimedia elektronik audiovisual (TV). Setelah wartawan memperoleh bahan berita, yang pertama-tama perlu dilakukan ialah memastikan kebenaran berita dengan check and recheck kebeberapa sumber yang relevan dan terpercaya. Sesudah itu barulah ia menyusun konstuksi berita yang akan disajikan.
Lead berita perlu menjadi perhatian utama, sebab lead sebagai pengarah berita, disamping judul akan menjadi bahan pertimbangan yang menentukan dari pembaca untuk mengikuti berita itu atau tidak. Oleh sebab itu, penulisan lead harus cermat, ringkas dan menarik perhatian kearah pokok berita utama dari berita yang disajikan. Beberapa keterangan lengkap dan ungkapan-ungkapan tambahan perlu dihindari. Tidak bijaksana pula memenuhi lead dengan terlalu banyak fakta. Dalam hal ini, tidak perlu pula kita memasukan prinsip 5W’s H karena kalimat lead justru akan menjadi rumit dan membingungkan.
Contoh:
“telah tejadi bentrokan seru siang tadi didalam kantor pengadilan negeri jakarta pusat antara polisi dan pendukung megawati. Mereka memprotes karena tidak boleh masuk kehalaman kantor pengadilan. Beberapa diamankan dalam bentrokan tersebut.”
Penulisan lead seperti itu terlalu rumit dan agak berkepanjangan. Dengan konstruksi yang ringkas, lead dapat lebih menarik dan mengena.
Contoh:
“beberapa orang diamankan menyusul terjadinya bentrokan seru, karena polisi melarang pendukung megawati memasuki halaman kantor pengadilan negeri jakarta pusat.”
Penulisan judul berita biasanya dikerjakan oleh redaksi. Dalam hal ini, ada empat prinsip yang perlu dipahami untuk menyusun judul berita dengan memuat unsur-unsur berita ini. Pertama, menarik perhatian pembaca. Biasanya pembaca tertarik sesuatu yang menyangkut keamanan diri., lingkungan dan negaranya, mengandung konflik atau kontriversial tentang sesuatu yang dahsyat. Kedua, menyimpulkan isi berita. Ketiga, menggambarkan suasana berita. Keempat, kalimat ringkas, jelas, merangsang. Paling baik apabila judul terdiri tidak lebih dari 10 kata. Judul sebetulnya merupakan sumber utama informasi dari peristiwa-peristiwa yang hari ini terjadi. Oleh sebab itu, bagi mereka yang tidak banyak waktu untuk membaca seluruh isi surat kabar, membaca judul-judul beritanya pun – kalau judul ditulis dengan baik-sudah dapat memperoleh gambaran kejadian-kejadian yang penting hari itu. Beberapa orang menyebut judul sebagai etalase, meskipun dalam kenyataan lebih dari itu.
Selanjutnya dalam penulisan perlu menggunakan bahasa yang benar dan kata- kata atau istilah yang tepat. Tidak perlu menggunakan kata asing apabila kata itu tidak menambah kejelasan, melainkan justru membingungkan. Dalam hal ini, lebih baik berpedoman sedikit kata banyak makna daripada banyak kata sedikit makna. Demikian pula dalam menyusun kalimat, konstuksinya harus mudah diikuti dan logis. Ungkapan panjang atau anak kalimat, tidak boleh memisahkan pokok kalimat dan kata kerja (predikat). Kata sifat harus berdekatan dengan kata yang diterangkannya. Aline-alinea harus disusun dengan sistematika yang benar dan setiap kalimat dalam alinea harus sungguh koheren.
3. Rumus konvensional 5W’s H (What, Why, Who, When, Where, How). Laporan jurnalistik menyebutkan kejadian apa, sebab-sebab dari kejadian mengapa itu terjadi, siapa saja yang terlibat dalam kejadian, kapan kejadian itu terjadi, dimana kejadian itu berlangsung dan bagaimana berlangsungnya kejadian itu.
Teknik penyajjiannya dapat berbentuk pyramida tegak atau piramida terbalik dan kronologis. Sistem dengan piramida tegak berarti penulisan naskah berita tidak terikat oleh waktu (timeless). Penulisan dapat dimulai dari yang kurang penting mengarah ke pokok permasalahan yang penting. Teknk penyajian dengan piramidsa terbalik dibuat khusus untuk berita yang penyajiannya sangat terikat waktu (time cocern). Penulisannya mulai dari pokok persoalan yang penting sebagai lead. Kemudian menuju ke aspek-aspek lain yang melengkapi. Untuk berita dengan teknik kronologis, sajiannya berdasarkan pada urutan kejadian. Biasanya dipakai untuk menjelaskan sebab musabab terjadinya suatu peristiwa.
Didalam jurnalistik kita sering memperbedakan antara yang disebut informasi dan berita. Secara umum dapat dikatakan, perbedaan antara berita dan informasi terletak pada fakta dan opini yang berupa pesan. Di dalam berita yang disajikan hanya fakta-fakta. Informasi yang bersifat penerangan, selain fakta juga terkandung opini. Jadi, secara singkat dapat dikatakan berita adalah penyampaian kejadian-kejadian (fakta) yang bernilai berita oleh wartawan melalui media massa.
