Minggu, 08 November 2009

"The Golden Age of Classical Myths Part 7"

"The Golden Age of Classical Myths Part 7"

Apollo

Apollo dan saudari kembarnya, Diana, adalah putra-putri Jupiter dari Latona, putri Coeus dan Phoebe. Apollo adalah dewa terang dan musik serta pelindung para gembala dan peramal, sedangkan Diana adalah dewi malam purnama dan perburuan.
Kisah kelahiran Apollo dan Diana adalah sebagai berikut:

Latona yang menjadi korban kecemburuan Juno harus berkelana sampai ke ujung dunia untuk menghindari kejaran monster Python, yang dikirim Juno, dalam keadaan hamil tua. Berbagai tempat yang telah disinggahinya seperti Lesbos, Attica, dan Chios menolak kehadirannya karena takut akan murka Juno. Sampai akhirnya tibalah Latona di sebuah pulau terapung yang bernama Delos. Dia kemudian memohon agar diizinkan melahirkan bayinya di pulau tersebut. Begitu Latona selesai mengucapkan permohonannya, Jupiter atau Neptune mengirimkan rantai berlian untuk mengikat pulau tersebut pada dasar samudra. Segera para peri penghuni pulau tersebut membantu persalinan Latona.

Sembilan hari sembilan malam lamanya Latona menderita kesakitan dalam persalinannya. Pada fajar hari kesepuluh lahirlah dua bayi dari rahimnya, Apollo dan Diana. Pada hari ketiga setelah kelahiran mereka, Apollo dan Diana telah tumbuh menjadi pemuda yang cakap dan gadis yang cantik.
Apollo mendatangi Python yang telah mengancam ibunya di Gunung Parnassus kemudian membunuhnya dengan busur dan panah emasnya.

Jupiter bergirang menyaksikan keperkasaan putranya. Dia mengangkat Apollo dan Diana ke Olympus dan menjadikan keduanya dewa-dewi penghuni Olympus dengan memberi mereka ambrosia dan nectar.

Apollo dilukiskan sebagai pria muda yang tampan berambut keemasan. Dia menjadi dewa terang dan musik serta pelindung para gembala dan peramal. Tempat-tempat yang dianggap suci baginya adalah Delos, tempatnya dilahirkan dan Delphi di mana terdapat orakel yang menyingkap keputusan-keputusan dewata lewat pendeta wanitanya yang disebut pythia atau sibyl. Meskipun begitu kadang-kadang dia sering pergi mengunjungi ibunya yang berdiam di Negeri Hyperborea.

Sebagai dewa yang rupawan Apollo memiliki banyak kekasih, baik pria (yang terkenal adalah Hyacynthus yang tewas saat berlatih melempar cakram bersama Apollo akibat kecemburuan Favonius yang juga mencintainya, kemudian oleh Apollo tubuhnya diubah menjadi bunga hyacynth) mupun wanita, namun demikian pernah pula dia mengalami kekecewaan ditolak oleh wanita yang dia cintai. Di antara mereka adalah: Daphne, Marpessa, dan Cassandra.

Kisah cinta Apollo pada Daphne yang tak kesampaian adalah sebagai berikut:
Pada suatu hari Apollo sedang berlatih memanah di lereng Gunung Parnassus. Tiba-tiba Cupid, putra Venus, datang dan ikut-ikutan membidikkan panahnya ke sasaran panah Apollo. Apollo menjadi gusar dan mengusirnya. Merasa terhina Cupid kemudian berniat membalas Apollo. Ditunggunya kesempatan untuk mempermainkan Apollo tiba.

Ketika itu Daphne, putri dewa Sungai Peneus, sedang memetik bunga bersama dayang-dayangnya di tempat Apollo berlatih. Melihat hal tersebut Cupid segera membidikkan panah penimbul cintanya pada Apollo yang seketika itu jatuh hati pada Daphne. Sedangkan pada diri Daphne, Cupid membidikkan panah penolak cinta sehingga dia justru ketakutan melihat Apollo.

Daphne berlari menghindari Apollo yang bermaksud mendekatinya. Semakin Apollo berusaha semakin kencang pula Daphne berlari, sampai akhirnya tibalah dia di tepian sungai dan memohon pada ayahnya agar menyembunyikannya dari pandangan Apollo. Peneus kemudian mengubah putrinya menjadi sebatang pohon yang kini dikenal sebagai pohon laurel atau pohon salam.

Ketika Apollo sampai ke tempat itu dia tidak menjumpai Daphne. Hanya dijumpainya sebatang pohon laurel berdiri dengan kokoh di tempatnya. Apollo yakin bahwa pohon itu adalah penjelmaan pujaan hatinya yang menolak cintanya. Hatinya berduka namun toh dia tidak dapat menepis rasa cintanya pada Daphne. Dipetiknya beberapa ranting pohon tersebut dan dirangkainya daun-daunnya menjadi mahkota yang kemudian dikenakannya di atas kepalanya. Sejak saat itu Apollo selalu tampak mengenakan mahkota dari rangkaian daun laurel untuk mengenang cinta pertama yang gagal diraihnya. Karena Apollo adalah dewa musik maka penghargaan atas prestasi dalam bidang seni di zaman dahulu seringkali berupa mahkota dari rangkaian daun laurel
Apollo mempunyai beberapa orang putra, namun yang paling terkenal adalah Aesculapius, putranya dari Peri Coronis, yang menjadi dewa kedokteran. Konon Aesculapius bahkan mampu membangkitkan orang dari kematian sehingga Pluto mengadukan hal ini pada Jupiter, karena jumlah jiwa-jiwa di Hades semakin berkurang. Jupiter murka mendengar pengaduan tersebut sehingga mengirim Aesculapius ke Hades. Namun meski telah berada di Hades Aesculapius tetap dapat menolong orang-orang yang membutuhkannya, maka orang memujanya sebagai dewa kedokteran bersama istrinya, Meditrina, dewi pengobatan, dan kedua orang putri mereka, yaitu
Hygea, dewi kebersihan, dan Panacea, dewi penyembuhan.
Figur Kristus sebagai Gembala Baik dalam seni Kristen awal diilhami oleh Apollo pelindung para penggembala...

0 comments:

Poskan Komentar