Sabtu, 07 November 2009

GRAMATIKA TELEVISI

GRAMATIKA TELEVISI

Kalau kita sering duduk di dalam ruangan sambil membaca buku tiba-tiba pintu diketuk orang, maka perhatian kita tertuju ke datangnya suara tadi, dengan maksud mengetahui siapa akan masuk atau kita langsung berdiri dan berjalan menuju arah datangnya suara tadi, dengan tujuan akan membuka pintu untuk mengetahui siapa yang akan datang.
Situasi demikiann sebenarnya bukan suatu hal yang istimewa, sebab menurut logika memang demikian adanya, tetapi kalau kitaperhatikan perbuatan kita tadi, tentu ada motivasi-motvasi tertentu dan motivasi satu ini dengan yang lain berbeda dan motivasi ini akan jelas terlihat kalau sudah tersusun dalam sebuah rangkaian gambar, sebab dari pergantian shot yang sau dengan yang lainnya, akhirnya dapat menunjukkan rangkaian gambar seperti proses di atas dan kalau gambar ini kita suguhkan di hadapan penonton, mereka tidak mengetahui proses sebenarnya, sebab mereka hanya melihat susunan gambar yang sudah jadi, sehingga mereka dapat merasakan adanya motivasi-motivasi tertentu yang terkandung di dalam gambar.
Bagi pengarah acara yang masih muda pengalamannya, penganalisaan gambarnya sering terputus-putus, sehingga akibatnya kontinuitas gambarnya tidak nyambung dan hal demikian inilah yang menyebabkan kahalayak penonton merasakan adanya gangguan saat mereka sedang mengamati rangkaian gambar, maka untuk mengatasi hal demikian ini, kepada pengarah acara yang masih belum pengalaman, perlu terus diupayakan peningkatan daya reka serta daya ciptanya, misalnya harus sering melakukan pengamatan di sekelilingnya, kemudian mencoba melakukan penilaian, dari hasil penilaian ini untuk dienungkan agar mereka mendapatkan jawaban sendiri atas kebenarannya, dengan jalan demikian mereka tidak merasakan bahwa mereka mulai berkemampan untuk melakukan penilaian-penilaian, bahwa itu benar dan yang itu salah atau tidak tepat, itu menarik dan yang itu membosankan dan sebagainya.
Upaya seperti di atas kelihatannya sangat sepele, tapi kalau kita kaitkan dengan tugas pengarah acara sangat erat kaitannya. Coba kita renungkan bagaimana hubungannya dengan tugas pengarah acara, hal ini dapat dirasakan apabila sedang membaca naskah yang akan diproduksi. Pengarah acara tadi harus tergambar di dalam benak pemikirannya bagaimana gambarnya serta bagaimana susunan gambar yang akan dihasilkan, sudah barang tentu pemikiran demikian akan selalu berubah-ubah dan berkembang terus, krena yang diinginkan hasil yang sebaik-baik dan menarik. Twtapi sebelumnya pengarah acara tadi harus sudah merekayasa susunan gambar yang akan dikehendaki. Sebelumnya harus mulai emikirkan susunan gambar yang paling udah, meskipun satu dengan yang lainnya belum tentu ada hubungnnya, baru kemudian kita susun setiap sequen dengan rangkaian gambar yang kita bayangkan. Dalam hubunganyya dengan membayangkan gambar ini kita sebut dengan visualization, sedang dalam hal merangkai gambar kita sebut dengan picturization.

