Senin, 09 November 2009

Fatima Mernissi: Berontak Demi Kaum Perempuan

Fatima Mernissi lahir tahun 1940 di Fez, Marokko. Ia tinggal dan dibesarkan dalam sebuah harem bersama ibu dan nenek-neneknya serta saudara perempuan lainnya. Sebuah harem yang dijaga ketat seorang penjaga pintu agar perempuan-perempuan itu tidak keluar. Harem itu juga dirawat dengan baik dan dilayani oleh pelayan perempuan.

Fatima Mernissi
lahir tahun 1940 di Fez, Marokko. Ia tinggal dan dibesarkan dalam sebuah harem
bersama ibu dan nenek-neneknya serta saudara perempuan lainnya. Sebuah
harem yang dijaga ketat seorang penjaga pintu agar perempuan-perempuan itu
tidak keluar. Harem itu juga dirawat dengan baik dan dilayani oleh pelayan
perempuan. Neneknya, Yasmina, merupakan salah satu isteri kakeknya yang
berjumlah sembilan. Sementara hal itu tidak terjadi pada ibunya. Ayahnya
hanya punya satu isteri dan tidak berpoligami. Hal ini dikarenakan orang tua
Mernissi seorang penganut nasionalis yang menolak poligami. Namun begitu,
ibunya tetap tidak bisa baca tulis karena waktunya dihabiskan di harem.

Sewaktu Mernissi lahir, para nasionalis Marokko berhasil merebut
kekuasaan pemerintahan negara dari tangan kolonial Prancis. Ini diakui
Mernissi, “….jika saya dilahirkan dua tahun lebih awal, saya tidak
akan memperoleh pendidikan, saya lahir pada waktu yang sangat tepat”.
Kaum nasionalis yang berjuang melawan Prancis waktu itu, menjanjikan akan
menciptakan negara Maroko yang baru, negara dengan persamaan untuk semua.
Setiap perempuan memiliki hak yang sama atas pendidikan sebagaimana
laki-laki. Mereka juga akan menghapuskan praktek perkawinan poligami.

Inilah yang membuat ia beruntung karena walaupun ia tinggal di
harem, tapi ia mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Dalam buku
The Harem Within , Mernissi menceritakan tentang masa kecilnya yang ia
habiskan di harem bersama ibu dan nenek-neneknya. Buku ini merupakan
cermin masa kanak-kanaknya dalam sebuah harem di Fez, yang dilihat dari
kaca mata seorang gadis muda. Namun ia mengakui hanya sebagian cerita yang
dalam buku ini berdasarkan pada pengalamannya sendiri. “Masa kanak-kanak
saya tidak seindah dalam buku ini,” katanya.

Walaupun Mernissi menggambarkan kehidupan harem dengan pesona
yang kaya, ia tidak melupakan penindasan di dalamnya. Dalam bukunya, ia juga
mengungkapkan bagaimana kaum harem melihat ke rentang langit dari dalam
lingkungan halaman harem dan memimpikan hal-hal yang sederhana, seperti
melangkah bebas di jalan. Atau bagaimana Mernissi melihat dunia luar dengan
mengintip dari lubang pintu.

Menurut Mernissi, orang Barat selalu memandang dan
membayangkan harem yang berada dalam istana. Di sini ia membedakan antara
harem kelas tinggi (imperial) dan harem kelas biasa (domestik).
Yang dibayangkan orang Barat adalah harem kelas tinggi, yakni istana-istana
yang dimiliki laki-laki yang kaya raya dan berkuasa, yang membeli ratusan
perempuan budak dan menyimpannya dalam lingkungan harem dengan dijaga ketat
oleh kasim. Harem-harem semacam ini telah lenyap pada perang Dunia I,
ketika kerajaan Ottoman hancur dan praktek-praktek itu dilarang oleh
penguasa Barat. Sementara harem yang ditinggali Mernissi adalah harem
biasa, yang sampai sekarang masih ada di negara-negara Teluk.

Sejak kecil, Mernissi telah terlibat dengan pergulatan pemikiran
dan selalu melontarkan pertanyaan yang liar. Misalnya dalam hal batas
antara laki-laki dan perempuan. Mernissi kecil menanyakan, kalau
disepakati ada batas antara perempuan dan laki-laki, kenapa yang harus
ditutupi dan dibatasi itu perempuan. Pertanyaan itu selalu ia lontarkan
kepada neneknya, Yasmina. Neneknya tak bisa menjawab pertanyaan cucunya
itu karena menurutnya itu terlalu berbahaya.

