Minggu, 08 November 2009

"The Golden Age of Classical Myths Part 14"

"The Golden Age of Classical Myths Part 14"

The Parcae (dibaca par-se)

Para Parcae atau Fata yang disebut juga para Moira adalah dewi-dewi takdir yang keras hati, putri Jupiter dari Justitia, dan saudari para Horae, dewi-dewi musim, serta Astrea, dewi kesucian.

Jumlah mereka tiga orang dan nama-nama mereka adalah Clotho, Lachesis dan Atropos. Mereka bertiga diberi wewenang penuh untuk menentukan jalan hidup setiap makhluk yang ada di bumi ini, bahkan para dewa pun tak luput dari kekuasaan mereka. Hidup atau mati, suka atau duka yang dialami tiap makhluk merekalah yang menentukan. Jupiter sendiri pun tak berkuasa mengubah keputusan yang mereka ambil.

Mereka bertiga dilukiskan sebagai tiga gadis bergaun hitam sedang memintal, menjalin, dan memotong benang, yakni benang kehidupan. Clotho yang memintal benang, Lachesis menjalinnya, dan Atropos akan memotong benang tersebut, yang menandakan akhir hidup dari suatu makhluk.

The Muses and Graces

Para Muse yang berjumlah sembilan orang adalah putri-putri Jupiter dari titanid Mnemosyne, dewi memori. Mereka menjadi dewi-dewi seni pelindung musik, puisi, tari, drama, dan astronomi.

Mereka adalah Calliope, dewi puisi epic yang menggenggam pena bulu angsa di tangannya; Euterpe, dewi puisi lirik yang meniup seruling kembar; Erato, dewi puisi cinta yang memetik lira; Clio, pelindung sejarah yang membawa gulungan manuskrip dan pedang; Terpsichore, 'dia yang girang oleh seribu tarian' juga membawa lira; Thalia, dewi drama komedi dan pastoral yang membawa topeng tersenyum dan tongkat gembala; Melpomene, dewi drama tragedi yang membawa topeng murung dan memakai mahkota dari rangkaian dedaunan laurel; Polyhymnia, dewi hymne suci yang berwajah serius; dan Urania, pelindung astronomi yang membawa globe langit di tangannya.
Tempat suci bagi mereka adalah lereng Gunung Parnassus, di dekat mata air Castalia, di mana mereka sering bersama Apollo memberi inspirasi bagi para seniman. ‘Cintailah hanya yang baik dan tepiskanlah yang buruk’, demikian nasihat mereka. Juga hutan di lereng Gunung Helicon di mana terdapat mata air Pirene yang airnya sejernih kristal[c/olor]. Di tengah hutan tersebut, ditingkah kicau burung-burung dan bunyi gemercik air, di bawah naungan pepohonan cedar mereka bersama-sama melagukan pujian terhadap [color=darkblue]Caelus dan Terra yang telah melahirkan alam yang permai dan menurunkan dewa-dewi yang perkasa, serta memuji orang-orang besar yang prestasinya patut dicatat dalam lembaran sejarah manusia dengan tinta emas.

Di samping para Muse, masih ada dewi-dewi yang bertugas mempermanis hidup, yaitu tiga Grace yang menjadi pelindung festival dan pesta. Mereka adalah putri-putri Jupiter dari Eurynome, dewi laut. Nama-nama mereka, yang disebut dengan penuh cinta dan hormat, adalah Aglaia yang anggun, Thalia yang menawan, dan Euphrosyne yang memuja bunga. Mereka menyemarakkan setiap festival dan pesta serta event-event membahagiakan lainnya. Tugas mereka sungguh mulia. Tak heran apabila umat manusia mencintai mereka.

Mereka dilukiskan sebagai tiga gadis cantik memakai gaun yang semarak sedang menari dengan taburan bunga berwarna-warni. Mereka elok bagai musim semi yang berkembang, polos bagai anak-anak, murni bagai bunga lily di kala fajar...

0 comments:

Posting Komentar