Sementara itu, informasi atau penerangan memberika refleksi instruktif sedemikian rupa sehingga diharapkan pihak kedua dapat memberikan tanggapan atau terjadi perubahan sikap sebagai akibat adanya instuksi. Pemberitaan tidak perlu demikian. Semua pemberitaan merupakan informasi, tetapi tidak semua informasi atau penerangan disebut berita. Berita hanya mengandung fakta, peristiwa dan bukti, sedangkan penerangan adalah berita yang mengandung suggestivitas.
2. Teori-Teori Pers dan Jurnalistik
Jurnalistik dan pers tidak dapat terletak dari hubungannya dengan struktur sosial dan politik lingkungan masyarakat dan negara. Hubungan ini membentuk sistem yang dianut oleh pers dan jurnalistik di lingkungan itu. Di dalam perkembangan pers dan jurnalistik dikenal empat macam teori yang menjadi acuan dari sistem-sistem pers dan jurnalistik negara-negara di dunia.
a. Teori Otoritarian
teori ini muncul diawal lahirya mesin cetak dan diakhir masa Renaisans. Ketika negara-negara Eropa kebanyakan masih menganut sistem pemerintahan monarchi absolut. Berkembang mula-mula di Inggris pada abad ke-16 dan ke-17 tatkala pers dan jurnalistik digunakan oleh penguasa untuk memberi informasi kepada rakyat tentang kebijakan-kebijakan yang perlu diketahui dan dilaksanakan. Pers dan jurnalistik wajib mendukung kebijakan keajaan. Paham ini bertolak dari anggapan, kebenaran adalah hasil dari kelompok cendikiawan dan orang bijak yang mempunyai kewajiban untuk membimbing dan menentukan kehidupan rakyat kecil. Jadi, kebenaran tak ada diligkungan rakyat kecil, melainkan dekat dengan pusat kekuasaan. Penguasa langsung berwenang mengawasi dan menentukan kebijakan pers dan jurnalistik. Dalam situasi itu salah satu fungsi pers dan jurnalistik untuk menyampaikan kebenaran objektif kepada masyarakat dan menjadi pengawas pelaksanaan pemeritahan menjadi hilang. Kebebasan pers dan jurnalistik sangat bergantung pada pemerintah yang mempunyai kekuasaan mutlak.
b. Teori Libertarian
Teori ii lahir ketika pertumbuhan demokrasi politik dan paham kebebasan berkembang pada abad ke-17, sebagai akibat revolusi industri dan digunakannya sistem ekonomi laissez-faire. Kemerdekaan koloni-koloi di Amerika dan revolusi Perancis (1789) dengan semboyan liberty, egality, fraternity ikut serta mengembangkan pers libertarian. Di dalam revolusi Perancis dikeluarkan deklaration des droits de l’homme at citoyen, yaitu pernyataan hak-hak manusia dan warga negara. Pemikiran-pemikiran filsafat dimasa pencerahan (aufklarug) semakin menumbuhkan iklim kebebasan pers sebagai salah satu aspek dari hak-hak asasi manusia. Kebenaran tidk lagi diaggap milik penguasa, meleinkan mencari hak kebenaran merupakan salah satu hak asasi manusia. Manusia dianggap tidak perlu diarahkan sebab memilki akal yang memberi kesanggupan untuk emnentukan mana yang benar (kebenaran) jika dihadapkan pada bukti-bukti yag salng bertentangan dan pilihan-pilhan alternatif. Keduduka pers dan jurnalistik dalam hal ini sebagai mitra dalam mencari kebenaran. Dengan demikian, pers harus bebas dari pengawasan dan pengaruh pemerintah. Akhir kebenaran muncul, semua pendapat harus memperoleh kesempatan yang sama untuk dikemukakan. Harus ada pasar bebas pemikiran-pemikiran dan informasi. Bukti dan argumen-argumen yang menjadi landasan bagi masyarakat untuk menentukan kebenaran dalam mengontrol kebijakan pemerintah. Inilah sebabnya di Amerika Serikat, pers menjadi semacam lembaga keempat di dalam pemerintahan.
c. Teori Totaliatarian (pers komunis soviet)
Pers yang berpegang pada asas kebenaran berdasarkan teori marxis. Pers soviet bekerja sepenuhnya sebagai alat penguasa, dalam hal ini partai komunis. Partai komunis dalam pengertian marxis adalah rakyat. Berdasarkan pemahaman itu pers harus mengikuti kebenaran rakyat, yaitu partai yang substansinya adalah pemerintah.teori pers dan s istem jurnalistik semacam ini mirip teori otoritarian. Perbedaannya teori otoritarian memungkinkan pers dimliki oleh swasta. Usaha swasta itu harus mendukung kebijakan pemerintah. Sementara itu, pers komunis soviet dikuasai dan dimiliki sepenuhnya oleh pemerintah, yang dalam teori disebut manifestasi dari kehendak rakyat. Itulah sebabnya, menurut masyarakat soviet, pers amerika tidak bebas karena tunduk pada kepentingan bisnis. Jadi, mereka tidak dapat menyatakan kebenaran menurut pandangan marxis. Fungsi pers komunis adalah memberi bimbingan secara cermat kepada masyarakat agar masyarakat terbebas dari pengaruh-pengaruh luar yang dapat menjauhkan masyarakat dari cita-cita partai. Menurut orang amerika serikat, pers semacam itu merupakan alat indoktrinasi pemerintah. Kedua sistem itu sama-sama menggunakan kata kebebasan untuk masyarakat. Hanya bagi amerika serikat kebebasan masyarakat berarti kepentingan bisnis, sedangkan bagi masyarakat komunis berarti kepentingan partai. Dalam hal ini, pers soviet harus melakukan apa yang terbaik bagi partai dan mendukung partai sebagai sikap dan perbuatan moral yang berorientasi pada kepentingan rakyat. Menurut anggapannya rakyat. adalah partai.