Dalam masa-masa ini pula ia memiliki hubungan yang sangat
ambivalen dengan agama. Ini dikarenakan adanya perbedaan dan ketegangan
cara pandang terhadap Al-Qur’an yang dia terima di sekolah pengajian
Al-Qur’an dan yang diajarkan Neneknya. Di sekolah Al-Qur’annya, ia diajar
dengan cara yang keras. Setiap hari ia harus menghapal ayat-ayat
Al-Qur’an, yang kalau salah melafalkannya akan mendapat teguran dan bentakan
atau pukulan. Dalam kondisi seperti ini, ia melihat agama sebagai sesuatu yang
mengerikan.

Sementara, di sisi lain, Mernissi kecil ini lebih menerima
keindahan agama lewat nenek Yasmina, yang telah membukanya menuju pintu
agama yang puitis. Neneknya yang menderita insomnia selalu bercerita
tentang perjalanan hajinya. Dan dengan semangat selalu bercerita tentang
dua kota, Mekkah dan Madinah. Kota yang selalu diburunya adalah kota Madinah
sehingga kota yang lain seperti Arafah dan Mina sering ia lewatkan hanya
karena ingin cepat-cepat menceritakan kota Madinah. Hal ini sangat
berpengaruh pada Mernissi kecil. Madinah kemudian menjadi kota impian yang diobsesikannya.

Sikap ini melekat pada Mernissi selama bertahun-tahun.
Menurut Mernissi, Al-Qur’an sebagai kitab suci agama Islam sangat
tergantung pada bagaimana perspektif dan resepsi (penerimaan) kita
terhadapnya. Ayat-ayat suci ini bisa menjadi gerbang untuk melarikan diri
atau bisa juga menjadi hambatan yang tidak bisa diatasi. Al-Qur’an, kata
Mernissi, bisa menjadi pembawa kita ke dalam mimpi atau malah pelemah
semangat belaka.

Sedangkan Ibu Mernissi selalu mengajarkan kepada Mernissi kecil
bagaimana bisa bertindak dan bertahan sebagai perempuan: “Kamu harus
belajar untuk berteriak dan protes, sebagaimana kamu belajar untuk berjalan
dan berbicara,” kata sang Ibu pada Mernissi. Dari sang ibu juga ia
mendapatkan cerita tentang bagaimana agar perempuan bertindak cerdik dan
bijaksana. Ibunya sering menceritakan kisah-kisah dalam Seribu Satu Malam.
Cerita ini mengisahkan seorang sultan yang sangat menggemari dongeng.
Dikisahkan, Sultan Nebukadnedzar suatu ketika memergoki permaisurinya berzina
dengan pengawalnya. Sang Sultan marah lalu membunuh keduanya. Sejak itu Sultan
membenci perempuan. Hal ini membuatnya mempunyai kebiasaan buruk, yakni
menikahi perempuan di malam hari, dan keesokan harinya si isteri tersebut
harus dipancung. Begitu terus terjadi setiap hari. Tak terbilang banyaknya
gadis yang mati karena itu. Kebiasaan ini berhasil dihentikan oleh seorang
gadis bernama Shahrazad, dengan memikat sultan lewat cerita-ceritanya,
sehingga sang sultan selalu mengurungkan niatnya untuk memancung gadis itu.

Kebijaksanaan semacam inilah yang disarankan sang ibu. Pokok
penting ini digaris bawahi, ketika si anak perempuan itu balik bertanya:
“Tetapi bagaimana kita bisa belajar tentang cara mendongeng, yang bisa
menyenangkan kati raja?” Si ibu komat-kamit, seakan-akan berbicara
pada dirinya sendiri, bahwa itulah pekerjaan seumur hidup perempuan.
Mernissi mengakui, ibu dan neneknya yang mendorongnya untuk sekolah yang
tinggi, agar perempuan bisa berdiri sendiri.

