Minggu, 08 November 2009

Dialektika Sains dan Agama

Judul : Dan Tuhan Tidak Bermain Dadu - Argumen bagi Keterciptaan Alam Semesta
Pengarang : Keith Ward
Penerbit : Mizan
Cetakan I : Rajab 1423 H/September 2002
Penerjemah : Larasmoyo, dari judul asli ”God, Chance and Necessity” Terbitan Oneworld, Oxford, 1996
Pengantar : Armahedi Mahzar

SEJAK Filsafat mulai menemukan ranah kelahiran formatnya di Yunani kuna yang dimulai dari sang empu ”Thales” dan kemudian dilanjutkan oleh tiga filosof besar, Plato, Aristoteles dan Plotinus, orang-orang pun mulai ramai mencari hakikat alam semesta, Tuhan dan kebenaran, sebagai pertanyaan-pertanyaan yang terus muncul tanpa jawab yang pasti.

Saat ini, agama masih diyakini sebagai sumber rujukan fundamental atas segala pertanyaan, dalam artian antara kegiatan filsafat yang melahirkan sains dan ilmu pengetahuan masih bisa berjalan secara harmonis dengan agama sebagaimana tampak pada masa-masa kejayaan Islam. Namun, seiring dengan perkembangan pemikiran manusia serta berbagai macam kemajuan teknologi yang dihasilkan, maka terjadilah masa-masa perpisahan antara agama sebagai konstruk dogmatis dan sains sebagai hasil dari olah pikir manusia yang pada akhirnya menggantikan wahyu agama sebagai otoritas legitimasi kebenaran.

Hal ini berawal sejak Rene Descartes menorehkan jejak dan metode baru pencarian kebenaran yang berbasis pada unsur subjektivitas yaitu manusia, yang pada akhirnya melahirkan dualisme dalam segala bentuk kehidupan. Alam semesta dianggap sebagai sebuah mesin raksasa yang bisa kita olah seenaknya. Hal ini pula yang menjadikan semakin dominannya unsur material dalam setiap hal mulai dari bidang sains dan pemikiran, sosial budaya bahkan agama.

Dalam bidang pengetahuan sendiri unsur material yang diimani oleh aliran materialisme khususnya ketika Charles Darwin mengajukan teori evolusi dan seleksi alamnya melahirkan anggapan bahwa segala bentuk kehidupan berevolusi dari yang sederhana menuju bentuk dengan tingkat kompleksitas yang tinggi dan hal ini terjadi melalui sebuah seleksi alamiah atau sebuah pertarungan alam di mana yang kuat bisa bertahan sedang yang lemah dengan sendirinya akan tergeser.

Dalam hal ini ditambahkan lagi bahwa gen-gen yang bermutasi secara acak pada akhirnya melahirkan suatu wujud baru yang semakin sempurna karena ia telah melewati proses seleksi alam tersebut, dan akan terus berevolusi hingga mencapai bentuk yang tidak dapat kita bayangkan, dalam artian proses evolusi tersebut seakan tanpa tujuan karena terjadi begitu saja, serta peran sang pencipta pun akan menjadi nihil atau bahkan ia tidak pernah ada karena segala sesuatu terjadi hanyalah suatu kebetulan belaka.

Namun, kesimpulan yang ditarik oleh kalangan Darwinisme maupun Neo-Darwinisme mulai banyak ditampik oleh kalangan ilmuwan teistis, salah satunya adalah penulis buku ini, Keith Ward, seorang Guru Besar dalam bidang Ilmu-ilmu Ketuhanan dan Dekan pada Fakultas Teologi Universitas Oxford. Dalam buku ini Ward berusaha melawan interpretasi materialistik yang ada dalam dua teori yang sekarang sedang berkembang yaitu teori kosmologi kuantum dan pandangan teori evolusi Darwin tentang seleksi alam dalam kehidupan.

Ketika rezim Newton mulai tergeser dengan kemunculan teori relativitas Einstein yang menuai paradigma baru dalam Fisika, dari sini pula banyak lahir teori-teori baru khususnya yang berkenaan dengan keterciptaan alam semesta, antara lain teori kosmologi kuantum yang dipelopori oleh Werner Heinsenberg yang mengatakan bahwa peristiwa-peistiwa fisik yang terjadi merupakan kebetulan tanpa sebab karena pada skala terkecil semua yang terjadi adalah ketidakpastian (indeterminisme) atau secara garis besar pandangan ini menyiratkan bahwa alam semesta muncul dari ketiadaan.

Sebagai seorang teistik yang mengimani dengan keberadaan Tuhan sebagai pencipta, Ward kemudian berusaha mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan kemunculan alam semesta dan argumen-argumen yang begitu lugas untuk menampik pendapat kalangan Ilmuwan Neo-materialisme penyokong teori ini khususnya yang berkenaan dengan interpretasi materialistik yang terkandung di dalamnya.

Dengan tegas pula Ward memberikan argumen pemikiran tentang keberadaan Sang Pencipta sebagai akal kosmik yang telah mengatur setiap bentuk kehidupan dengan hukum-hukum yang ada. Karena, menurutnya, hanya dengan adanya Tuhan maka kita bisa memberikan argumen bahwa penciptaan ini memunyai tujuan, tidak seperti yang disebutkan dalam teori evolusi. Dalam buku ini pula Ward berusaha memberikan sebuah pandangan baru untuk memahami keberadaan Sang Pencipta itu sendiri melalui interpretasi ilmiah argumen-argumen berdasarkan logika yang valid.

Paling tidak, dengan membaca buku ini kita bisa lebih memahami arti dan tujuan penciptaan alam semesta juga keberadaan Tuhan itu sendiri yang wajib untuk kita imani, karena argumen-argumen yang diberikan tidak memakai bahasa dan istilah yang rumit untuk kita pahami tetapi berdasarkan realita empirik yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dengan sendirinya pula kita juga akan mengerti bahwa tidak ada pertentangan khususnya antara sains dengan agama sebagai dua sumber kebenaran.(M. Rahmatullah Arkam Mahasiswa Smt III Jurusan Akidah Filsafat Fakultas Ushuludin, IAIN SGD Bandung)***

0 comments:

Poskan Komentar