1. Visualization
Yang dimaksud dengan visualiazion adalah pengungkapan ide atau gagasan yang telah dituangkan dalam rangkaian kata-kata menjadi bentuk gambar. Atau dengan kata lain merubah bahan yang bersifat auditif menjadi bahan yang bersifat visual. Sebagai ontoh misalnya dalam program siaran yang bersifat show, maksud utama dari show ini adalah menunnjukkan masalah-maslah pribadi, obyek, action serta reaction sejelas mungkin dan cara menunjukkan dengan memanfaatkan kamera yang kita pergunakan. Dengan demikian kamera dapat kita pandang sebagai reporter, sehingga penggunaan kamera tadi harus sejeli mungkin agar mampu menunjukkan hal-hal yang bersifat khusus misalnya, yang mengandung nilai-nilai dramatik, misalnya seorang gadis yang sedang berlari kemudian kita mengambil CU sebuah sapu tangan milik gadis tadi yang tercecer di jalan. Demikian pula kita mengambil gambar dengan ukuran gambar CU pada wajah seseorang.
Sudah barang tentu pengambilan barang tadi tidak asal ambil. Tentunya mempunyai motivasi tertentu yang berhubungan dengan jalan ceritanya. Ternyata sapu tangan yang jatuh tadi mempunyai peranan yang sangat menentukan di dalam membongkar suatu pembunuhan. Dalam CU pula wajah seseorang tadi, ternyata wajah tadi mampu menunjukkan bahwa si empunya wajah tadi sedang gundah karena ditnggal sang kekasih.
Banyak contoh pengambilan-pengambilan gambar yang mempunyai motivasi yang sangat kuat, karena nuraninya ingin mendapatkan keuntungan materiel, maka dalam program siaran tertentu, terdapat gambar-gambar tertentu yang tidak ada hubungannya dengan program yang sedang dibuat. Tetapi sebaliknya dapat berarti pula bahwa benda yang kita ambil tadi mengandung bahan-bahan tertentu dan benda tadi sesuai dengan alur ceritanya merupakan bahan peledak dan memang sedang dilacak dengan memanfaatkan anjing pelacak.
Dari uraian di atas memnunjukkan bahwa etiap pengambilan gambar dengan ukuran gambarnya, harus dilandasi dengan adanya motivasi tertentu dan pengamblan gambarnya harus ditentukkan sejelas mungkin dan adanya singkronisasi antara gambaran dengan kepentingan atau narasinya. Jadi jangan sampai kita menunjukkan benda A tetapi narasinya justru menjelaskan benda B atau sebaliknya.
Karena masalah visualization ini tidak terlepas dengan cara teknik pengamblan gambar, ada beberapa hal yang perlu diketahui serta iperhatikan berkenaan denganpengambilan gambar yang baik, dalam arti gambar tadi memenuhi persasara artistik serta memenuhi kaidah pertelevisian.

1.1 Komposisi gambar
Sebenarnya masalah komposisi gambar tidak dapat dipelajari secara khusus, sebab komposisi merupakan sesuatu yang benar-benar enak ditonton, baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain. Karena itu semakin sering kita mengamati obyek-obyek yang erat hubungannya dengan masalah komposisi gambar, seperti menonton film, pameran lukisan, pameran fotgrafi, majalah-majalah bergambar, niscaya kita akan terbawa untuk mendalami masalah komposisi tadi dan kemudian kita akan tumbuh cita rasa kita tentang masalah ini, sehingga akhirnya kita mulai mampu mengevaluasi obyek-obyek yang kita tonton dan akhirnya kita mengetahui bagaimana komposisi yang baik.
Shot-shot dasar yang sering digunakan dan erat kaitannya dengan masalah komposisi ini dan yang masih mungkindipedomani adalah:
(1) Layar televisi sangat terbatas, karena itu dapat memanfaatkan keterbatasan layar tadi, dengan cara menunjukkan suatu yang jelas dan sering melakukan pergantian siaran dan sangat membantu.
(2) Layar televisi konvensional mempunyai aspek ratio 34, bila ingin menunjukkan obyek secara jelas harus selalu brpedoman pada aspek atio.
(3) Gambar pada layar televisi hanya dua dimensi, karena itu hanya dengan kreatifitas gambar yang dihasilkan mempunyai kesn tiga dimensi sehingga lebih hidup. Mislnya saj dengan memanfaatkan efek lampu, penggunaan forground, midle ground, back ground akan sangat membantu.
(4) Gambar yang dihasilkan kamera akan berkurang 10% setelah diterima pada pesawat penerima, karena itu harus hati-hati di dalam penempatan gambar di dalam bingkai agar gambar yang bak tak terpotong.