D. Teori Sosial Responsibilty (tanggung jawab sosial)
Berkembang sebagai akibat kesadaran peda abad ke-20, dengan berbagai macam perkembangan media massa (khususnya media elektronik), menuntut kepada media massa untuk memilki suatu tanggug jawab sosial yang baru. Para pemilik dan pengelola pers menentukan siapa-siapa, fakta yang bagaimana, versi fakta yang seperti apa, yang dapat disiarkan kepada masyarakat. Teori ini menganggap kebebasan mutlak banyak mendorong terjadinya dekadensi moral. Oleh karena itu, teori ini memandang perlu pers dan sistem jurnalistik menggunakan dasar moral dan etika. Pers perlu melakukan tugas sesuai dengan standar-standar hukum tertentu. Dalam hal ini, kebebasan pers tetap dipertahankan dengan menambahkan kewajiban, kebebasan yang dimiliki perlu disertai tanggung jawab sosial dan kecenderungan berorientasi pada kepentingan umum, baik secara sosial individu maupun kelompok.
Sementara itu, masyarakat perlu merasakan tanggung jawab sosial secara nyata. Pertimbangan tanggung jawab sosial tidak begitu mudah sebab kriterianya pada acuan kepentingan masyarakat yang sangat plural. Selain itu, tetap banyak kepentingan yang ingin menguasai pers sebagai alat kepentingan tertentu. Standar-standar hukum, kesepakatan sosial dan kepentingan kemanusiaan merupakan acuan-acuan yang menjadi ukuran tanggung jawab sosial.
Empat teori pers itu menjadi acuan sistem dan orientasi jurnalistik bagi pendukung-pendukungnya. Di Indonesia berlaku sistem pers yang disebut pers pancasila. Sistem ini mendasarkan sikap dan prilaku pers di Indonesia pada nilai-nilai pancasila dan UUD 1945. kebebasan pers yang merupakan hak asasi, harus pula disertai kewajiban yang asasi, yaitu tanggung jawab. Dengan demikian, konstruksinya adalah kebebasan pers yang bertanggug jawab. Pers berfungsi sebagai penyebar informasi yang benar dan obyektif, penyalur aspirasi rakyat dan kontrol sosial yang konstruktif.
3. Jurnalistik Baru
jurnalistik baru merupakan gaya penulisan jurnalistik dengan tekhnik penulisan novel sastra. Fakta dan realitas konkrit dikemas sedemikian rupa sehingga enak dibaca dan kaya nuansa meski unsur realitas faktual tetap dijaga keutuhannya. Reporter bukan saja sebagai pengamat, melainkan juga mengadakan pendekatan langsung pada peristiwa tempat ia terlibat secara emosional. Dalam konteks ini, penataan laporan disusun sedemikian rupa sehingga hal-hal yang meyangkut sentuhan rasa terungkapkan.
Kekuatan jurnalistik baru terletak pada sentuhan rasa. Dalam laporan biasa fakta didekati secara dingin. Masyrakat diberi tahu agar mengetahui dan membuat seleksi sendiri terhadap informasi yang disajikan dalam berita atau karya jurnalistik yang lain. Namun, dalam format jurnalistik baru secara emosional masyarakat dilibatkan pada peristiwa sebagaimana keterlibatan emosional dari reporternya. Bukan untuk mempengaruhi masyarakat dalam rangka mendorong suatu tindakan, melainkan mengembangkan interaksi moral dan spiritual.
Muatan moral dan spiritual itu mengembangkan kembali penghargaan terhadap nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan. Kalau sekelompok orang membaca berita dalam format jurnalistik baru tentang meletusnya gunung merapi dan korban yang jatuh, berarti bukan hanya agar mereka tahu dan menyatakan “ah kasian, tapi untung daerah kita aman”; bukan pula agar mereka bergerak untuk keterlibatan sosial. Jadi, siapapun tanpa membedakan kedudukan, kedaerahan merasa menjadi bagian dari mereka yang sedang terkena musibah sehingga memiliki kepedulian. Secara spiritual masyarakat diingatkan akan ketidakberdayaan manusia terhadap alam dan pencipta, yang senantiasa menghargai keberadaannya ditengah lingkungan. Dengan demikian, ketika dorongan nafsu serakah untuk menguasai segala-galanya timbul, sentuhan perasaan dari pengalaman bencana merapi selalu menjadi pertimbangan.
