Minggu, 08 November 2009

"The Golden Age of Classical Myths Part 15

"The Golden Age of Classical Myths Part 15

Miscellaneous Deities

Pan adalah dewa hutan dan ladang yang juga menjadi pelindung penggembala. Meskipun sesungguhnya berhati lembut, wujudnya yang setengah manusia dan setengah kambing dengan tanduk dan janggut ikalnya membuat siapapun yang memandangnya akan terkejut dan ketakutan (wujud Iblis bertanduk yang kita kenal sekarang adalah hasil adaptasi Pan oleh umat Kristen awal). Kata ‘panik’ diturunkan dari namanya.

Suatu ketika Pan berjumpa dengan Syrinx, seorang peri hutan yang cantik. Pan langsung jatuh hati dan mencoba mendekatinya. Namun wujudnya membuat Syrinx gentar dan berlari menjauhinya. Pan mengejarnya. Ketika jarak mereka hampir berdekatan dan di hadapan mereka terbentang Sungai Ladon, Syrinx dalam keputusasaannya berseru kepada Terra agar menyelamatkannya dari kejaran Pan. Terra mendengar seruan Syrinx dan mengubahnya menjadi buluh di tepian sungai. Ketika Pan sampai di tepian sungai hatinya kecewa karena tak menemukan pujaan hatinya di sana. Namun ketika dilihatnya segerombol buluh yang tumbuh di tepian sungai tahulah dia bahwa Syrinx telah berubah menjadi buluh tersebut. Dia mengambil beberapa batang buluh tersebut dan memotongnya dalam ukuran yang berbeda-beda serta menyusunnya menjadi sebuah alat musik tiup yang kini dikenal sebagai pan-pipe atau seruling Pan. Sejak saat itu Pan selalu meniup seruling buluhnya sebagai perwujudan kerinduan hatinya akan kasih Syrinx. Alunan buluh perindunya menggema di tebing-tebing memecah keheningan di hutan dan padang di Arcadia, tempat kediamannya.

Konon permainan seruling Pan hanya dapat ditandingi oleh permainan lira Apollo. Namun Pan tak mengakui hal ini. Dia menantang Apollo bertanding bermain musik. Apollo menyanggupi. Para Muse ditunjuk menjadi jurinya. Pertandingan tersebut diadakan di lereng Gunung Tmolus di Phrygia. Raja Midas juga hadir untuk menyerahkan hadiah bagi pemenangnya. Dalam pertandingan tersebut Pan memainkan serulingnya dengan sangat mempesona. Namun permainan lira Apollo memang tak tertandingi. Para Muse menyatakan pemenangnya adalah sang dewa terang. Namun Midas justru mengakui kemenangan Pan. Hal ini menimbulkan kegusaran Apollo yang kemudian mengutuknya menjadi bertelinga keledai, hewan yang paling tidak musikal. Sejak saat itu Midas selalu mengenakan caping untuk menutupi telinga keledainya. Namun suatu hari tukang cukur yang bertugas melayaninya melihat telinga sang raja. Midas mengancamnya agar tidak membocorkan rahasia tersebut. Karena takut tukang cukur tersebut menyanggupi namun di lain pihak dia juga tak kuasa terus menyimpan rahasia tersebut. Akhirnya dia menggali lubang di tanah dan meneriakkan rahasia tersebut sekeras-kerasnya. Setelah itu lubang tersebut ditutupnya kembali. Berbulan-bulan kemudian tumbuh rumput di atas gundukan tanah bekas lubang tersebut. Ketika para gembala bermain-main membuat alat musik dari rumput tersebut, suara yang keluar dari alat musik tersebut berbunyi bahwa Raja Midas bertelinga keledai. Maka terkenallah Midas sebagai raja bertelinga keledai.

Nama Pan yang berarti ‘seluruh’ membuatnya menjadi symbol dari pemujaan terhadap alam (pantheisme) dan juga pemujaan terhadap semua dewa-dewi Yunani Kuno, yang kemudian lenyap seiring berjalannya waktu ketika iman Kristen muncul dan berkembang. Konon ketika Kristus dilahirkan di Bethlehem terdengarlah erangan panjang di seluruh Kepulauan Yunani yang mengabarkan bahwa Pan beserta seluruh penghuni Olympus telah tiada dan sejak itu oracle para dewa tak lagi memberi jawaban.