1.2 teknik pembingkaian
beberapa teknik pembingkaian (penempatan dalam bingkai layar) perlu diperhatikan sebagai berikut;
(1). Keseimbangan
yang dimaksud keseimbangan disini adalah obyek dalam bingkai gambar nampak berimbang posisinya, dengan perimbangan ratio layar 2/5 samapi dengan 3/5 atau 1/3 sampai 2/3.
(2). Simetri
bila menempatkan obyk tepat di tengah-tengah layar dan simetris mungkin, hasil komposisi gambar tidak begitu menarik, karena itu diusahakan dalam menempatkan obyek tunggal asimetri dan hasilnya akan lebih menarik.
(3). Equilbrium
setiap gambar pasti mempunyai equilbrium (keseimbangan) akibatnya kmposisi gambar menjadi stabil, netral dan tidak labil. Tetapi sering muncul keinginan untuk merubah equilbrium dari sebuah gambar dengan maksud untuk mendapatkan suatu efek dramatis dengan menggunakan canted shot.

2. Picturization
Yang dimaksud dengan picturization adalah teknik menghubungkan gambar satu dengan yang lainnya sehingga menjadi satu seri gambr yang menarik. Karena hal tersebut merupakan suatu kunci keberhasilan dari rangkaian gambar distiap acara televisi.
Untuk mendinamisasikan gambar pada layar, maka perlu adanya gerakan baik oleh gerakan kameranya sendiri, artisnya sendiri atau bahkan gerakan gabungan antara artis dan kameranya.
Pada dasarnya ada tiga macamgerakan pada gambar di televisi;
2.1 Kamera tidak bergerak tetapi artisnya bergerak
Dapat diberikan contoh misalnya dari tata dekorasi diatur, sebuah telepon berada di sebelah kiri sbagai foreground dan pintu berada di sebelah kanan sebagai bacground.
Telepon berdering dan seseorang memaasuki ruangan melalui pintu tadi, orang tersebut dalam perjalanannya telpon menuju kamera, kemudian mengangkat telpon. Dalam proses ini kamera sama sekali tidak bergerak, tetapi mampu menghasilkan gambaryang menunjukkan gambar oang menuju ke telepon kemudian mengangkatnya.
Bila kita amati benar dalam shot tadi sudah dapat depth dan interest dari perubahan ukuran gambarnya, yakni dari Long shot ke Medium shot. Proses gerakan yang demikian ini disebut PRIMARY MOVEMENT.

2.2. Kamera dan aetisnya kedua-duanya tidak bergerak
Situasi masih seperti contoh di atas. Shot dimulai saat orang memasuki pintu dan kamera panning mengikuti orang yang berjalan menuju ke telepon. Proses gerakan ini disebut SCONDARY MOVEMENT yang merupakan gerakan dari kamera.
2.3. kamera yang bergerak dan artis yang ditempat.
Gerakan ini disebut TERTIARY MOVEMENT, di sini mnunjukkan yang aktif adalah kameranya, sedangkan artisnya sendiri tetap berada di tempat. Jadi harus memanfaatkan segala kemungkinan gerakan kamera. Contohny penyanyi di panggung dengan segala actingnya, kamera melakukan gerakan sejak panning, tracking, Arc dengang maksud untuk menunjukkan situasi panggung dengan segala kegiatan dari musik pengiring.