Jurnalistik baru mula-mula berkembang di Amerika Serikat kemudian sampai ke Eropa Barat. Pelopor penulisan jurnalistik baru adalah Gay Talese, mantan wartawan the New York Time. Bertolak dari karangan talese (1962) dimajalah eskuire yang berjudul “Joe Louis: The King as Middle Aged Man”, reportase yang bergaya cerita pendek. Kemudian berkembang gaya-gaya penulisan serupa yang akhirnya diminati pula oleh banyak lingkungan pembaca. Pelopor lain ialah Tom Wolfe dan Hunter S. Thomson yang memperkembangkan gaya penulisan jurnalistik baru.
Dalam jurnalistik televisi gaya ini berkembang bukan hanya lewat narasi, melainkan juga sajian visual yang memberikan sentuhan perasaan.
4. Jurnalistik Televisi
Perkembangan media massa elektronik mendorong pemikiran-pemikiran baru dibidang jurnalistik. Media massa elektronik terutama televisi memeliki elemen yang berbeda dengan media massa cetak. Media massa televisi adalah media audio visual. Terdapat elemen media audio visual yang menjadi ungkapan wujud informasi atau berita didalam media televisi. Meskipun media cetak juga kadang-kadang menggunakan elemen visual (foto, grafis, dsb.), namun elemen utama yang menjadi sarana ungkap adalah tulisan: kata-kata atau kalimat. Oleh sebab itu, media cetak berorientasi pada kekuatan pemikiran dan ungkapan verbal, sedangkan Media audio visual berorientasi lebih- lebih pada pemikiran dan ungkapan visual. Elemen audio merupakan plengkap dari elemen visual.
Dalam elemen audio (suara) terkandung unsur penulisan (naskah) yang menggunakan prinsip-prinsip pemikiran verbal, oleh karena itu meskipun dalam media audio visual, unsur visual yang dominan, namun unsur verbal diperlukan untuk penyusunan naskah audionya. Naskah itu dapat menambah informasi atau kejelasan dari liputan visual yang muncul, jadi didalam jurnalistik televisi atau sebetulnya pada program televisi elemen audio diperlukan sebagai pelengkap informasi dari tayangan visual. Yang lebih penting bagaimana menyusun dan menyajikan tayangan visual sehingga dengan menyaksikan visual saja penonton seolah-olah dibawa untuk menyaksikan peristiwa yang terjadi.
Jurnalistik televisi bertolak dari orientasi audio visual oleh sebab itu apa yang dilaporkan oleh reporter adalah berita atau informasi untuk mata dan telinga. Berbeda sekali dengan jurnalistik media cetak. Pembaca dapat mengulang kalimat atau ungkapan yang tidak jelas yang dibaca dari majalah atau surat kabar. Namun, penonton televisi tidak mungkin meminta penyiar untuk mengulangi ungkapan-ungkapan dari berita yang baru saja disampaikan. Hal ini berarti sajian tayangan gambar atau yang lazim disebut image visual harus jelas (sudut pengambilan tepat, fokus gambar tajam, gambar tidak goyang), urutan tayangan gambar runtut (mudah dimengerti dan diikuti perkembangan rangkaian gambar), materi visual cukup (tidak diulang-ulang gambar yang sama untuk memberi illustrasi pada Talking head atau penjelasan seorang otoritas), penjelasan narasi atau laporan verbal tidak bertele-tele, sederhana dan tepat. Berlaku rumus ELF: Eazy Listening Formula.
Penulisan berita di surat kabar dan televisi sangat berbeda yang perlu diingat kalau seseorang membaca surat kabar, meskipun disekitarnya terjadi berbagai macam aktifitas, tetap saja ia dapat konsntrasi pada apa yang dibaca. Karena membaca tidak mengguakan unsur pendengaran, sedangkan menonton berita ditelevisi, seseorang harus menggunakan mata dan telinga. Itu berarti kejadian sekitar dan suara di sekitar akan mengganggu telinga dan mata dalam mengikuti siaran berita. Oleh karena itu, beberapa cara penulisan berita di surat kabar dan televisi tidak sama. Meskipun demikian, prinsip dasar penulisan dengan bahasa yang baik seperti diuraikan dalam jurnalistik media cetak tetap saja dapat dipergunakan. Hanya bedanya media televisi menggunakan bahasa tuturan yang komunkatif.
Penulisan berita dalam jurnalistik televisi harus menghindari sesuatu yang rumit. Disurat kabar menulis berita bisa seperti berikut ini.
Unjuk rasa para mahasiswa di universitas anusapati membuktikan bahwa mereka cukup kritis menanggapi permasalahan sosial yang ti mbul di negeri ini, demikian dikatakan oleh prof. Dr. payarikan, M.Kom., Rektor Universitas Anusapati, menjawab pertanyaan para wartawan”.
