Minggu, 08 November 2009

Filsafat pendidikan

PENDAHULUAN

Filsafat pendidikan Islam ada yang bercorak tradisional dan dapat pula bercorak filsafat kritis. Pada filsafat pendidikan Islam yang bercorak tradisional tentunya tidak bisa dipisahkan dengan aliran mazhab filsafat yang pernah berkembang dalam dunia Islam.
Dalam hal ini, filsafat pendidikan Islam berusaha menganalisa aliran-aliran yang ada terhadap masalah-masalah kependidikan yang dihadapi pada masanya dan bagaimana implikasinya dalam proses pendidikan.
Sedangkan pada filsafat pendidikan yang bercorak kritis, maka dalam hal ini di samping menggunakan metode-metode filsafat pendidikan Islam, juga menggunakan metode filsafat pendidikan yang berkembang dalam dunia filsafat pada umumnya.















PEMBAHASAN

Metode Kajian Filsafat Pendidikan Islam
Filsafat, sebagai induk ilmu pengetahuan, dalam proses perkembangannya, nampak menjadi sistem-sistem filsafat yang menunjukkan keragaman yang sangat luas.
Filsafat pada garis besarnya dua sistem filsafat (mazhab dalam filsafat), yaitu:
1. Mazhab tradisional, yang dalam sistem filsafatnya – ijtihadnya berpegang teguh pada nash-nash al-Qur'an dan sunnah Rasul.
2. Mazhab rasional, banyak menggunakan akal dalam filsafatnya – ijtihadnya. Mereka disebut ahlu al Ra'yi/ahlu al 'aql.
Filsafat Islam dalam memecahkan problema pendidikan Islam dapat menggunakan metode-metode antara lain:
A. Metode Spekulatif dan Kontemplatif
Merupakan metode utama dalam setiap cabang filsafat. Dalam sistem filsafat disebut tafakur. Baik kontemplatif maupun tafakur adalah berpikir secara mendalam dan dalam situasi yang tenang, sunyi, untuk mendapatkan kebenaran tentang hakikat sesuatu yang dipikirkan, karena berkaitan dengan yang abstrak.
B. Metode Deduktif
"Suatu metode berpikir dimana suatu kesimpulan ditarik dari prinsip-prinsip umum dan kemudian diterapkan kepada sesuatu yang bersifat khusus."
Contoh: Semua manusia adalah fana (prinsip umum)
Semua raja adalah manusia (prinsip khusus)
Karena itu semua manusia adalah raja (kesimpulan)
C. Metode Induksi
"Suatu metode berpikir dimana suatu kesimpulan ditarik dari suatu prinsip khusus kemudian diterapkan suatu yang bersifat umum."
Contoh: Amir adalah manusia (prinsip khusus)
Ia ( si Amir) akan mati (peristiwa yang bersifat umum)
Seluruh manusia akan mati (kesimpulan)
D. Metode Dialektik
"Suatu cara berpikir dimana satu kesimpulan diperoleh melalui 3 jenjang penalaran yaitu tesis, antitesis, dan sintesis."
Metode ini berusaha untuk mengembangkan sesuatu, bermacam-macam proses (sikap) yang saling mempengaruhi argument tersebut akan menunjukkan bahwa tiap proses tidak menyajikan pemahaman yang sempurna tentang kebenaran.
Dengan demikian, timbullah pandangan dan alternatif yang baru. Pada tiap tahap dari diakletik ini kita memasuki lebih dalam kepada problema asli, dan dengan demikian ada kemungkinan lebih mendekati kebenaran.
Hegel menganggap bahwa metode diakletik merupakan metode berpikir yang benar.
Proses diakletik selalu terdiri dari 3 fase: yang pertama menampilkan "lawan" yang ke-2 adalah yang disebut antitesis dan akhirnya timbullah fase yang ke-3 sintesis yang mendamaikan antara tesis dan antitesis.
Contoh: dalam keluarga, suami dan istri adalah dua makhluk yang berlainan yang dapat merupakan bagian dari dirinya sendiri. Demikian juga bagi si istri. Dengan demikian si anak merupakan sintesis bagi suami istri tersebut.
E. Pendekatan Normatif.
Norma artinya nilai, juga berarti aturan atau hukum-hukum. Norma menunjukkan keteraturan suatu sistem nilai menunjukkan baik, buruk berguna tidak bergunanya sesuatu menurut filsafat Islam, sumber nilai adalah Tuhan dan semua bentuk norma akan mengarahkan manusia kepada Islam, pendekatan normatif dimaksudkan adalah mencari dan menetapkan aturan-aturan dalam kehidupan nyata, dalam filsafat Islam bisa disebut sebagai pendekatan syar'iyah, yaitu mencari ketentuan adan menetapkan ketentuan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh menurut syariat Islam. Obyeknya adalah berkaitan dengan tingkah laku dan amal perbuatan metode ijtihad dalam fiqih seperti ihtihsan, maslahah mursalah, al-'adah muhakkamah adalah contoh-contoh metode normative ini dalam sistem filsafat Islam.
F. Analisa Konsep
Disebut sebagai analisa bahasa konsep, berarti tangkapan atau pengertian seseorang terhadap suatu obyek. Dalam sistem filsafat Islam, menafsirkan praktek kongkit dari pendekatan analisa konsep-konsep filosofis tentang hidup dan kehidupan manusia seperti iman, Islam, ihsan, amal saleh, takwa, bahagia dan sebagainya.
G. Pendekatan Historis
Histori artinya sejarah, yaitu mengambil pelajaran dari peristiwa dan kejadian masa lalu suatu kejadian/peristiwa dalam pandangan kesejarahan terjadi karena hubungan sebab akibat dan terjadi dalam suatu setting situasi kondisi dan waktunya sendiri-sendiri.
H. Pendekatan Ilmiah
Pendekatan ilmiah terhadap masalah aktual yang pada hakikatnya merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari pola berpikir rasional, empiris dan eksperimental yang telah berkembang pada masa jayanya filsafat dalam Islam. Pendekatan ini tidak lain adalah merupakan realisasi dari ayat al-Qur'an yang menyatakan bahwa:
... إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ...
Artinya: ".....Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri....." (QS. al Rad: 11)