***

Ketika Mernissi menginjak sebagai gadis remaja, ia mulai
mendapatkan pelajaran agama, dengan masuk pada bidang as-Sunnah. Pada
saat itu, ia menemukan suatu kejadian yang membuatnya terluka. Mernissi
berkata:

“ .......Beberapa
hadis yang bersumber dari kitab Bukhori, dikisahkan oleh para guru pada
kami, membuat hati saya terluka. Katanya Rasulullah mengatakan bahwa:
“anjing, keledai dan perempuan akan membatalkan salat seseorang
apabila ia melintas di depan mereka, menyela diantara orang yang salat dan
kiblat”. Perasaan saya amat terguncang mendengar hadis semacam itu, saya
hampir tak pernah mengulanginya dengan harapan, kebisuan akan membuat
hadis ini terhapus dari kenangan saya. Saya bertanya, “Bagaimana
mungkin Rasulullah mengatakan hadis semacam ini, yang demikian melukai
saya......Bagaimana mungkin Muhammad yang terkasih, bisa begitu melukai
perasaan gadis cilik, yang disaat pertumbuhannya, berusaha menjadikannya
sebagai pilar-pilar impian-impian romantisnya.” (Wanita Dalam Islam,
h. 82)

Dalam perjalanan hidupnya yang penuh pergolakan pemikiran
ini, Mernissi telah membuktikan bahwa didikan ibu dan neneknya telah
membuahkan hasil. Di samping karena jasa kaum nasionalis yang membolehkan
perempuan mengikuti pendidikan sekolah. Meski begitu, Mernissi mengakui bahwa
banyak impian nasionalisme Arab belum terwujud. Poligami belum dilarang,
perempuan belum mencapai status yang setara dengan laki-laki dan demokrasi
belum menjadi sistem yang dominan di dunia Arab.

Kini, Mernissi telah melewati harem dengan dilewatinya berbagai
jenjang pendidikan. Ini juga menjadi bukti keberhasilannya melewati
batas-batas harem yang selalu ia tanyakan sejak kecil. Ia mendapatkan
gelar di bidang politik dari Mohammed V University di Rabat, Marokko.
Gelar Ph.D didapatkan di Universitas Brandels, Amerika Serikat tahun 1973.
Disertasinya, Beyond the Veil, menjadi buku teks yang menjadi rujukan
dalam pustaka Barat.

Dan sekarang, ia menjadi dosen tetap dan guru besar Sosiologi di
Universitas Mohammed V Rabat, yang merupakan perguruan tinggi almamaternya.
Mernissi pun aktif sebagai seorang feminis islam yang aktif diberbagai
organisasi perempuan Afrika Utara yang menyuarakan persoalan-persoalan
perempuan Islam dengan mengadakan studi dan penelitian. Ia termasuk figur
yang cukup diperhitungkan dikalangan aktivis perempuan dunia, khususnya Dunia
Islam.

Pikiran dan
Karya

Penulis melihat, karya-karya Mernissi sarat dengan pengalaman
individualnya. Setidaknya pengalaman individualnya itulah yang memacunya untuk
melakukan riset historis tentang sesuatu yang dia rasa mengganggu paham
keagamaannya. Misalnya kita lihat dalam karyanya The Veil and Male Elite
(diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Menengok kontroversi
Keterlibatan Wanita Dalam Politik, (Surabaya: Dunia Ilmu, 1997) yang
kemudian ia revisi menjadi Women and Islam: A Historical and Theological
Enquiry (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Wanita dalam Islam,
Bandung: Pustaka, 1994). Pelacakan Mernissi terhadap nash-nash suci baik
Al-Qur’an dan Hadis didasari pada pengalaman individunya sehari-hari ketika
berhubungan dengan masyarakat. Seperti misalnya hadis-hadis yang ia sebut
misoginis yang menyatakan posisi perempuan sama dengan anjing dan keledai
sehingga membatalkan salat sesorang, dikarenakan rasa ingin tahu yang
mendalam terhadap posisi Hadis tersebut. Pengalaman itu ia dapatkan waktu
remaja di sekolah.

Begitu juga Hadis tentang kepemimpinan perempuan yang membuatnya,
dalam bahasa Mernissi sendiri, “hancur” perasaannya setelah
mendengarnya. Dorongan untuk melacak hadis itu secara serius karena Hadis
itu terlontar dari pedagang yang ia tanya di pasar, apakah boleh perempuan
menjadi pemimpin. Sang pedagang begitu kaget dengan pertanyaan Mernissi
sampai menjatuhkan dagangan yang dibawanya secara tak sadar. Lalu sang
pedagang mengutip Hadis: “Tidak akan selamat suatu kaum yang dipimpin oleh
perempuan”.