Penulisan itu dapat dipahami oleh pembaca berita di surat kabar sebab mereka dapat mengulangi membaca lagi kalimat-kalimat itu. Namun, bagi penonton televisi kalimat-kalimat itu menjadi cukup rumit untuk didengar, diingat dan dimengerti. Kalimat dan penulisan berita berikut ini lebih sederhana dan sesuai bagi penulisan di televisi.
“menurut Prof. Dr. Penyarikan, unjuk rasa mahasiswa unversitas anusapati membuktikan sikap kritis mereka terhadap permasalahan sosial di negeri ini”.
Di Surat kabar sangat biasa disajikan gambar grafik dengan angka-angka yang rumit. Pembaca dapat melihat dan mengerti karena pembaca dapat berkonsentrasi lama pada materi itu sampai paham sungguh-sungguh. Sementara itu, gambar grafik di televisi dengan garis-garis yang rumit dan angka-angka yang kecil tidak membantu banyak kepada penonton untuk memahaminya karena waktu yang tersedia untuk melihat sampai jelas sangat terbatas. Angka dan garis yang rumit di pesawat televisi tak mungkin dilihat secara jelas.
Menyajikan informasi dan berita di televisi perlu menghindari banyak hal yang rumit. Penonton hanya memilki kemungkinan dan kesempatan sekilas. Penulis naskah berita perlu menghindari angka-angka pecahan, gelar-gelar yang panjang atau huruf ditengah nama. Ungkapan angka US 17.177 kalau tidak begitu penting dapat disebutkan dengan pembulatan 17 Ribu Dolar. Atau dengan kata lebih kurang 17 ribu dolar. Demikian juga nama atau jabatan, misalnya Rektor Universitas Anusapati Prof. Dr. Penyarika F. Siahaan, M. Kom. Dapat disingkat dengan Rektor Anusapati Prof. Dr. Penyarikan, dan seterusnya.
Kalimat-kalimat panjang perlu juga dihindari. Beberapa ahli berpendapat penulisan berita atau informasi di televisi tidak tepat apabila menggunakan kalimat-kalimat panjang. Idealnya setiap kalimat terdiri dari tidak lebih dari 15 kata. Masalahnya bukan sekadar jumlah kata, melainkan kalimat yang panjang biasanya kesatuan pikiranya akan menjadi kabur. Oleh karena itu, yang penting menyusun kalimat dengan urutan logis satuan pikiran yang mengalir dengan runtut dari awal sampai akhir.
Jurnalistik televisi adalah jurnalistik audiovisual. Unsur visual dalam sajian berita atau laporan di televisi mengandung peranan penting. Dalam hal ini hasil laporan yang dilakukan oleh reprter dan juru kamera televisi menjadi bahan utama dalam penyusunan berita.oleh karena itu kehadiran reporter di tempat kejadian dirasa memberikan nilai lebih dan daya tarik yang kuat pada berita yang disampaikan. Dalam hal ini dikenal sistem ROSS dengan penyaji berita yang disebut newscaster karena ia juga pencari, penyeleksi, pengolah, dan penyusun berita.
ROSS singkatan dari:
Reporter on the spot and on the screen
Reporter berada dilokasi kejadian dan muncul di televisi meleporkan sendiri kejadian itu.
Reporter on the spot and off the screen
Reporter berada ditempat kejadian, tetapi gambarnya tidak muncul dilayar, hanya suaranya atau laporannya yang dibacakan.
Reporter off the spot and on the screen
Reporter tidak berada ditempat kejadian, tetapi sebagai redaksi yang menyusun dan menyampaikan laporan dari sumber. Sumber berita lewat telepon, teleks, facsimile dan muncul dilayar televisi.
Reporter off the spot and off the screen
Reporeter tidak berada di tempat kejadian dan tidak muncul dilayar televisi. Namun, ia mengumpulkan, menyeleksi dan menyusun berita yang diperoleh dari sumber-sumber berita.
Dalam jurnalistik televisi, unsur visual bukan sekedar unsur tambahan atau dukungan pada berita verbal. Unsur visual merupakan sajian berita itu sendiri, bukan sekedar illustrasi dari uraian berita verbal. Unsur visual justru memilki nilai berita yang lebih tinggi dan lebih obyektif. Betapapun kecilnya, pembuat berita verbal masih mengikut sertakan opini didalam kalimat-kalimat yang disusun. Namun gambar kejadian adalah obyek dalam arti tertentu. Oleh karena sudut pengambilan dari cameraman pada obyeknya dan pemikiran gambar untuk ditayangkan atau dibuang oleh editor, tetap saja dapat dikatakan subyektif. Hanya bagaimanapun peristiwa sebagai kejadian yang diliput tetap obyektif.
Untuk sajian unsur visual dikenal empat materi berupa gambar hasil liputan:
1. Visual obyek and hot news (VOHN). Materi visual hasil liputan peristiwa atau wawancara dan isi pernyataan saat itu. Beberapa lingkungan masih menggunakan istilah visual aids (gambar pembantu atau ilustrasi). Namun, istilah itu kini tidak tepat lagi mengingat dalam juralistik televisi gambar tidak lagi sekedar sebagai ilustrasi berita.