Sylvanus adalah dewa hutan yang juga dipuja oleh bangsa Romawi Kuno, namun tak dikenal oleh bangsa Yunani Kuno. Bisa jadi Sylvanus adalah hasil adaptasi dari Pan yang dipuja oleh orang Yunani. Sylvanus memiliki tiga orang putri, yaitu Flora, Fauna, dan Pomona yang selalu menyertainya.

Flora adalah dewi bunga dan tetumbuhan herba, kekasih Favonius, Angin Barat. Flora dilukiskan sebagai seorang gadis cantik memakai gaun berbunga-bunga sedang menaburkan bunga dalam pelukan kekasihnya. Fauna adalah dewi pelindung hewan-hewan yang hidup di hutan. Dia menjadi istri saudaranya sendiri, Faunus, yang juga menjadi pelindung hewan-hewan di hutan. Fauna begitu dicintai oleh orang-orang yang bermukim di dekat hutan sehingga mereka menyebutnya sebagai 'bona dea', dewi kebaikan, Pomona adalah dewi buah-buahan yang dicintai oleh Vertumnus, dewa perkebunan dan semak-semak. Apel yang dalam bahasa Latin disebut ‘pomum’ adalah buah persembahan baginya. Pomona dilukiskan sebagai seorang wanita cantik yang tengah memetik apel dengan pisau pemanennya.

Di samping mereka bertiga masih ada para Naiad, yaitu peri-peri penghuni mata air dan anak sungai; para Oread, peri-peri penghuni gua dan perbukitan; serta Dryad dan Hamadryad, yaitu peri-peri yang hidup di pepohonan. Semuanya hidup di hutan. Juga Pales yang adalah dewi pelindung ternak dan padang-padang penggembalaan dan Terminus dewa pelindung tanah-tanah perbatasan dan penunjuk jalan.

Priapus adalah putra Bacchus dengan Venus yang dipuja sebagai dewa kesuburan. Konon Juno yang membenci ayahnya mengutuknya ketika masih berada dalam kandungan ibunya, sehingga Priapus terlahir dalam wujud yang mengerikan seperti Pan dengan genital yang senantiasa menegang. Venus yang merasa malu dengan wujud putranya kemudian memberikan bayinya kepada peri-peri hutan untuk dipelihara. Setelah dewasa Priapus yang mencintai hutan, ladang, dan padang-padang penggembalaan memilih untuk tetap tinggal di tempatnya dibesarkan dan menjadi pelindung para petani dan penggembala.
Saturn setelah dikalahkan oleh Jupiter melarikan diri ke Italy dan dipuja sebagai dewa pertanian di sana, sehingga bangsa Romawi Kuno merayakan festival Saturnalia di bulan Desember untuk menghormatinya agar mendapatkan panenan yang baik di tahun berikutnya. Di Yunani Saturn dipuja sebagai dewa waktu, Chronos. Oleh sebab itu dia diceritakan menelan anak-anaknya sendiri sebagai symbol bahwa segala sesuatu yang eksis akan binasa oleh waktu. Dari namanya diturunkan kata ‘kronologi’. Dia sering diidentikan dengan maut itu sendiri dan dilukiskan sebagai seorang pria tua berjubah dan berkerudung hitam menggenggam sabit di tangannya serta membawa jam pasir.

Cybele adalah istri Saturn dan ibu Jupiter yang dipuja sebagai dewi ibu dan kesuburan. Banyak lembaga-lembaga pendidikan yang bernaung di bawah perlindungannya menyebutnya sebagai ‘alma mater’ atau ibu pelindung. Dia dilukiskan sebagai seorang wanita yang mengendarai kereta yang ditarik oleh dua ekor singa, penjelmaan Hippomenes dan Atalanta, sepasang kekasih yang dikutuknya karena berani melewatkan malam pengantin di halaman kuilnya. Hal ini terjadi karena Venus membuat mereka lupa diri setelah Hippomenes yang dibantunya dalam mempersunting Atalanta lupa memberikan persembahan sebagai tanda terima kasihnya kepada Venus. Cybele memiliki seorang pembantu yaitu Lucina, putri Jupiter dan Juno.

Janus adalah dewa penjaga gerbang Olympus yang berwajah dua, yang satu menatap ke belakang dengan penuh kerinduan dan perenungan sedangkan yang lain memandang dengan tegar ke depan. Namanya menjadi nama bulan di awal tahun kita, Januari. Kuil-kuil Janus di Roma hanya dibuka setahun sekali pada saat Tahun Baru atau pada saat para prajurit akan berangkat berperang karena pada masa damai kuil-kuil tersebut ditutup...

0 comments:

Posting Komentar