Minggu, 08 November 2009

"The Golden Age of Classical Myths Part 10 "

"The Golden Age of Classical Myths Part 10 "

Neptune

Neptune adalah dewa penguasa samudra, saudara Jupiter yang dijuluki si pengguncang bumi. Dengan trisulanya dia dapat menimbulkan badai yang menghempaskan kapal-kapal, namun dapat pula mendatangkan berkat bagi para pelaut.
Bagi bangsa Yunani Kuno, yang merupakan bangsa maritim, Neptune adalah personifikasi dari sifat-sifat lautan itu sendiri. Di kala tenang lautan merupakan sumber kekayaan yang amat berharga, namun di kala bergolak dapat berarti bencana bagi yang mengarunginya. Karena itu Neptune terkadang dilukiskan kejam terkadang murah hati.
Neptune berkuasa atas lautan dan semua perairan di permukaan bumi menggantikan Oceanus sejak Jupiter bertahta di Olympus. Permaisurinya adalah Amphitrite, putri dewa laut Nereus dengan dewi laut Doris.
Nereus dan Doris memiliki lima puluh orang putri yang disebut para Nereid. Di antara para Nereid yang terkenal adalah Amphitrite, Thetis, dan Galatea.
Suatu hari, di kala Neptune menjelajah samudra di atas keretanya yang ditarik kuda-kuda putih, dia melihat Amphitrite beserta saudari-saudarinya sedang bermain-main bersama makhluk-makhluk penghuni lautan lainnya. Neptune langsung jatuh hati melihatnya Namun rupanya Amphitrite justru ngeri melihat sosok Neptune yang menakutkan sehingga dia lari bersembunyi ke ujung dunia untuk menghindarinya. Neptune menjadi murka dan memukulkan trisulanya ke permukaan air sehingga timbullah badai dahsyat berbulan-bulan lamanya, sampai Jupiter bertindak mengirimkan serombongan lumba-lumba yang menuntun Neptune ke tempat Amphitrite. Akhirnya Amphitrite bersedia menjadi istri Neptune dan menjadi ratu samudra. Perkawinan mereka dikaruniai dua orang putra, yaitu Triton dan Proteus.
Pasangan ini sering menjelajah samudra bersama di atas kereta yang ditarik kuda-kuda putih diiringi para Nereid lainnya, dengan lumba-lumba berloncatan riang serta burung-burung laut yang memekik girang beterbangan di sekeliling mereka. Arak-arakan tersebut dipimpin oleh Triton yang meniup sangkakala kerangnya yang dapat menimbulkan atau menentramkan badai.
Neptune dilukiskan sebagai pria berambut ikal keperakan dengan janggut panjang berwarna sama memakai jubah bersilang sebelah di dada. Mengenakan mahkota di atas kepalanya dan menggengam trisula di tangannya. Amphitrite dilukiskan sebagai wanita cantik yang berhiaskan kalung mutiara di leher dan pergelangan tangan, sementara di atas kepalanya dia mengenakan mahkota dari rangkaian tetumbuhan laut. Triton dilukiskan sebagai pemuda tampan yang berekor ikan sedang meniup sangkakala kerangnya
Kota yang disucikan bagi Neptune adalah Corinth dan Samos. Sebelumnya dia menginginkan Attica namun rupanya Minerva yang lebih beruntung mendapatkannya, lalu Argos namun Juno yang menjadi pemiliknya, dan kemudian Delphi yang menjadi milik Apollo.
Ketika memperebutkan Attica dengan Minerva, Neptune menjanjikan kota tersebut akan menjadi kota pelabuhan yang termasyhur, sedangkan Minerva memberikan tanaman zaitun yang banyak kegunaannya bagi penduduk Attica. Cecrops, Raja Attica, tak dapat memutuskan hal tersebut sehingga dewa-dewi Olympus turun tangan memutuskan. Keputusan dewa-dewi Olympus menempatkan Neptune di pihak yang kalah. Hal ini menimbulkan murka Neptune sehingga Attica kemudian dilanda bencana dari laut. Akhirnya amarah Neptune mereda setelah kaum wanita Attica dihukum harus kehilangan hak-hak mereka dalam pemerintahan

Pluto

Pluto adalah saudara Jupiter yang menjadi raja di kerajaan orang mati, Hades.
Kerajaan Hades yang terletak di bawah bumi adalah tempat jiwa-jiwa orang mati menantikan penghakiman atas diri mereka. Jiwa-jiwa yang baik akan tinggal di Padang Elysium dan mengalami kebahagiaan abadi setelah penghakiman, sedangkan jiwa-jiwa yang jahat akan disiksa sampai kekal di Tartarus. Sebelum mencapai Hades yang gerbangnya dijaga Cerberus, anjing yang berkepala tiga, suatu jiwa harus menyeberangi Sungai Styx, yang airnya berkekuatan gaib karena menjadi tempat dewa-dewi bersumpah, dengan mengendarai perahu yang dikemudikan oleh seorang dewa bernama Charon.
Di Hades selain Pluto dan permaisurinya, Proserpine, juga tinggal Justitia, dewi keadilan yang memakai penutup mata dan membawa pedang serta neraca di tangannya, yang menjatuhkan keputusan bagi setiap jiwa. Justitia dalam menjatuhkan keputusannya dibantu oleh tiga hakim Hades, yaitu Aeacus, Minos, dan Rhadamanthis. Para Fury adalah tiga dewi pembalasan yang bertugas menghukum jiwa-jiwa yang jahat. Mereka adalah Alecto, Megaera, dan Tisiphone yang berdiri di sekitar tahta Pluto dan Proserpine.
Selain itu masih ada dewa-dewa lain yang juga tinggal di Hades, yaitu Mors, dewa maut; Somnus, dewa tidur, saudara kembar Mors, keduanya adalah putra Nox; dan Morpheus, putra Somnus, yang merupakan dewa mimpi.
Pluto dilukiskan sebagai pria berambut dan berjanggut kelabu, di tangannya tergenggam dwisulanya yang digunakannya untuk membelah bumi, saat berkunjung ke permukaan bumi dengan mengendarai keretanya yang dihela kuda-kuda hitam. Nama Pluto sendiri berarti ‘pembawa kekayaan’ karena dia adalah raja di bawah permukaan bumi, di mana tersimpan banyak kekayaan yang tak ternilai. Proserpine dilukiskan sebagai wanita muda jelita bermahkotakan rangkaian bunga, memakai gaun yang semarak serta membawa cornucopia (tanduk kelimpahan) yang sarat dengan buah-buahan, lambang kekayaan, di tangannya. Charon dilukiskan sebagai seorang berjubah dan berkerudung hitam dengan tangan-tangan kurus yang memegang kayuh perahu jiwa-jiwa. Wajahnya tak terlihat karena terselubung kerudung hitamnya...

0 comments:

Posting Komentar