2. Shooting on the field operation back up (SFOB). Tambahan liputan untuk melengkapi materi visual yang sudah ada. Sering kali seorang otoritas menguraikan sesuatu yang penting selama satu atau satu setengah menit. Apabila selama itu hanya wajah otoritas itu yang dimunculkan, sajian akan terasa lamban. Oleh karena itu, d iperlukan gambar-gambar tambahan dari apa yang diuraikan
3. Full library operation back-up (FLOB). Seluruh materi visual yang diperoleh dari kepustakaan, seperti stock shots, foot age dan grafik yang lain.
4. Gabungan dari ketiga materi itu.
Karena unsur visual merupakan unsur yang cukup penting maka kerjasama antara reporter dan cameraman harus terjalin dengan baik. Mata dan pikiran mereka seolah satu. Aneh sekali jika cameraman dalam meliput suatu kejadian mempunyai point of interest sendiri, sedagkan reporternya mempunyai perhatian yang berbeda.
Suatu tim liputan biasanya terdiri dari dua atau tiga orang: seorang reporter, seorang cameraman dan seorang pembantu. Namun, sering terjadi hanya reporter dan cameraman. Sebetulnya dua-duanya reporter. Hanya yang s eorang melaporkan kejadian secara verbal, sedangkan yang lain secara visual atas peristiwa yang sama. Oleh karena itu, untuk menghindari pusat perhatian yang berbeda antara dua orang yang sesungguhnya harus mempunyai gagasan yang sama, diperlukah saling berembuk secara terus menerus selama liputan berlangsung. Jadi, cameraman menangkap gagasan reporter dan reporter memahami rangkaian gambar yang dibuat oleh cemeraman untuk sajan berita visualnya. Hampir semua produksi program televisi, yang disebut kerjasama atau team work merupakan sesuatau yang sangat penting. Tanpa itu mustahil sebuah program akan berhasil.
Berkembangnya aliran jurnalistik baru, merembes pula dalam jurnalsitik televisi. Jurnalistik baru di televisi muncul sebagai suatu laporan audiovisual dengan format film cerita. Materi tetap berupa fakta dan sama sekali tidak dimainkan kembali atau direkayasa seperti dalam doku drama. Namun, materi visual dari kejadian disusun sedemikian rupa dan diceritakan seperti sebuah film. Sentuhan-sentuhan perasaan terjadi karena gambar peristiwa yang diambil lewat kemera sangat diperhatikan kontinuitas dan sudut pengambilannya. Jadi, urutan peristiwa dan sajian gambar sungguh-sungguh menyentuh perasaan.
Sajian jurnalistik baru di televisi memerlukan bahan yang sangat lengkap, seperti rangkaian kejadian, wawancara dengan pelaku peristiwa, bahan-bahan penunjang yang lain, dan gaya narasi yang indah dan menyentuh. Wawancara dengan pelaku peristiwa harus mampu menyajikan sisi-sisi yang berarti dan paling menyentuh perasaan atau berkesan dari oarng itu. Emosi dari wajah orang itu ketika mengungkapkan perasaannya merupakan materi visual yang sangat menyentuh. Kelengkapan bahan-bahan yang dapat mengungkapkan peristiwa secara lebih mendalam memberi kekayaan nuansa pada peristiwa. Apalagi kalau narasi disusun dengan pilihan kata-kata dan susunan kalimat yang sungguh-sungguh mengena. Penonton akan menyaksikan suatu laporan kejadian yang sungguh-sungguh mengesan.
Tentu saja untuk mampu menghasilkan program yang demikian diperlukan seorang jurnalis atau reporter yang kritis, kreatif dan memilki bekal intelektual dan intelegensi yang memadai. Selain itu dibutuhkan juga seorang cameraman yang memiliki selera artistik tinggi, menguasai bahasa visual dengan kecerdasan intelektual, berani bekerja keras dan menempuh resiko. Gaya jurnalistik semacam ini akan semakin diminati dimasa depan. Siaran berita dimasa sekarang sudah mengarah pada tuntutan kepuasan sajian yang lebih tinggi. Bukan lagi sekedar kebutuhan akan informasi. Ini diperlukan karena dunia semakin kurang menghargai martabat manusia. Lewat program jurnalistik baru dikembangkan kembali sentuhan-sentuhan nilai hidup dan kemanusiaan sehingga menusia tetap berada dalam fitrah sebagai pemelihara dan pengembang kehidupan.
B. Pengembangan Gagasan
Sejak elektronik news gathering (ENG) menjadi suatu sistem, terjadi perubahan besar baik dalam tekhnologi dan manajemen maupun filosofi siaran berita. Kaidah-kaidah jurnalistik televis yang mapan mengalami perubahan yang besar pula. Kemajuan peralatan elektronik untuk pengambilan gambar, kecepatan pengiriman gambar dan kecanggihan peralatan editing melipatgandakan makna dan kekuatan berita dari suatu kejadian. Bahkan dengan satelit tak ada kesulitan lagi suatu kejadian disaksikan dalam waktu yang sama oleh penonton yang jaraknya beribu-ribu kilometer dan dipisahkan oleh lautan. Penggunaan tekhnologi satelit dalam pemberitaan atau satelit news gethering (SNG) semakin melibatkan penonton pada peristiwa yang terjadi pada saat itu juga. Dahulu berita mempertunjukan suatu kejadian pada penonton. Kini berita seolah-olah membuat penonton mengalami kejadian yang sedang berlangsung.dahulu penonton hanya melihat suatu kejadian, kini tak dapat dipungkiri penonton “terlibat” pada kejadian yang tengah berlangsung.