3. Editing
masalah kontinuitas gambar sering diasosiasikan dengan mencocokkan apa yang dipakai oleh artis pada shot satu dengan shot lainnya. Memang masalah sekecil ini merupakan aspek yang sangat penting dan sangat peka dalam masalah kontinuitas gambar. Sebab gambar-gambar di layar dan yang kita nikmati mrupakan hasil dari pemilihan gambar yang dihasilkan dari beberapa kamera, di mana selanjutnya disusun dalam suatu scenes, sehingga mampu menunjukkan suatu koninuitas gambar yang baik dalam arti wajar dan logis sehingga dapat dinikmati oleh khalayak penontonnya.
Penyusunan kontinuitas gambar ini merupakan suatu kreasi seni tersendiri,, karena itu ada ungkapan dikatakan bahwa kalau sudah menguasai kontinuitas gambar maka akan merupakan modal untuk dapat menjadi [engarah acara yang baik. Kalau ungkapan ini benar adanya berarti masalah kontinuitas gambar meropakan hal yang sangat penting untuk didalami masalahnya.
Sebagai contoh dapat diketengahkan pada permainan sepak bola, bila anda melakukan cut dari kamera satu ke kamera lainnya, harus anda pikirkan masalah kontinuitas gambarnya. Seorang sedang berlari ke kanan, kemudian anda lakukan cutting ke kamera lainnya dan gambar yang masuk masih orang yang sama hanya larinya tidak ke kanan justru mengarah ke kiri. Tentu masalah ini mengejutkan penonton dan menimbulkan pertanyaan, apa maunya penonton ini, bukankah gawang lawan di sebelah kanan, mengapa pemain ini mondar mandir ke kiri ke kanan saja. Padahal semuanya tadi hanyalah semata-mata kesalahan anda dalam penyusunan gambar sehingga kontinuitas gambar menjadi kacau.
Dari contoh di atas tentu saja bisa diambil langkah setelah anda mengambil gambar pemain yang bergerak ke kanan tadi, anda bisa melakukan cutting dengan CU kaki misalnya, dengan gerakan tetap ke kanan. Untuk melakukan penyusunan gambar yang baik dapat dilaksanakan dengan EDITING gambar.
Dalam memproduksi siaran acara televisi sebenarnya kita telah melakukan editing baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam arti kalau acara yang kita produksi langsung siap disiarkan,, editing dilakukan saat itu juga, tetapi kalau acara yang kita produksi belum siap siar, maka editing memerlukan proses tersendiri. Dengan demikian kalau kita tinjau dari pelaksanaan dan bahan bakunyq, mqkq editing dapat dibedakan menjadi;
a. editing yang dilaksanakan pada saat itu juga, di mana pelaksanaannya melalui vision mixer
b. Editing yang dilaksanakan pada saat Post production dan pelaksanaannya menggunakan meja editing elektronik.
c. Editing yang bahan bakunya berupa film.
Meskipun ketiga proses editing seperti disebutkan di atas pelaksanaannya berbeda, tetapi dari segi maksud dan tujuannya sama, yaitu untuk menghasilkan nilai kontinuitas gambar dan efek yang ditimbulkan.
Karena secara artistik acara televisi dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain tentang keberhasilannya dalam melakukan editing, sehingga;
a. sebuah acara dapat diproduksi dengan hanya menggunakan satu kamera saja, tetapi berkat keterampilan di dalam melaksanakan editing, penonton dapat menyaksikan hasilnya sebagai suatu suguhan yang mengasyikan.
b. Melalui editing peristiwa, waktu dan tempat yang berbeda dapat disuguhkan hanya dengan satu bagian saja.
c. Melalui editing dapat memperjeas informasi.
d. Melalui editing dapat diciptakan hubungan yang mungkin maupun yang tidak mungkin ada.
e. Editing berarti dapat melakukan pemilihan gambar yang diinginkan dari hasil penyusunannya akan berpengauh pada reaksi dn interpretasi khalayak penonton.
Dalam proses editing dapat dilaksanakan dengan berbagai tknik, antara lain;
1. Live on tape
Acara yang diprodusi direkam terus menerus, seperti halnya kalau acara yang diproduksi disiarkan secara langsung. Sedangkan pelaksanaan editingnya dilaksanakan pada saat itu juga dengan menggunakan vision mixer dan hasilnya langsung sebagai bahan acara yang siap untuk disiarkan.
2. Retakes
Retake dapat diartikan sebagai mengulang pengambilan gambar yang telah dilakukan tetapi dapat juga terjadi bukan hanya karena ada kesalahan dalam pengambilan gambar saj, dapat pula terjadi karena kesalahan-kesalahan lainnya, misalnya keterlambatan masuknya telepon, ilustrasi/ tune atau masalah lainnya.
3. Rekaman bagian demi bagian
Acara ini direkam sequence demi sequence sesuai dengan breakdown script yang telah dibuat dan dalam pelaksanaan rekaman juga digunakan retaketeapi dapat pula pengambilan gambar dapat dilakukan ddengan berbagai macam angle, kemudian pada saat editing dipilih gambar yang dinilai baik.
4. Single source recording
Yang dimaksud dengan single source recording adalah gambar yang dihasilkan dari beberapa kamera, di mana setiap kamera merekam sendiri-sendiri dari acaranya. Dari hasil rekaman gambar ini penyelesaiannya dilakukannya dilakukan saat post production (vidio tape editing)

0 comments:

Posting Komentar