Menurut Mernissi, peristiwa semacam itu menunjukkan Hadis ini
sudah sangat merasuk umat Islam. Sehingga ketika perempuan menjadi pemimpin
menjadi ramai diperdebatkan. Seperti kasus Benazir Butho yang waktu itu
menjadi Perdana Menteri di Pakistan. Padahal Al-Qur’an sudah mengungkapkan
dengan jelas contoh Ratu Bilqis sebagai pemimpin berjenis kelamin perempuan.

Soal lain yang menjadi concern Mernissi adalah hijab. Tema
hijab sangat dominan dalam karir intelektual Mernissi karena soal itulah yang
sejak kecil mempengaruhi dirinya dan keluarganya, dan tentunya keluarga
muslim lainnya. Hijab, yang merupakan instrumen pembatasan, pemisahan dan
pengucilan terhadap perempuan dari ruang publik bagi Mernissi merupakan
bentuk pemaahaman keagamaan dominan (yang nota bene dikuasai oleh
laki-laki!). Hijab juga berarti sarana pemisahan antara penguasa dan rakyat.
Pemikiran hijab yang terakhir ini dipengaruhi oleh realitas kekuasaan yang
terjadi dalam masyarakat Arab.

Dengan melakukan penafsiran-penafsiran Al-Qur’an dan Hadis,
riset sejarah dan analisa sosiologis, Mernissi berusaha keras untuk
membongkar pemahaman tersebut, untuk kemudian memberikan tafsir alternatif.
Pemikiran Mernissi tentang hal ini bisa kita lihat dalam dua bukunya The
Forgetten of Queen in Islam (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Ratu-Ratu
Islam yang Terlupakan, Bandung: Mizan, 1994). dan Islam and
Democracy (diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia: Islam dan
demokrasi: antologi Ketakutan, Jogyakarta: LKiS, 1994).

Dalam beberapa karyanya, Mernissi juga mencoba menunjukkan bahwa
kekurangan-kekurangan yang ada dalam pemerintahan Arab bukanlah karena secara
inheren ajaran-ajaran religius yang nota bene menjadi undang-undang dasar
pemerintahan tersebut cacat. Namun karena ajaran agama itu telah dimanipulasi
oleh orang yang berkuasa untuk kepentingan dirinya sendiri. Namun dalam
beberapa hal Mernissi membela negara Arab, ketika negara-negara ini disorot
dan dicitrakan negatif oleh pers Barat. (Islam dan demokrasi, h. 26)

Dalam kebanyakan karya-karyanya, Mernissi mencoba menggambarkan
bahwa ajaran agama bisa dengan mudah dimanipulasi. Karenanya Mernissi pun
percaya, penindasan terhadap perempuan adalah semacam tradisi yang dibuat-buat,
dan bukan dari ajaran agama Islam. Makanya ia sangat berani dan tidak takut
membongkar tradisi yang dianggap sakral oleh masyarakat selama ini. Banyak
tulisan-tulisan lepasnya tentang perempuan yang menyuarakan hal di atas.
Misalnya bisa kita lihat dalam bukunya Rebellion’s Women And Islamic Memory,
(London & New Jersey: Zed Books, 1996).

Sebagai seorang sosiolog, tulisan-tulisan Mernissi ini bisa
dikatakan tidak semata-mata berisi uraian normatif tapi kaya juga dengan
analisa sosiologis. Ini bisa terlihat dari karya-karya yang di atas tadi
dan disertasi doktoralnya yang dibukukan dengan judul Beyond The Veil (diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia: Seks dan Kekuasaan: Dinamika Pria-Wanita Dalam
Masyarakat Muslim Modern, (Surabaya: Al-Fikr, 1997). Buku ini merupakan
hasil penelitiannya terhadap perempuan Marokko tentang batas-batas seksual
perempuan. Sehingga, seakan-akan pergulatan intelektual dan pengalamannya
itu yang ia tuangkan dalam karya-karyanya, bisa menjadi representasi persoalan
perempuan Islam pada umumnya.

0 comments:

Poskan Komentar