Jurnalistik televisi sekarang tidak lagi menceritakan suatu kejadian pada penonton, elainkan membawa mereka menjadi bagian dari kejadian itu. Kalau dahulu unsure emosional, karena kemungkinan teknis belum memadai, tidak muncul, kini berkat kemungkinan teknis dari peralatan yang luar biasa canggih, faktor emosional ini gampang sekali timbul bahkan kemudian sering diekploitasikan untuk kepentingan tertentu.
Mengapa kni faktor emosional dengan mudah timbul dalam diri penonton siaran berita? Karena dahulu penonton dipisahkan oleh jarak waktu antara kejadian yang berlangsung dan saat mereka menonton, sementara dengan SNG, tidak lagi. Dahulu berita disampaikan oleh perantara yang ada di studio dan disebut Announcer atau presente, kini mereka diajak bicara sendiri oleh jurnalis yang berada ditengah peristiwa dan oleh pelaku peristiwa sendiri. Formula 5 W+H kini dilengkapi d engan unsur emosional yang memiliki kadar kekuatan pengaruh lebih hebat.
Dalam jurnalistik televisi di studio sebelum SNG orang masih pikir tentang formula ROSS, dibantu formula-formula lain, seperti FOHN dan FLOB. SFOB yang memberi tekanan, gambar sebagai ilstrasi dari berita. Jurnalistik televisi dewasa ini lebih memberi kesempatan kekuatan visual bicara sendiri. Ternyata ini lebih menyentuh perasaan, apalagi peniadaan jarak waktu kejadian dengan penggunaan satelit sungguh memiliki kemampuan melibatkan penonton.
Kemungkinan baru ini melahirkan sistem dan mekanisme kerja jurnalistik televisi menjadi lain. Dahulu, Reporter, Announcer (pembaca berita), editor, produser berita, teknisi (Cemeraman, Sound man) terpisah dalam mekanisme dan hubungan kerja sendiri-sendiri. Sekarang reporter dapat menjadi produser dan announcer, bahkan cameraman dan editor. Jurnalis televisi masa kini dituntut bukan saja ketangkasan pikir dan intelegensia, melainkan juga kemampuan dan keterampilan teknis menangani peralatan. Dalam SNG ia secara langsung melakukan pemilihan gambar dalam suatu peristiwa dan itu artinya editing, mekanisme kerja menjadi lebih menyatu.
Seorang jurnalistik televisi kini dituntut bukan hanya saja kemampuan menulis secara deskriptif, tetapi lebih menyusun suatu cerita baik dengan kata maupun gambar. Berita televisi masa kini lebih dari sekedar menggali fakta dan memunculkan serta menyusun kata di kertas. Namun, menggabungkan motion picture (film cerita), kata, grafik dan laporan udara.
Tentu saja itu membawa konsekuensi manajemen yang berbeda. Siaran berita masa kini menuntut profesionalisme yang tinggi, akurasi, aktualisasi dan biaya yang mahal. Konsekuensi dari biaya yang mahal ini harus diimbangi dengan masukan biaya yang tinggi untuk dapat meng cover semua pengeluaran untuk berita. Inilah sebabnya kalau dahulu kepentingan bisnis hanya terlibat dalam siaran hiburan, kini bisnis campur tangan dalam urusan siaran berita.
Setiap sistem pemberitaan nasional memiliki karakteristik khusus. Suatu sistem misalnya, memiliki tekanan pada peranan dan kepentingan sosial. Beberapa yang lain didominasi oleh kepentingan politik. Yang lain lagi oleh kepentingan budaya dan lingkungan hidup. Namun, dewasa ini pertimbangan ekonomi dan bisnis mulai mengambil peranan penting dalam sistem pemberitaan.
Tak dapat disangsikan sukses cable news network (CNN) membisniskan perang timur tengah lewat siaran beritanya. Formula berita dan jurnalistik CNN kemudian diikuti oleh news agencies yang lain. Siaran berita menjadi incaran para produsen dan sponsor sebab dengan jurnalistik gaya CNN orang menjadi keranjingan untuk mengikuti siaran berita. Kekuatan pelibatan penonton pada kejadian yang disajikan hampir membuat semua orang crazy pada siaran berita. Tentu saja bisnis tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk nebeng bagi kepentingan barang-barang produksinya. News agency tidak pula menyia-nyiakan kesempatan untuk juga mengeruk uang dari pemasang iklan siaran berita. Siaran berita yang dahulu lebih merupakan pelayanan sosial, kini dibahayakan menjadi produk bisnis murni.