Usaha mengubah keadaan/nasib, tidak mungkin bisa terlaksana kalau seseorang tidak memahami permasalahan-permasalahan actual yang dihadapinya. Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha-usaha untuk mengubah dan mengarahkan keadaan atau nasib tersebut.
I. Dalam sistem filsafat Islam
Pernah pula berkembang pendekatan yang sifatnya komperhensif dan perpadu antara sumber-sumber naqli, akli dan imani, sebagaimana yang nampak dikembangkan oleh al-Gazali. Menurut al-Gazali, kebenaran yang sebenarnya yaitu kebenaran yang diyakininya betul-betul merupakan kebenaran. Pendekatan ini lebih mendekati pola berpikir yang empiris dan intuitif
J. Ajaran Islam tentang Wahyu (Pendekatan Wahyu)
Teori Islam tentang wahyu dan cara untuk meraihnya adalah mudah dan jelas. Karena ada malaikat khusus yaitu Jibril as, yang mampu mengubah bentuk dalam berbagai bentuk malaikat lain dan satu tugas baha ia adalah perantara antara Allah dengan para Nabinya. Dari Jibrillah Muhammad SAW menerima semua perintah keagamaan.

Fungsi dan Peranan Filsafat Pendidikan Islam
Filsafat pendidikan Islam sebagai bagian atau komponen dari suatu sistem, ia memegang dan mempunyai peranan tertentu pada sistem dimana ia merupakan bagianhya.
Secara praktis (dalam prakteknya), filsafat pendidikan Islam banyak berperan dalam memberikan alternatif-alternatif pemecahan berbagai macam problem yang dihadapi oleh pendidikan Islam.
a. Pertama-tama filsafat pendidikan menunjukkan problema yang dihadapi oleh pendidikan Islam, sebagai hasil dari pemikiran yang mendalam dan berusaha untuk memahami duduk masalahnya.
b. Filsafat pendidikan Islam, memberikan pandangan tertentu tentang manusia (menurut Islam). Pandangan tentang hakikat manusia tersebut berkaitan dengan tujuan hidup manusia dan sekaligus juga merupakan tujuan pendidikan menurut Islam.
c. Filsafat pendidikan dengan analisanya terhadap hakikat hidup dan kehidupan manusia, berkesimpulan bahwa manusia mempunyai potensi pembawaan yang harus ditumbuhkan dan diperkembangkan. Filsafat pendidikan Islam menunjukkan bahwa potensi pembawaan manusia tidak lain adalah sifat-sifat Tuhan atau al-Asma' al-Husna. Dan mengembangkan sifat-sifat Tuhan tersebut dalam kehidupan kongkret, tidak boleh mengarah kepada menodai dan merendahkan nama dan sifat Tuhan tersebut.
d. Filsafat pendidikan Islam, dalam analisanya terhadap masalah-masalah pendidikan Islam masa kini yang dihadapinya, aka dapat memberikan informasi apakah proses pendidikan Islam yang ideal atau tidak.


KESIMPULAN

Dalam ilmu filsafat ada beberapa metode tentang kajian diantaranya metode kontempelatif, spekulatif, dedukatif, induktif, serta ada pula metode filsafat pendidikan Islam itu sendiri seperti pendekatan sejarah, pendekatan ilmiah. Selain metode filsafat pendidikan pun berperan dalam pendidikan teoritis dan praktisnya.



DAFTAR PUSTAKA


Zuhairini, Dra., dkk., Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1991.

Praja, Juhaya S. Prof., Dr., Aliran-aliran Filsafat dan Etika, Jakarta: Prenada Media, 2005.

Ghazali, Imam, Al Munqidz al Dlolal (Pembebasan dari Kesesatan), terj. Abdullah bin Nuh, Jakarta: Tintamas, 1962.

0 comments:

Posting Komentar