Kalau semua bisnis nebeng siaran berita, yang terjadi kemudian siaran berita berorientasi sepenuhnya pada bisnis. Dalam orientasi ini bukan mustahil unsur emosioal dikembangkan dengan berbagai sensasi dan sadisme. Perang dan pembunuhan yang mestinya menjijikan, menjadi sajian yang mengasikan dan penuh suspen. Formula sensasi ini tidak sulit diciptakan dengan camera dan peralatan lain yang canggih. Kalau semula siaran berita berusaha mengajikan gambar obyektif kini angle-angle tertentu memanipulasi kenyataan secara sensasional.
Sayangnya kemudian orang mengharap adanya perang atau kejadian aneh yang lain didalam siaran berita. Barangkal kita ingat dalam jurnalistik formula berita masa lalu, yaitu kalau orang digigit anjing, itu bukan berita, tetapi kalau orang menggigit anjing, itu baru berita. Formula ini kemudian dikuti oleh sederet kriteria batasan, seperti berita harus berupa kejadian yang luar biasa, isstimewa, disajikan pada saat yang tepat dan merupakan peristiwa yang penting diketahui masyarakat. Deretan kriteria itu demi kepentingan daya tarik sensasional masih dilengkapi dengan pengambilan dari sudut pandang yang merangsang emosi dan penggunaan kemungkinan-kemungkinan lain yang tersedia berkat kecanggihan peralatan.. pertanyaannya, apakah berita itu sekarang?kenyataan ?atau manipulasi kenyataan.
Jurnalistik televisi dewasa ini dihadapkan pada campur tangan kepentingan bisnis. Masih sanggupkah ia berada pada kontek kepentingan masyarakat kebanyakan?seimbangkah kepentingan profit dengan nilai-nilai yang dikorbankan?masihkah jurnalistik memperhatikan keseimbangan kebutuhan masyarakat kebanyakan?masih sederet pertanyaan lain yag kini perlu dikemukakan sebelum jurnalistik televisi menjadi sekedar alat dari suatu kepentingan.
Sekarang ini kita berada pada zaman kebudayaan lisan kedua. Televisi memberi kemungkinan tatap muka, meskipun kini lewat layar kaca. Efek yang ditimbulkan tidak kalah dengan seseorang yang bertatap muka dengan orang lain. Wujud visual memberi kekuatan pada pesan yang disampaikan, Lebih dibandingkan dengan hanya mendengar dan membaca. Tekhnologi memberi kekuatan yang lebih besar lagi dengan kemungkinan-kemungkinannya. Chromakey misalnya, mampu memanipulasi seorang jurnalis seolah-olah sungguh berada ditempat kejadian, dengan proporsi yang tepat. Pesannya lebih menyakinkan. Tentu saja tidak ada yang salah mempergunakan kemungkinan yang ada pada media. Masalahnya, siapakah yang paling banyak memperoleh kesempatan mempergunakan kemungkinan itu? Apakah permasalahan, aspirasi, kegelisahan, keingintahuan, kebutuhan masyarakat kebanyakan secara seimbang juga memperoleh kesempatan tampil?kuncinya terletak pada orienasi jurnalistik televisi masa kini. Jurnalis sekarang, sekaligus editor dan redaktur. Ia yang memilih gambar dan kata. Ia juga yang menentukan siapa yang tampil dan bicara. Adalah benar berita dewasa ini atraktif dan hiburan dengan tampilnya unsur emosi, sensasi dan suspen, dan mudah melibatkan penonton.
Akan tetapi, kalau demikian mengapa seorang jurnalis tidak memilih suatu kejadian dan situasi yang mampu mendorong solidaritas sosial ? Idealime semacam ini perlu dikaji untuk meng counter gaya penuturan dan penyajian jurnalistik TV barat yang lebih berorientasi bisnis.
Formula jurnalistik televisi sekarang bukan tak mungkin dipergunakan untuk kepentingan masyarakat kebanyakan. Hanya dengan demikian masihkah sponsor dan para produsen tertarik untuk memback up siaran berita, sebab itu berarti dalam hal-hal tertentu akan berlawanan dengan kepentinganya.
Di Idonesia TVRI (karena loembaga ini merupakan media pemerintah) maka siaran beritanya lebih banyak informasi daripada berita. Kepentingan pemerintah jelas mendomiasihampir seluruh siaran berita Nasional. Tentu saja sajian yang demikian kurang menarik. Apalagi kalau kemudian TV Swasta menggunakan direct broadcasting satellite (DBS) dan menyiarkan sendiri siaran beritanya; bukan mustahil siaran berita TVRI ditinggalkan penonton juga timbul kemungkinan yang patut diwaspadai, siaran berita TVswasta akan melulu berorientasi pada kepentingan bisnis.
Terbukti kehebatan formula jurnalistik televisi CNN dan ini dianut oleh hampir semua News Agencies. Sementara acara non berita hampir seluruhnya didominasi oleh hiburan demi bisnis. Lalu apa yang tinggal bagi masyarakat kebanyakan ? apakah jurnalistik televisi juga ikut menenggelamkan mereka dalam frustasi atau masih adakah alternatif untuk memberika kesempatan bagi kepentingan masyarakat kebanyakan untuk tampil.

0 comments:

Poskan Komentar